<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322</id><updated>2011-08-01T19:16:47.775-07:00</updated><category term='Artikel Keagamaan'/><category term='Sajak-sajak Fahmi Gentar'/><category term='Cerita Singkat (Cersing)'/><category term='Vidio'/><category term='Renungan'/><category term='Refleksi'/><category term='Essay'/><category term='Journal'/><category term='Artikel Budaya'/><category term='Sajak'/><category term='Resensi'/><category term='Ke-IMM-an'/><category term='Cerpen'/><category term='Budaya: Feature Reza Nugraha'/><category term='Artikel Politik'/><category term='Curhat'/><category term='Kesundaan'/><title type='text'>e-Buletin Pena IMM</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>45</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-8841890877950760621</id><published>2009-09-13T03:55:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T04:00:45.945-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ke-IMM-an'/><title type='text'>Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SqzQP6IlYGI/AAAAAAAAAIg/7KAKHfFxsHM/s1600-h/banner_imm.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 599px; height: 165px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SqzQP6IlYGI/AAAAAAAAAIg/7KAKHfFxsHM/s200/banner_imm.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5380904626522775650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sumber: http://www.muhammadiyah.or.id/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;IMM&lt;/span&gt; tidak lepas kaitannya dengan sejarah perjalanan Muhammadiyah, dan juga bisa dianggap sejalan dengan faktor kelahiran Muhammadiyah itu sendiri. Hal ini berarti bahwa setiap hal yang dilakukan Muhammadiyah merupakan perwujudan dari keinginan Muhammadiyah untuk memenuhi cita-cita sesuai dengan kehendak Muhammadiyah dilahirkan. &lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;Di samping itu, kelahiran IMM juga merupakan respond atas persoalan-persoalan keummatan dalam sejarah bangsa ini pada awal kelahiran IMM, sehingga kehadiran IMM sebenarnya merupakan sebuah keha-rusan sejarah. Faktor-faktor problematis dalam persoalan keummatan itu antara lain ialah sebagai berikut (Farid Fathoni, 1990: 102) :&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Situasi kehidupan bangsa yang tidak stabil, pemerintahan yang otoriter dan serba tunggal, serta adanya ancaman komunisme di Indonesia &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Terpecah-belahnya umat Islam dalam bentuk saling curiga dan fitnah, serta kehidupan politik ummat Islam yang semakin buruk &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Terbingkai-bingkainya kehidupan kampus (mahasiswa) yang berorientasi pada kepentingan politik praktis &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melemahnya kehidupan beragama dalam bentuk merosotnya akhlak, dan semakin tumbuhnya materialisme-individualisme &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sedikitnya pembinaan dan pendidikan agama dalam kampus, serta masih kuatnya suasana kehidupan kampus yang sekuler &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Masih membekasnya ketertindasan imperialisme penjajahan dalam bentuk keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Masih banyaknya praktek-praktek kehidupan yang serba bid'ah, khurafat, bahkan ke-syirik-an, serta semakin meningkatnya misionaris-Kristenisasi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kehidupan ekonomi, sosial, dan politik yang semakin memburuk &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dengan latar belakang tersebut, sesungguhnya semangat untuk mewadahi dan membina mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah telah dimulai sejak lama. Semangat tersebut sebenarnya telah tumbuh dengan adanya keinginan untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah pada Kongres Seperempat Abad Muhammadiyah di Betawi Jakarta pada tahun 1936. Pada saat itu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah diketuai oleh KH. Hisyam (periode 1934-1937). Keinginan tersebut sangat logis dan realistis, karena keluarga besar Muhammadiyah semakin banyak dengan putera-puterinya yang sedang dalam penyelesaian pendidikan menengahnya. Di samping itu, Muhammadiyah juga sudah banyak memiliki amal usaha pendidikan tingkat menengah.