Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 September 2009

S2 Pendidikan Akhirat; Ada Beasiswa

Oleh Cecep Hasanuddin el-Sumatrani


Saya adalah orang yang suka dengan tantangan dan petualangan. Pernah suatu kali saya terpegok oleh salah satu teman saya, namanya Armagedon. Terkejut yang saya rasakan. Ada juga perasaan malu muncul. Tapi itu semua saya tepis jauh-jauh. Dan sampai sekarang pun, saya masih tetap konsisten dengan hobi saya. Berpetualang.

Entah mengapa, perjalanan hidup saya terasa santai dan ibarat air mengalir. Mulai sejak dari SD sampai sekarang. Hidup saya seperti itu saja. Sulit digambarkan. Saking sulitnya, tak kuasa menceritakannya. Kok bisa begitu,ya? Wah..saya pun akhirnya mengaku, bahwa saya memang sedang menulis apa yang terlintas dalam benak saya malam ini. Tentunya sambil dibarengi lagu dari grup band asal Bandung;Changcuter;I love you bibeh.

Jika diceritakan kisah perjalanan hidup saya, mungkin tak cukup waktu untuk diceritakan. Butuh waktu yang konsen dan full 24 jam. Masyaallah memang. Bahkan astagfirullah. Bisa juga innalillah. Begitulah. Bisa jadi bagi yang mendengarnya akan merasa bosan dan muak. Tapi, bagi saya itu merupakan nilai plus yang semestinya diapresiasi oleh siapa saja yang menghormati sebuah karya.

Taka ada lagi kata untuk berubah selain kita mengucapkan teruslah berkarya. Karena hidup tanpa karya bagaikan seekor burung tanpa sayap. Tak bisa terbang. Kering. Atau kata yang pas buat kita yang tidak sama sekali berkarya adalah tak ada semangat dalam hidupnya.

Hidup memang sebuah tantangan yang harus dihadapi oleh kita yang masih menghirup udara kebebasan. Bagi yang sudah di alam kubur, baginya tak ada tantangan sebagaimana di dunia. Tantangan di alam kubur paling banter menjawab pertanyaan Malaikat. Bagi yang kurang tepat dalam menjawab, ia gagal menuju pintu kebahagiaan. Dan beruntunglah bagi mereka yang cekatan menjawab. Ia akan merasa gembira, dan Tuhan pun ikut mengapresiasi atas jerih payahnya selama ini. Akhirnya, Tuhan juga memberikan kesempatan beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Tentunya setelah menyelesaikan pendidikan di dunia pana selama bertahun-tahun. Ada yang 70 tahun, 65 tahun, 50 tahun, 40 tahun, 30, 20, 19, dan bahkan ada yang 5 menit saja.

Jika lulus dan lolos pada sarjana dunia pana, maka berhak bagi Tuhan memberikan beasiswa untuk magister, atau dalam dunia akademiknya sering disebut S2. Ingat! Ini fasilitas Tuhan yang sangat gratis. Insyaallah tanpa tes TOEFL atau pun TOAFEL. Syaratnya tidak sesusah syarat-syarat mendaftar menjadi PNS. Ribet. Berbelit. Harus ini harus itu. Kalau beasiswa untuk pendidikan akherat, cukup menjawab beberapa pertanyaan dari Tuhan yang diamanatkan kepada malaikat Rakib-Atid. Beberapa pertanyaan itu akan diajukan kepada kita, nanti, di alam kubur.

Pertanyaannya sangat mudah. Tidak jauh dari kita dan Tuhan. Saya pun sangat yakin, beberapa pertanyaan dan jawabannya sudah bocor. Pertanyaan serta jawaban sudah ada dalam benak kita saat ini. Bahkan, saya berhusnudzon, seandainya saya ajukan satu pertanyaan saja kepada Anda sekarang ini, pasti, Anda dengan sangat lancar menjawabnya. Bisa jadi, jawaban Anda sangat berbobot dan kaya teori.

Juga perlu diketahui bersama, bahwa nanti, di alam kubur itu, tidak ada sama sekali pertanyaan eksak. Atau yang berhubungan dengan algoritma, akar pangkat, metalurgi, geologi, dan istilah-istilah yang membuat otak kita berkeringat. Tidak sama sekali. Jadi jangan merasa bingung tepat atau tidak jawaban kita nanti. Agar tepat sasaran jawaban kita, kita pun sesungguhnya sangat paham apa yang mesti kita persiapkan sejak saat ini sampai hari yang tidak ditentukan.

Dengan demikian, dengan waktu yang tidak ditentukan tersebut, maka ada banyak kesempatan untuk kita mempersiapkan segalanya. Bisa kursus di lembaga pendidikan ternama, mungkin, atau berusaha belajar secara otodidak. Karena tidak sedikit, para pendahulu kita, semisal ustad Aristoteles yang sampai saat ini, nama dan sumbangan ilmunya sangat dikenang. Dia bisa seperti itu karena belajar otodidak. Mendatangi kebeberapa guru yang ahli dibidangnya.

Bisa jadi, di dunia ini tak ada yang tidak mungkin. Kecuali memakan kepala sendiri. Orang yang belajar otodidak dengan sungguh-sungguh mendalami disiplin ilmu tertentu, mereka bahkan bisa mengalahkan orang yang belajar pada pendidikan formal. Baik itu dari segi intelektual, maupun segi yang lain. Bagaimanakah dengan kita? Akan lebih bijak jika jawaban itu disimpan sementara dalam memori kita. Karena bila dijawab sekarang, bisa jadi akan mengganggu apa yang sedang Anda baca sekarang.

Untuk S2 pendidikan akhirat, memang semua orang pasti sangat mengharapkannya. Apalagi, itu kan beasiswa.. Tuhan yang akan langsung mengurus seluruh administrasinya. Tuhan akan dengan tulus melayani semuanya. Belum lagi ditambah dengan plus-plusnya. Pokoknya sangat memuaskan. Kita akan diberikan, tentunya dengan gratis pula. Bebas mau berapa saja. Kita tinggal atur hati kita, mau satu, lima, atau terserah kita. Ya, kita akan dipersiapkan Bidadari-bidadari cantik. Cantiknya tak ada yang menandingi sebagaimana di dunia.