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Gagasan pembinaan kader di lingkungan maha-siswa dalam bentuk penghimpunan dan pembinaan langsung adalah selaras dengan kehendak pendiri Muhammadiyah, KHA. Dahlan, yang berpesan bahwa &lt;em&gt;"dari kalian nanti akan ada yang jadi dokter, meester, insinyur, tetapi kembalilah kepada Muhammadiyah" &lt;/em&gt;(Suara Muhammadiyah, nomor 6 tahun ke-68, Maret II 1988, halaman 19). Dengan demikian, sejak awal Muhammadiyah sudah memikirkan bahwa kader-kader muda yang profesional harus memiliki dasar keislaman yang tangguh dengan kembali ke Muhammadiyah.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Namun demikian, gagasan untuk menghimpun dan membina mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah cenderung terabaikan, lantaran Muhammadiyah sendiri belum memiliki perguruan tinggi. Belum mendesaknya pembentukan wadah kader di lingkungan mahasiswa Muhammadiyah saat itu juga karena saat itu jumlah mahasiswa yang ada di lingkungan Muhammadiyah belum terlalu banyak. Dengan demikian, pembinaan kader mahasiswa Muhammadiyah dilakukan melalui wadah Pemuda Muhammadiyah (1932) untuk mahasiswa putera dan melalui Nasyi'atul Aisyiyah (1931) untuk mahasiswa puteri.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pada Muktamar Muhammadiyah ke-31 pada tahun 1950 di Yogyakarta, dihembuskan kembali keinginan untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah. Namun karena berbagai macam hal, keinginan tersebut belum bisa diwujudkan, sehingga gagasan untuk dapat secara langsung membina dan menghimpun para mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah tidak berhasil. Dengan demikian, keinginan untuk membentuk wadah bagi mahasiswa Muhammadiyah juga masih jauh dari kenyataan.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pada Muktamar Muhammadiyah ke-33 tahun 1956 di Palembang, gagasan pendirian perguruan tinggi Muhammadiyah baru bisa direalisasikan. Namun gagasan untuk mewadahi mahasiswa Muhammadiyah dalam satu himpunan belum bisa diwujudkan. Untuk mewadahi pembinaan terhadap mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah, maka Muhammadiyah membentuk Badan Pendidikan Kader (BPK) yang dalam menjalankan aktivitasnya bekerja sama dengan Pemuda Muhammadiyah.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Gagasan untuk mewadahi mahasiswa dari ka-langan Muhammadiyah dalam satu himpunan setidaknya telah menjadi polemik di lingkungan Muhammadiyah sejak lama. Perdebatan seputar kelahiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berlangsung cukup sengit, baik di kalangan Muhammadiyah sendiri maupun di kalangan gerakan mahasiswa yang lain. Setidaknya, kelahiran IMM sebagai wadah bagi mahasiswa Muhammadiyah mendapatkan resistensi, baik dari kalangan Muhammadiyah sendiri maupun dari kalangan gerakan mahasiswa yang lain, terutama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di kalangan Muhammadiyah sendiri pada awal munculnya gagasan pendirian IMM terdapat anggapan bahwa IMM belum dibutuhkan kehadirannya dalam Muhammadiyah, karena Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi'atul Aisyiyah masih dianggap cukup mampu untuk mewadahi mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Di samping itu, resistensi terhadap ide kelahiran IMM pada awalnya juga disebabkan adanya hubungan dekat yang tidak kentara antara Muhammadiyah dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Hubungan dekat itu dapat dilihat ketika Lafrane Pane mau menjajagi pendirian HMI. Dia bertukar pikiran dengan Prof. Abdul Kahar Mudzakir (tokoh Muhammadiyah), dan beliau setuju. Pendiri HMI yang lain ialah Maisarah Hilal (cucu KHA. Dahlan) yang juga seorang aktifis di Nasyi'atul Aisyiyah.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Bila asumsi itu benar adanya, maka hubungan dekat itu selanjutnya sangat mempengaruhi perjalanan IMM, karena dengan demikian Muhammadiyah saat itu beranggapan bahwa pembinaan dan pengkaderan mahasiswa Muhammadiyah bisa dititipkan melalui HMI (Farid Fathoni, 1990: 94). Pengaruh hubungan dekat tersebut sangat besar bagi kelahiran IMM. Hal ini bisa dilihat dari perdebatan tentang kelahiran IMM. Pimpinan Muhammadiyah di tingkat lokal seringkali menganggap bahwa kelahiran IMM saat itu tidak diperlukan, karena sudah terwadahi dalam Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi'atul Aisyiyah, serta HMI yang sudah cukup eksis (dan mempunyai pandangan ideologis yang sama). Pimpinan Muhammadiyah pada saat itu lebih menganakemaskan HMI daripada IMM. Hal ini terlihat jelas dengan banyaknya pimpinan Muhammadiyah, baik secara pribadi maupun kelembagaan, yang memberikan dukungan pada aktivitas HMI. Di kalangan Pemuda Muhammadiyah juga terjadi perdebatan yang cukup sengit seputar kelahiran IMM. Perdebatan seputar kelahiran IMM tersebut cukup beralasan, karena sebagian pimpinan (baik di Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyi'atul Aisyiyah, serta amal-amal usaha Muhammadiyah) adalah kader-kader yang dibesarkan di HMI.