Selanjutnya, selamat mempersiapkan S2 untuk pendidikan akhirat.. Kesempatan itu terbuka untuk siapa saja. Dari golongan mana saja. Yang mengaku Muhammadiyah kah? NU kah? Persis kah? HTI kah? Jama’ah Tablig kah? NII kah? LDDI kah? Atau pun Ahmadiyah kah? Yang jelas, yang masih mengaku islam, yang masih salat dalam lima waktu sehari-semalam. Mereka pantas untuk mendapatkan beasiswa. Manusia tidak berhak menentukan siapa yang mendapatkan itu. Hanya Tuhan lah semua yang memutuskan. Sekali lagi, kita hanya berusaha ke arah itu.


Continue Reading...

Jumat, 24 Juli 2009

Menunggu Mood? Maaf, Bukan Prinsip Saya!

Oleh Cecep al-Sumatrani

Jangan menunggu mood. Kalimat itu yang sering saya ingat sampai sekarang semenjak saya membaca beberapa artikel yang berkenaan dengan motivasi menulis. Juga hasil beberapa diskusi bersama teman-teman satu komunitas kepenulisan. Memang benar adanya. Dan itu yang saya rasakan selama ini jika ingin memulai menulis.

Mood menulis, hilang sama sekali dalam benak saya. Dalam ketiadaan mood itulah saya manfaatkan untuk terus menulis. Dan menulis terus. Apapun jadinya, saya tak pernah berpikir ini jelek-bagus terlebih dahulu Mau panjang, atau pendek. Bagi saya itu tidak masalah. Yang masalah adalah jika saya tak menulis satu huruf pun. Apapun yang terlintas dalam pikiran, itu saya hantam. Saya tulis.

Saya menulis untuk detik ini, jujur, gak ada mood sama sekali. Awalnya,saya terus berpikir, mau menulis apa,ya? Dari pada berpikir lama dan lama mikir, saya akhirnya menulis apa yang sedang Anda baca ini. Sepertinya, ini yang akan saya tulis. Sebenarnya, sepulang dari kampus, saya melewati lorong-lorong jalan. Yang di kanan-kirinya komplek kos-kos mahasiswa.

Ketika asyik berjalan, saya melihat ada anak-anak sedang berkumpul dan bercengkerama sesama teman-teman sepermainannya. Dari obrolan mereka, saya hanya menangkap satu percakapan mereka. Atau saya sempat mendengar, ada ucapan yang diucapkan oleh salah satu dari mereka. Kalau tidak salah, berarti benar. Yang mengucapkan itu seorang lelaki. Kira-kira, jika ia sekolah, pantaran SD kelas 6.

Lelaki itu, sambil memanggil temannya pula.”Wey! Isuk tempo inbox,nya? Alus sia euy, aya mbah Surif!”. Itu kira-kira yang saya tangkap apa yang diucapkan ketika saya melewati sebuah lorong yang tak jauh dari kampus saya. Saya terus berjalan,meski kaki reot saya terasa ada yang berbunyi. Mungkin, ada yang lepas beberapa baut kaki. Sudah usang nampaknya. Perlu Anlene. He.

Bukan hanya berjalan yang saya lanjutkan, tetapi pikiran saya semakin liar semenjak apa yang telah saya dengar barusan. Apa pasal? Bukan pasal 28 ayat 1 dan 2. Bukan sama sekali. Tapi ada yang membuat saya iri dari obrolan anak-anak kecil tadi. Kok,iri? Boleh,ya iri? Bagi saya pribadi, iri untuk memotivasi sangat diperbolehkan. Bahkan, jika ada yang melarang pun, saya coba pikir-pikir dulu, mengikutinya, atau saya mengkaji terlebih dahulu.

Saking liarnya pikiran saya, sampai ke sana apa yang saya tulis. Yang membuat saya seperti itu, dan membuat saya menulis, adalah anak-anak tadi. Sekali lagi, anak-anak itu yang salah. Hingga, anak-anak itu jadi korban tulisan saya. Mudah-mudahan mereka tidak tahu, ternyata, percakapan mereka ada yang menyadap. Sepertinya, anak-anak itu kurang pengamanan. Mereka, di areanya tidak menggunakan CCTV. Jika mereka memakai, tak mungkin saya capek-capek menuliskannya. Beruntung lah saya, karena dari mereka saya tahu dunia anak-anak, serta apa yang mereka pikirkan dan inginkan. Begitukah Anda?
Tak banyak sebenarnya apa yang ingin saya tulis berkenaan dengan percakapan anak-anak tadi. Eh,sekedar berbagi info dengan Anda. Apakah Anda tahu, bagaimana saya menulis tulisan ini? Saya kira Anda belum tahu, karena memang belum saya beri tahu. Saya menulis tulisan ini, menurut saya sangat enjoy. Seenjoy Anda membaca tulisan ini. Saya menulis, sambil ditemani Hock Guan Rose Cream Biscuits dan lagu-lagu yang sedang booming saat ini. Misalnya, Tak Gendong-nya mbah Surif, KCB-nya Melly, Muhasabah Cinta, dan sesekali mengenang bintang pop dunia yang baru saja dimakamkan. Dimakamkannya pun, katanya, tanpa otak. Atau lagu-lagu yang dikira bisa menyejukkan hati. Apakah lagu-lagu Jacko menyejukkan hati? Bisa ya, bisa juga tidak. Tergantung siapa kita.

Dengan cara seperti itu, yang tadinya menulis itu sebuah beban, kini beban itu berubah menjadi ringan. Bahkan mengasyikkan. Ini pun tidak bisa dinikmati bagi kita yang belum mencoba. Hindari,kata-kata, bahwa menulis itu sulit jika belum menceburkan dalam kubangan menulis. Itu yang saya rasakan. Bila saya merasa bingung apalagi yang ingin saya tulis, saya berhenti sejenak. Sejenak saja. Kalau bisa hindari terlalu lama. Waktu sejenak itu, saya manfaatkan untuk menikmati Rose cream Biscuits. Dua-tiga potong Biscuits tak tersisa. Setelah itu, saya pun tidak tahu, secara ajaib, kata-kata yang ingin saya tulis muncul kembali. Ya, bisa jadi semacam ilham lah. Insyaallah bila kita mencobanya, ia akan mengalir.

Semakin asyik menulis semakin sulit bagi saya mengakhiri tulisan ini. Anda pun semakin sulit memalingkan mata Anda untuk berpindah dari membaca tulisan saya. Dan, sebenarnya, saya pun turut berterimakasih kepada Anda atas bersedianya Anda membaca tulisan saya. Jika kita plasback kepada obrolan anak-anak di muka, ternyata anak-anak lebih peka terhadap perkembangan zaman. Terutama dalam dunia musik. Mereka pasti sangat hafal lagu mbah Surip. Juga mungkin lagu yang lain. Bagaimana tidak hafal, hampir setiap hari, kita, yang mempunyai pesawat televisi pasti akan disuguhi acara musik. Ada Dahsyat, Dering, Inboxs, dan nama yang lain yang menyuguhkan acara live musik.

Saya pun tidak tahu, mengapa anak-anak di zaman saya, mereka kurang menyukai lagu-lagu yang pantas buat mereka. Atau cocoknya, lagu itu buat remaja-dewasa. Tapi anak-anak menyukainya. Itu kira-kira apa yang terlintas dalam benak saya ketika melewati kerumunan anak-anak di komplek kos. Saya juga, pada akhirnya memuji anak-anak itu karena mereka, ternyata lebih tahu apa saja yang sedang hangat di televisi. Saya hanya berdo’a, mudah-mudahan keingintahuan anak-anak itu tidak sebatas acara musik saja. Tapi lebih dari itu yang sekiranya mendukung prestasi akademik di sekolahnya. Perkembangan berita dunia, berita pendidikan, atau bahkan, anak-anak tahu tidak bahwa kita telah melaksanakan pilpres.

Saya tidak menganggap ini sebuah tulisan serius. Begitupun dengan Anda. Ini hanya semacam ekpresi saya ketika saya tidak sedang mood menulis. Namanya juga sedang tidak mood, maka isinya pun tak jauh dari yang saya rasakan. Atau ini hanya sebuah goresan tak bermakna bagi Anda. Tapi bagi saya, ini sebuah anugrah yang tak terkira. Karena saya bisa menulis bebas tanpa terikat oleh apapun. Saya pun yakin, Anda lebih berkompeten dalam dunia yang sedang saya geluti ini. Dalam tulisan ini pun saya membuat kesalahan, saya tidak akan memohon maaf, sebab rasanya lebih berguna bila saya mohon Anda memperbaikinya.
Continue Reading...

My first Dream

Oleh Hasan al-Sumatrani

Tiba-tiba saya bertemu dengan salah satu teman saya. Dia teman satu kuliah. Namanya Ihsan. Perawakannya tinggi kurus serta memakai Kacamata. Teman-teman satu kelasnya sering menyebut si-HTI. Karena memang, Ihsan seorang aktivis Hizbul Attahrir Indonesia, wilayah Bandung. Ia juga aktif di organisasi yang ada di kampus. LSPI kalau tidak salah. Lebih panjangnya, Lembaga Studi politik Islam. Organisasi itu, ideologinya lebih dekat dengan HTI. Yang saya tahu, saya sering membaca selebaran LSPI yang sering ditempel di mading kampus. Isinya, memang tidak jauh dari ajakan pada penegakan syariat islam di Indonesia. Dan sering pula, dalam tulisan-tulisannya, menyebut bahwa, pendidikan kita, pendidikan Indonesia, disebut sebagai, atau menganut sistem kapitalisme. Saya pun sedikit tahu, bahwa mereka, para aktivis HTI itu, terutama dalam pemilu, mereka pasti tidak memilih. Alias golput.

Saya dalam tulisan kali ini bukan hendak menceritakan tentang HTI-nya, tapi saya ingin menceritakan sedikit mimpi tidur saya. Tentunya hanya yang saya ingat saja. Yang tidak teringat, tidak akan saya tulis. Karena kata Ernest Hemingway, beliau seorang cerpenis dunia yang beberapa kali mendapat hadiah Nobel. Tentunya karena karya yang menyelimutinya. Katanya, jika ingin pandai dalam menulis fiksi, maka tulislah mimpi-mimpi kita yang kita alami ketika tidur. Mimpi ketika tidur, adalah dunia imajinasi. Mimpi itu terkadang aneh, tidak nyambung bahkan sering menemukan-menemukan keganjilan.. Itu uniknya mimpi. Jika bisa menuliskannya setiap hari apa yang kita alami ketika mimpi, maka setengah berhasil kita bisa berimajinasi. Untuk selanjutnya, kita menjadi penulis fiksi sejati.

Nah, malam tadi, saya sempat bermimpi. Mimpinya agak aneh. Yang ada dalam mimpi itu, ya dia, Ihsan. Waktu itu, kira-kira agak sore. Langit terlihat berawan hitam dan ditemani rintik hujan. Saya pun agak sedikit basah kuyup. Tepatnya di jalan Manisi, dekat tanjakan kantor kecamatan Cibiru. Saya melihat, tiba-tiba jalan Manisi yang tadinya beraspal hitam, kini menjadi seperti sungai. Awalnya, airnya tidak begitu deras, Biasa saja. Namun, selang beberapa menit, saya sambil ketakutan dan terkejut. Air sungai itu meluap. Persis seperti banjir di Baleendah. Sedangkan di pinggir sungai yang sedang meluap itu, Ihsan dan seorang perempuan sedang asyik bercengkrama. Posisinya, perempuan itu duduk sambil tangannya memegang kakinya. Sedang Ihsan berdiri. Perempuan itu berjilbab. Rambutnya agak sedikit terlihat. Warna jilbabnya kecoklatan. Lusuh. Ihsan memakai baju koko kehitam-hitaman, pake tas hitam pula. Tak lupa, bertengger kacamata khasnya. Dillihat dari samping, mirip seperti artis yang menyanyikan lagu”Terima Kasih Cinta”. Afgan.