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Setelah mengalami polemik yang cukup serius tentang gagasan untuk mendirikan IMM, maka pada tahun 1956 polemik tersebut mulai mengalami pengendapan. Tahun 1956 bisa disebut sebagai tahap awal bagi embrio operasional pendirian IMM dalam bentuk pemenuhan gagasan penghimpun wadah mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah (Farid Fathoni, 1990: 98). Pertama, pada tahun itu (1956) Muham-madiyah secara formal membentuk kader terlembaga (yaitu BPK). Kedua, Muhammadiyah pada tahun itu telah bertekad untuk kembali pada identitasnya sebagai gerakan Islam dakwah amar ma'ruf nahi munkar (tiga tahun sesudahnya, 1959, dikukuhkan dengan melepas-kan diri dari komitmen politik dengan Masyumi, yang berarti bahwa Muhammadiyah tidak harus mengakui bahwa satu-satunya organisasi mahasiswa Islam di Indonesia adalah HMI). Ketiga, perguruan tinggi Muham-madiyah telah banyak didirikan. Keempat, keputusan Muktamar Muhammadiyah bersamaan Pemuda Muhammadiyah tahun 1956 di Palembang tentang&lt;em&gt; "..... menghimpun pelajar dan mahasiswa Muhammadiyah agar kelak menjadi pemuda Muhammadiyah atau warga Muhammadiyah yang mampu mengembangkan amanah." &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Baru pada tahun 1961 (menjelang Muktamar Muhammadiyah Setengah Abad di Jakarta) diseleng-garakan Kongres Mahasiswa Universitas Muham-madiyah di Yogyakarta (saat itu, Muhammadiyah sudah mempunyai perguruan tinggi Muhammadiyah sebelas buah yang tersebar di berbagai kota). Pada saat itulah, gagasan untuk mendirikan IMM digulirkan sekuat-kuatnya. Keinginan tersebut ternyata tidak hanya dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah, tetapi juga dari kalangan mahasiswa di berbagai universitas non-Muhammadiyah. Keinginan kuat tersebut tercermin dari tindakan para tokoh Pemuda Muhammadiyah untuk melepaskan Departemen Kemahasiswaan di lingkungan Pemuda Muhammadiyah untuk berdiri sendiri. Oleh karena itu, lahirlah Lembaga Dakwah Muhammadiyah yang dikoordinasikan oleh Margono (UGM, Ir.), Sudibyo Markus (UGM, dr.), Rosyad Saleh (IAIN, Drs.), sedang-kan ide pembentukannya dari Djazman al-Kindi (UGM, Drs.).&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tahun 1963 dilakukan penjajagan untuk mendirikan wadah mahasiswa Muhammadiyah secara resmi oleh Lembaga Dakwah Muhammadiyah dengan disponsori oleh Djasman al-Kindi yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah. Dengan demikian, Lembaga Dakwah Muhammadiyah (yang banyak dimotori oleh para mahasiswa Yogyakarta) inilah yang menjadi embrio lahirnya IMM dengan terbentuknya IMM Lokal Yogyakarta.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tiga bulan setelah penjajagan tersebut, Pimpinan Pusat Muhammadiyah meresmikan berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada tanggal 29 Syawal 1384 Hijriyah atau 14 Maret 1964 Miladiyah. Penandatanganan Piagam Pendirian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dilakukan oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat itu, yaitu KHA. Badawi. Resepsi peresmian IMM dilaksanakan di Gedung Dinoto Yogyakarta dengan penandatanganan &lt;strong&gt;‘Enam Pene-gasan IMM'&lt;/strong&gt; oleh KHA. Badawi, yaitu :&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Menegaskan bahwa IMM adalah gerakan mahasiswa Islam &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menegaskan bahwa Kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menegaskan bahwa fungsi IMM adalah eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menegaskan bahwa IMM adalah organisasi maha-siswa yang sah dengan mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan, serta dasar dan falsafah negara &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menegaskan bahwa ilmu adalah amaliah dan amal adalah ilmiah &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menegaskan bahwa amal IMM adalah lillahi ta'ala dan senantiasa diabdikan untuk kepentingan rakyat &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tujuan akhir kehadiran Ikatan Mahasiswa Muham-madiyah untuk pertama kalinya ialah membentuk akademisi Islam dalam rangka melaksanakan tujuan Muhammadiyah. Sedangkan aktifitas IMM pada awal kehadirannya yang paling menonjol ialah kegiatan keagamaan dan pengkaderan, sehingga seringkali IMM pada awal kelahirannya disebut sebagai Kelompok Pengajian Mahasiswa Yogya (Farid Fathoni, 1990: 102).