Waktu itu, tangan Ihsan melambai tanda menyuruh si perempuan yang ada disampingnya untuk beranjak dari sana. Mengingat, karena mereka sedang berada di pinggir sungai dan airnya semakin tidak menentu. Beberapa menit lagi meluap..Meluber.”Cepat pindah dari sana!” Ujar Ihsan sambil sedikit riweuh. Mendengar panggilan dan ajakan itu, perempuan tadi hanya terdiam dan berujar.”Aku mau tetap di sini saja, tinggalkan aku segera!”.

Ihsan hanya melongo mendengar jawaban seorang perempuan yang tak jelas siapa sebenarnya dia. Selang beberapa detik, kontan saja, air yang tadinya tenang, kini berubah wujud menjadi beringas dan membabi buta ke sekitar rumah penduduk. Setelah itu, tak tahu lagi. Tiba-tiba, berubah ke latar yang berbeda. Di jalan yang tadinya penuh dengan air melimpah, kini, air itu entah kemana. Di jalan beraspal itu hanya meninggalkan tetesan-tetesan air saja ditemani sebuah mobil Truk warna kuning. Lalu, di kanan-kirinya ada sawah yang belum ditanami padi.

Selanjutnya, saya hanya melihat bayangan hitam. Begitulah kira-kira apa yang saya alami ketika berada di alam mimpi kemarin malam. Banyak sekali yang saya lihat dalam mimpi itu, tapi, apalah daya, saya sangat lupa. Benar-benar lupa. Mimpi yang aneh....

My Second Dream

Entah suara dari mana, tiba-tiba saja ada yang berkata,”Nanti, bila SBY menang jadi presiden, yang akan jadi menteri Komunikasi Informasi adalah saudara Rizal Mallarangeng”. Secara spontan juga, ternyata ada yang menimpali kalimat di atas. Yang menimpali atau menjawab itu datang dari salah seorang fungsionaris PKS. Entah siapa namanya. Dari perawakannya, agak gendut, berjenggot agak keputihan, dan sambil senyum. Bertengger di kepalanya peci warna. Tak begitu jelas apa warnanya. Dilihat dari umur, kira-kira 45 tahunan.

Bayangan Rizal pun ada di sekitar itu. Dia tak menampakkan senyum sama sekali. Yang ada hanya memperlihatkan wajah kesinisan. Tak tahu lah. Di tengah kesinisan yang menyelimuti Bung Rizal, fungsionaris PKS tadi langsung mengeluarkan argumen ketidaksetujuan saudara Rizal diangkat menjadi menteri Komunikasi jika SBY jadi presiden. Kata si PKS itu,”Wah..saya tidak setuju bila saudara Rizal diangkat jadi menteri Komunikasi, berbahaya. Liat saja trace recordnya ketika masa-masa kampanye. Banyak sekali ungkapan-ungkapan atau pernyataan beliau yang mengundang kontroversi masyarakat”. Kilah fungsionaris PKS itu.

Setelah kalimat yang begitu panjang diucapkan oleh orang PKS itu rampung, untuk selanjutnya, bayangan Menkominfo yang sekarang pun muncul. Ya, Muhammad Nuh. Dengan senyum khasnya, beliau(M.Nuh) yang juga mantan Rektor ITS(bila tak salah) itu, hanya terdiam dan sedikit menyunggingkan wajah ikhlas.. Memang seperti itu lah keadaannya. Tak ada yang ditambah atau dikurang. Yang ada hanya lupa, apa lagi yang akan diceritakan.

O, iya. Kejadian ini terjadi di dekat jalan OTISTA. Tepatnya pas sekali dekat simpang mau ke masjid Agung Bandung. Tak jelas, siang atau malam kejadiannya. Jam berapa pun, tak diketahui. Yang jelas, tidak sedang hujan.

Ya, masih ingat. Fungsionaris PKS tadi melanjutkan ocehannya. Dengan mengatakan,”Dari pada saudara Rizal yang menjadi menteri Komunikasi-Informasi, mendingan kamu saja,Cep!, Rizal itu orangnya gak bener, gak bisa menjaga lisan. Sama seperti kakaknya!”. Dari kejauhan, tampak si Cep senyum-senyum terkejut. Mungkin karena ada tawaran menjadi menteri. Dan, orang-orang yang ada di sekitar kejadian itu, mereka hanya tertawa.

Tak ada lagi kelanjutan cerita di atas. Yang muncul selanjutnya adalah wajah seorang laki-laki. Laki-laki itu diketahui bernama, wah, panjang sekali namanya. Seandainya saja yang muncul itu bukan teman lama, sungguh tak sudi untuk menuliskannya. Apalagi, namanya terlalu panjang. Bisa-bisa nafas tersenggal bila menyebutnya. Yosso Widiantoro Eko Saputro. Disingkat YWES. Ampun,ya...Allah. Singkatannya saja udah panjang. Yang jelas dia bukan orang Padang, Rejang, Prancis, Arab, Bengkulu. Apalagi Sunda. Sangat jauh. Jauh sekali. Ibarat antara Langit dan Bumi. Entah lah, orang mana dia. Ujung hurufnya”O” semua.

YWES itu teman ketika di Mts Raudhatul Ulum, Sakatiga, OKI, Sumsel. Malah pernah sekamar pula. Setelah tamat dari Raudhatul Ulum, ia tak melanjutkan di sana. Alasannya, ingin menghirup udara kebebasan. Ingin bebas pacaran. Pokonya sebebas namanya yang panjang itu. Kemudian, tak sengaja, bertemu juga di MAN Model. Eh..sempat sekelas pula. Ternyata dunia ini sungguh sempit. Dia lagi, dia lagi. Tapi, tak ada kebosanan bila bertemu dengannya. Ada saja celotehan dan humor yang keluar dari mulutnya. Bila mendengar guyonannya, susah sekali menutup mulut ini. Inginnya tertawa. Mungkin saja itu bagian dari pengusir kepenatan.

Ketika di MAN Model, Eh, MAN Model itu ada di Bengkulu. Di kota lho. Sekolah Favorit warga kota Bengkulu dan warga dari luar Bengkulu. Tepatnya, di jalan Cimanuk. Wah, nama jalannya mirip daerah yang ada di Jawa Barat. Warga Cimanuk, tahu gak, ya arti Cimanuk itu sendiri? Jangan-jangan...udah tahu...he..Ya, ketika di MAN, tepatnya kelas tiga, ada informasi bahwa ada pendaftaran formasi CPNS untuk Pengadilan Negeri Bengkulu. Berbekal info itu, Yosso dan juga teman-teman lain akhirnya mencoba mendaftar untuk jadi PNS.

Persyaratan pun dipersiapkan. Mulai dari foto, ijazah terakhir, Kartu Kuning, SKCK, Kartu Keluarga, dan lain-lain yang dianggap perlu.. Ijazah terakhir?? Dia kan belum lulus dari MAN Model? UAS saja belum. Lulus atau tidaknya pun belum diketahui. Apalagi, waktu itu, standar nilai harus 3,00. Kurang dari itu, terpaksa harus ada pendalaman materi lagi. Tapi ternyata, dilihat dari syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pendaftar di Pengadilan Negeri Bengkulu, minimal berijazah SMP,SMA atau yang sederajat.

Dengan memberanikan diri, Yosso, tentunya berkat dukungan orang tua dan teman-teman sekelas, akhirnya memakai ijazah Mts Raudhatul Ulum. Setelah semua persyaratan mencapai sedikit 100%, berangkatlah ia bersama teman-teman yang lain yang juga ikut mendaftar. Dag-dig-dug jantung mereka berdetak. Keringat pun ikut membanjiri tubuh-tubuh mereka. Sesekali mengusap dahi. Tapi, air asin itu tak kunjung berhenti. Terus mengalir. Hawa Bengkulu memang panas. Tak beda jauh dengan karakter orangnya. Keras suaranya. Lembut hatinya.

Jika tak salah, hari itu, Senin tahun 2006. YWES serta rekan-rekan lain mulai mengikuti tes tertulis di sebuah gedung besar. Gedung terbesar di provinsi Bengkulu. Mungkin. Balai Buntar namanya. Gedung itu dekat sekali dengan sekolah MAN Model. Cukup 7 menit dengan marathon. Wah, di dalam gedung itu bertumpuk ribuan orang yang sedang mencari peruntungan menjadi PNS. Dari berbagai daerah. Bukan hanya dari Bengkulu. Tapi dari luar Bengkulu. Dari berbagai suku, ras, mungkin etnis. Ada yang tampan, sedikit tampan, kurang tampan, cukup tampan, boleh lah tampan, mirip-mirip tampan, dan juga tak ada sebutan “tampan” sama sekali.

Ada yang cantik, seperti cantik, kelihatan cantik, gak ah gak cantik, ayu, manis, hitam-manis, hitam-hitam. Ah, pokoknya warna-warni. Ih....Untung saja, saudara Yosso dan teman yang lain termasuk”mirip-mirip tampan”. Sehingga, banyak dari sebagian peserta yang lain mendekatinya. Tujuannya, tidak lain hanya untuk sekedar bertanya dan meminta.”Nanti, kalau sudah mulai mengerjakan soal, jangan lupa,ya kasih tahu kami,”. Ujar mereka yang mendekati YWES.

Kira-kira sebulan kemudian, pengumuman hasil tes PNS di Pengadilan Negeri Bengkulu pun diumumkan melalui koran kebanggan masyarakat Bengkulu. Ya, melalui harian”Rakyat-Bengkulu”. Di sana terpampang nama-nama yang lulus, berikut nomor ujiannya. Kontan saja, ketika YWES baru saja kering dari berdzikirnya, karena memang lima menit yang lalu sudah salat Dhuha di masjid sekolah. Biasa, ritual yang rutin dilakukan oleh anak-anak MAN Model, terutama kelas 3 bila mendekati UAN. Pak ustad itu (YWES) pun terkejut dengan kabar yang diberitahu oleh salah satu teman..Hasan.”Yos, namo kau ado di koran”RB”. Tapi idak tahu, lulus apo idak, kau tengok ajo di ruang BP”. Ujar Hasan yang kentara sekali bahasa Bengkulunya.

Antara percaya tidak percaya, kini menyelimuti pikiran Yosso. Terus berkecamuk. Hatinya pun tak menentu. Tangannya ikut bergetar. Bicaranya tak lagi jelas.. Gugup yang ada. Ketika ingin memasang sepatu saja, di pintu masjid, eh...lupa, masjid MAN Model tak berpintu dan tak berjendela. Hampir saja salah masuk. Sepatu kiri dimasukkan ke kaki kanan, dan sepatu kanan, dimasukkan ke kaki kiri. Wah, busyet dah.”Ayo, san, antar ambo ke ruang BP. Malu ambo sendiri,”. Begitu kata YWES kepada Hasan. Nampak juga sedikit logat Jawanya.

“Eh, Yosso, selamat,ya, kamu lulus. Beruntung kamu, teman-teman yang lain belum berkesempatan lulus, mungkin nanti lah.” Kata ibu guru bahasa Indonesia itu.”Itu na, tengok di koran tu, cocok dak kek namo kau dan nomor ujiannyo” Ibu itu menambahkan. Dengan sedikit agak malu-malu dan disertai senyum merekah, akhirnya, Yosso pun buka mulut. “Ya, Bu, makasih,” Sambil koran yang di atas Meja itu dilahapnya. Setelah mencocokkan, menimbang, mencermati dan seterusnya, selanjutnya, Yosso dinyatakan LULUS! Kegembiraan pun kembali menyeruak dalam hati pribadi YWES. Ternyata, berguna juga ijazah pesantren. Kirain tak berguna. Makasih Tuhan, makasih Raudhatul Ulum, makasih orang tua, makasih guru-guru MAN Model, dan juga tak lupa, makasih teman-teman semua. Terutama sekali,makasih kepada pihak Pengadilan Negeri Bengkulu yang telah sempat meluluskannya. Karena memang, dari 400 orang yang mendaftar di PN Bengkulu, hanya diterima 10 orang. Termasuk yang mempunyai nama terpanjang di MAN itu.

Semuanya kembali menghitam. Tak terlihat. Kabur entah kemana. Rizal Mallarangeng, fungsionaris PKS, M.Nuh, jalan OTISTA, Yosso widiantoro Eko Saputro, serta MAN Model. Semuanya ter-delet oleh suara-suara mengaji di sekitar kos. Beberapa menit kemudian, sayup kumandang adzan masuk telinga kanan, dan keluar lagi melalui telinga kiri. Tapi, bangun juga.
Continue Reading...

Selasa, 30 Juni 2009

Saya Pun Tak Tahu Judulnya

Oleh : Hasan el-Sumatrani

Saya sedang dilanda malas untuk berbuat sesuatu. Apalagi menulis. Entah apa yang terjadi pada saya saat ini. Kenapa jiwa ini terasa hampa dan sepi untuk melakukan apa saja. Termasuk menuangkan ide. Tak ada semangat sedikit pun yang saya rasakan sekarang. Yang ada, pikiran terus melayang, itu pun sangat bebas, entah kemana. Hidup ini terasa sendiri. Tak ada apa-apa, kecuali saya seorang diri. Di tengah kesendirian dan kehampaan hidup, saya mencoba menghidupkan komputer. Setelah hidup, beginilah akhirnya. Rasa kekesalan pada hidup, saya tumpahkan begitu saja pada komputer ini.

Saya malas berpikir untuk menulis apa. Otak saya tidak mau terkekang oleh pikiran-pikiran bagaimana menulis berbobot. Yang ada di dalam otak saya hanyalah ingin menulis apapun. Meski saat ini, saya sedang mengidap suatu penyakit yang berbahaya. Sangat berbahaya jika tidak diobati. Malas yang sedang saya idap sekarang. Penyakit yang membuat orang semua di dunia ini mati. Ya keduanya akan mati perlahan. Baik itu fisik atau rohani.

Untuk selanjutnya, saya pun kembali bingung dengan apa yang akan saya tulis berikutnya. Apa lagi, ya? Hai..ide datang lah padaku! Tak muncul-muncul. Apa yang harus saya lakukan selanjutnya? Mematikan komputerkah? Atau terus menulis? Batin saya mengatakan,”Lanjutkan menulisnya!!” Apa yang akan saya tulis? Aduh…saya telah kehabisan amunisi. Tapi biarlah, saya akan gunakan amunisai yang tersisa. Beginilah keadaan saya ketika dilanda malas. Malas sangat membuat saya menjadi malas untuk berbuat sesuatu. Kecuali, komputer ini saya lakukan dengan tidak semena-mena. Saya mencoba memperkosanya, hingga lahirlah deretan anak-anak saya. Meski lahir dengan prematur. Itu sangat lah wajar, karena saya melakukannya bukan dengan jalan halal. Dengan pemaksaan. Biasanya, jika yang namanya pemaksaan, akan merasa sakit dari kedua pihak.

Meskipun saya merasa sakit ketika memperkosa, tapi saya semakin asyik melakukannya. Terkadang lelah, lemas ,juga menghampiri saya saat itu. Keringat pun tak luput dari muka saya. Ketika mencapai puncak, semangat saya menurun, bahkan tak keluar sedikit pun. Susah memang, namanya juga memaksa. Memaksa untuk segera keluar. Jika tak seperti ini, kapan saya akan mengeluarkan. Biasanya, setelah saya melakukan hajat saya, saya merasa senang dan tak ada lagi beban. Anehnya, saya tak pernah memikirkan akibat yang telah saya lakukan. Apakah berakibat buruk atau sebaliknya. Tak pernah sama sekali. Buat saya, memikirkan apa yang telah saya perbuat adalah semakin membuat saya malas berbuat sesuatu.Bisa jadi, saya pun akan kehilangan semangat. Yang lebih parah, saya bisa saja bunuh diri.

Sekali lagi saya tegaskan. Saya tak pernah menyesal dengan apa yang telah saya lakukan. Memperkosa sekalipun. Sebagai informasi, bahwa saya sudah memperkosa berkali-kali. Tempatnya pun bervariasi. Di antara tempat yang sering saya gunakan sebagai pelampiasan nafsu saya adalah; Masjid Iqomah, Perpustakaan, Kos, Sekre, Rumah, dan tempat-tempat sepi yang jarang dilalui banyak orang. Hari ini pun saya kembali melakukan pemerkosaan. Entah keberapa kalinya. Tak terhitung. Mungkin ini yang disebut sebagai “ketagihan”. Tapi saya merasa belum puas dengan apa yang saya lakukan. Yang saya lakukan selama ini hanya sebatas memasukkan, tanpa mengeluarkan. Saya ingin sekali sampai penetrasi. Tapi, nampaknya belum sampai di situ. Mungkin saya harus lebih agresif, dan terus memasukkan.

Terkadang saya pun kurang untuk bersabar. Padahal, sekian banyak buku tentang teknik memperkosa telah habis saya baca. Bahkan saya hafal. Namun, hasilnya masih belum signifikan. Harus apa saya? Haruskah saya berhenti memperkosa?

“Tiada yang lain”. Tiba-tiba, secara mengejutkan, saya teringat kata itu. Kata itu adalah sepotong larik lagu dari”Tirai”. Tirai adalah nama sebuah Band religi besutan salah satu aktivis IMM komisariat UIN Bandung. Sungguh, dengan kata itu, saya kemudian langsung terinspirasi untuk melanjutkan sebuah misi suci. Misi suci itu tiada lain adalah melanjutkan apa yang selama ini saya lakukan. Memperkosa. Sampai menyebabkan hamil.

Saya pun tidak tahu lagi apa yang akan saya tulis selanjutnya. Mungkinkah saya telah puas? Sudah sampaikah saya penetrasi? Entah lah. Apapun yang akan melintas di otak saya, saya akan langsung menuliskannya. Sekali lagi. Tentang hal apapun. Dan sepulgar apapun. Pokoknya, bebas. Seperti kebebasan seekor Burung yang baru lepas dari kandang buatan manusia. Juga sebebas berpikir mas Ulil Absar Abdala. Begitulah saya menulis untuk saat ini, dan saat-saat selanjutnya. Do’akan saja.

Saya memperkosa dengan cara saya. Mau dari arah mana saja. Itu pun terserah saya. Bebas. Saya ingin kebebasan. Karena saya yang melakukan. Karena saya yang merasakan. Adapun Anda, sebagai pembaca, tak ada tugas sama sekali. Selain membaca dari awal tulisan saya sampai akhir. Mengenai penilaian baik-buruk, kurang ini-itu, sebaiknya begini-begitu, dan hal lain yang mengganjal Anda. Itu semua hanya boleh disampaikan ketika saya bertemu Anda langsung. Dan bukan di dunia cyiber. Bagi saya, berkomunikasi di dunia maya bukanlah jalan satu-satunya. Apalagi seperti sekarang, mendekati bulan tua.

Kok, jadi kesana, ya..? O iya kan bebas. Sebebas air mengalir. Jika ada kelokan, air yang berpuluh-puluh kubik itu pun ikut berbelok. Air tak pernah membantah. Kecuali sang Maha pembantah akan membantahnya. Juga sebebas Imam Samudra cs menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Terutama ayat-ayat mengenai jihad. Sebenarnya tak ada sama sekali hubungannya Imam samudra dengan tulisan saya. Tidak sama sekali. Tapi karena yang melintas dalam otak saya Imam samudra, apa boleh buat. Saya harus menuliskannya. Minimal, keluarga Imam Samudra merasa senang dengan Ia ditulis oleh saya. Meskipun, katanya, Imam samudra sudah terkena Timah panas-nya tim Brimob. Terlepas, Ia masuk Surga atau Neraka saya kurang tahu. Bukan kurang tahu, tapi memang saya tidak tahu. Itu urusan Tuhan saya, dan mungkin juga Tuhan Anda. Atau lagi-lagi, mungkin Anda tidak punya Tuhan?

Aduh, ternyata tak sulit menulis bebas. Mau jadi apa tulisan saya, itu terserah. Artikel, esei, cerpen, curhat, memoar, biografi, refleksi.. Sekali lagi saya tidak tahu. Yang jelas, tulisan saya ini bukan Puisi. Bila saja ada yang mengatakan tulisan saya ini sebuah puisi atau kumpulan puisi, maka orang itu wajib hukumnya bertemu dengan saya. Kita silaturahmi. Dan, berujung dengan saling tukar nomor Hp, juga saling memberikan masukan tentang tulisan saya.

Sudah saya katakan sebelumnya, bahwa saya ini sedang menulis bebas. Boleh dikatakan, saya ini menulis dengan tidak taat pada aturan menulis. Atau sebutan yang lebih exstrim buat saya sekarang adalah saya sedang melakukan pelanggaran kelas berat dalam dunia tulis-menulis. Itu hanya sebuah kemungkinan dari saya yang tidak tahu aturan menulis. Tapi, kata”enjoy” adalah pas buat saya. Saya juga belum tahu, apakah ada orang yang sama dengan saya. Mereka menulis bebas seperti saya. Saya kira ada. Jika tidak ada, tak mungkin para penulis hebat itu kini melanglang buana di jagat ini. Karena menulis bebaslah, mereka mendapat kebebasan.

Saking bebasnya, mereka sangat terkenal. Namanya harum di seantero dunia. Ya, terkenal dengan tulisan bebasnya. Terkenal dengan karyanya. Mereka juga sangat dikagumi oleh para penggemarnya. Karyanya juga dinilai membebaskan umat menusia dari berbagai keterpurukan. Karyanya menggugah jiwa serta pikiran pembaca. Karya seperti inilah yang mungkin sangat diharapkan oleh umat dunia.

Jangan salahkan saya, saya mohon sekali lagi. Saya hanya mencoba menuliskan apa yang terlintas di dalam otak saya. Apa adanya. Mungkin, untuk saat ini, itulah kira-kira isi otak saya. Hanya sedikit. Sebenarnya masih banyak, tak terhitung. Tapi, mereka masih bersembunyi, masih enggan keluar. Mungkin juga masih segan dan malu. Suatu saat, saya percaya, mereka akan keluar semuanya. Semoga.
Continue Reading...

Minggu, 28 Juni 2009

Dosen Aneh

Oleh Riki Ahmad

Kemarin-kemarin saya mungkin banyak membuat tulisan yang berbentuk cerita tentang diri sendiri. Buat sekarang, saya tidak punya cerita yang membuat semangat menulis. Tapi, saya berusaha supaya tidak membuat pikiran saya tumpul.

Hari ini cukup memuaskan bisa masuk kuliah, setelah hari kemarin pulang karena terlalu cepat mengambil keputusan pulang, padahal tidak begitu bahaya yang terjadi sebenarnya. Tapi apa boleh buat namanya juga utusan dari atasan ya nurut aja biar gak kena kartu kuning. sebenarnya kecewa pas waktu pulang ternyata keadaan jauh berbeda dari yang dipikirkan (baik-baik saja), yang membuat saya terinsfirasi untuk nulis sedikitnya dapat dorongan dari salah satu orang yang sudah bergelut dengan dunia tulis-menulis tambah lagi hobi dari kecil saya suka menulis cerita di dairy, eh lupa yang mau ditulis sekarang tentang dosen UIN yang aneh (aneh banget) mungkin tujuan dari rumah asal berangkat bukan ingin gamalin ilmu malah membaut kecewa dari seharusnya tidak begitu, lebih jelasnya lagi begini..... saya masuk jam 10.20 hari tadi saya berangkat dari rumah (garut) langsung pergi mengajar beres mengajar denagn terburu-buru langsung pergi kle kampus untuk mngikuti kuliah yang pada hari tadi ada dua mata kuliah, pas nunggu lama akhirnya dosen pun kelihatan batang hidungnya lalu masuk kekelas yang sudah di sediakan denagn susah paya mencari ruangan kosong. kuliah pun dimulai dengan basa-basi dosen (galer-kidul teu puguh) akhirnya kelompok pertma yang harus maju mempersentasekan hasil kelompoknya-mungkin karena ini saya jadi kesel sama dosen- berhubung anak-anak kelompok pertama belum lengkap malah makalahnya belum beres.

Seharusnya ada inisiatif dosen agar waktu untuk mencari ilmu gak percuma keinginan saya agar dosen memberikan materi yang seharusnya kelompok pertama yang menjelaskan. bisa disebut makan gaji buta gisi absen hadir dosen langsung pulang enak banget, kuliah pertama yang saya dapatkan hanya kata siapkan kelompok kedua minggu besok udah aja gitu, ditambah kesel lagi sama dosen yang kedua dilihat karena tidak menguasai materi hingga akhirnya jatah waktu gak terpakai cuma 1/3 saja coba bayangkan banyak cari enak jadi dosen dan tidak memberikan kontribusi buat mahasiswa-mahasiswi... mungkin itu yang awalnya saya tidak tahu apa yang harus saya tulis,,, terima kasih

Continue Reading...

Selasa, 16 Juni 2009

Kepiluan

Oleh Riki Ahmad
siapa yang tahu akan hari esok, ada pepatah mengatakan sesuatu yang paling jauh dari kita adalah masa lalu, kesedihan pasti berbarengan dengan kesenangan orang yang benci pada kita, apalah guna kita memarahi diri, kesalahan bukan suatu impian yang diinginkan oleh setiap orang tapi mengharapkan perbaikan yang menjadi diri berusahan melihat kedepan bukan kebelakang,, sekarang kesenagan hadir dari bentuk yang lain mungkin bukan yang direncanakan buat kita tapi jangan menghindari dari kesalahan, N Q minta maaf waktu hari rabu pagi Q buat N bukan tenang tapi makin sedih semakin sedih setelah ditinggalkan HP yang awalnya N gak mau-bekas kaka- tapi Q gk bisa memberikan HP baru, yang pasti Q juga sedih karena musibah kena ke diri N, tabah ya.... Q ingin hari N bukan kesedihan yang meciptakan tetesan air mata, karena sangat berarti setiap butiran air yang tercipa dari keajaiban,,, senyuman yang pasti membaut N bangun dari yang tidak seharusnya memikirkan kesedihan biarkan saja kesediahn hanya lewat di diri N, Q dari sekarang ada sisi yang bukan lagi Q yang dulu tapi pasti setaip perubahan membuat kebaikan dan keburukan,,, kebaikan Q selalu berpikir positif buruknya terlalu berlebihan untuk merealisasikan cinta. N maaf Q ya...... N yang Q sayang, hari ini bukan hari sial tapi ujian yangmesti dijalani dengan kesabaran bukan kebinggunagn penantian dari yang pasti tidak akan terjawab, kembalikan diri N pada yang seharusnya gak harus,, lebih dekatkan lagi kejauhan diri kepada sang maha perkasa.... kepengen mah mainggu ketemu tapi kalau gak tersisa waktu baut Q ya gak membuat Q sedih banget tapi Q kangen pengen tau fisik N setelah banyak nasehat yang seharusnya dijalankan tapi sedikit yang dikerjakan jadi akibatnya banyak penyakit baut N sakit,,, berat badan N menurun bukan bertambah.... uadah dulu ya..
Continue Reading...

Kenangan

Oleh Riki Ahmad

Bulan ini bnayak orang kesana-kesini kebingungan bagaimana dengan memberikan sesuatu dihari yang satu tahun sekali sebagai bagian bukti untuk membuktikan sayang dibulan dimana setiap pasangan menunggu kejutan dari pasangannya sangat senanglah punya pasngan yang mengerti berbeda dengan saya riki ahmad yang sekarang ini sedang duduk dibangku kuliah semester VII dengan jurusan Muamalah, apa yang dirasakan bukan hanya keistimewaan Valentin, tapi udah ampir 1tahun dalam megarungi bahterai hubungan yang begitu indah tidak tanpa disadari melewati cuma dengan mengandalkan kepercayaan dari mulai hubungan dengan jarak jauh antara bandung-tasik (jauh banget...............) tapi dirasakan cuma jauh dari jarak saja
Continue Reading...

Ari Gak Bisa Nulis

Oleh Ari Aryanti

Duh, pusing juga waktu Dasam minta tulisan sama Ari. Ari, kan gak bias nulis. Tapi karena Dasam yang minta, ya harus bagaimana lagi, Ari harus memenuhi permintannya. Kalau bukan Dasam yang minta mah Ari juga ogah.

“Kenapa Dasam minta tulisan Ari harus memenuhinya?” pasti itu pertanyaan teman-teman IMM—barangkali.

Sebetulnya Ari mau nulis, bukan keran Ari cinta sama Dasam—ih sama sekali bukan—tapi, karea Dasam gak henti-hentinya kasih Ari motivasi buat nulis, bahkan Dasam sampe bikinin Ari tulisan. Kalau lihat orang seperhatian itu, kan Ari juga malu. Makannya Ari nulis.

Mudah-mudahan aja ya, tulisan Ari gak ada yang ngejelek-jelekin. Kan, Ari malu.
Eh, ternyata menulis itu asyk juga, lho. Bayangin aja, kita bisa berbagi ide dan pemikiran sama teman.

Emang sich, Ari gak bisa nulis seperti Kang Sukron, tapi kalau terus berusaha pasti bisa. Betulkan?... hehehe
Continue Reading...
 

e-Buletin Pena IMM Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template