&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Adapun maksud didirikannya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah antara lain adalah sebagai berikut :&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Turut memelihara martabat dan membela kejayaan bangsa &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sebagai upaya menopang, melangsungkan, dan meneruskan cita-cita pendirian Muhammadiyah &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membina, meningkatkan, dan memadukan iman dan ilmu serta amal dalam kehidupan bangsa, ummat, dan persyarikatan &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dengan berdirinya IMM Lokal Yogyakarta, maka berdiri pulalah IMM lokal di beberapa kota lain di Indonesia, seperti Bandung, Jember, Surakarta, Jakarta, Medan, Padang, Tuban, Sukabumi, Banjarmasin, dan lain-lain. Dengan demikian, mengingat semakin besarnya arus perkembangan IMM di hampir seluruh kota-kota universitas, maka dipandang perlu untuk meningkatkan IMM dari organisasi di tingkat lokal menjadi organisasi yang berskala nasional dan mempunyai struktur vertikal.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Atas prakarsa Pimpinan IMM Yogyakarta, maka bersamaan dengan Musyawarah IMM se-Daerah Yogyakarta pada tanggal 11 - 13 Desember 1964 diselenggarakan Musyawarah Nasional Pendahuluan IMM seluruh Indonesia yang dihadiri oleh hampir seluruh Pimpinan IMM Lokal dari berbagai kota. Musyawarah Nasional tersebut bertujuan untuk mempersiapkan kemungkinan diselenggarakannya Musyawarah Nasional Pertama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah pada bulan April atau Mei 1965. Musyawarah Nasional Pendahuluan tersebut menyepakati penunjukan Pimpinan IMM Yogyakarta sebagai Dewan Pimpinan Pusat Sementara IMM (dengan Djazman al-Kindi sebagai Ketua dan Rosyad Saleh sebagai Sekretaris) sampai diselenggarakannya Musyawarah Nasional Pertama di Solo. Dalam Musyawarah Pendahuluan tersebut juga disahkan asas IMM yang tersusun dalam ‘Enam Penegasan IMM', Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IMM, Gerak Arah IMM, serta berbagai konsep lainnya, termasuk lambang IMM, rancangan kerja, bentuk kegiatan, dan lain-lain.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-8841890877950760621?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/8841890877950760621/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/09/ikatan-mahasiswa-muhammadiyah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/8841890877950760621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/8841890877950760621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/09/ikatan-mahasiswa-muhammadiyah.html' title='Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SqzQP6IlYGI/AAAAAAAAAIg/7KAKHfFxsHM/s72-c/banner_imm.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-6310323270135371506</id><published>2009-09-10T05:50:00.000-07:00</published><updated>2009-09-10T05:54:21.055-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ke-IMM-an'/><title type='text'>IMM DALAM DIMENSI IDEOLOGIS</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Sqj2250_59I/AAAAAAAAAIY/Hrq_WXoKaiQ/s1600-h/Copy+of+Foto081.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Sqj2250_59I/AAAAAAAAAIY/Hrq_WXoKaiQ/s200/Copy+of+Foto081.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5379821177990539218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tujuan IMM adalah :&lt;br /&gt;“Mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah (masyarakat Islam yang berkemajuan)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi IMM adalah:&lt;br /&gt;“Visi intelektual IMM adalah popular intellectual ( intelektual populis/intelektual kerakyatan), yaitu kaum intelektual yang menjadikan kepentingan-kepentingan publik dan permasalahan ketidakadilan sosial-politik sebagai komitmen gerakannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi IMM :&lt;br /&gt;1. Membina para anggotanya menjadi kader persyarikatan Muhammadiyah, kader umat dan kader bangsa yang senantiasa setia terhadap keyakinan dan cita-citanya.&lt;br /&gt;2. Membina para anggotanya untuk selalu tertib dalam ibadah, tekun dalam studi dan mengamalkan ilmu pengetahuannya untuk melaksanakan ketaqwaannya dan pengabdiannya kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;3. Membantu para anggota khususnya dan mahasiswa pada umumnya dalam menyelesaikan kepentingannya.&lt;br /&gt;4. Mempergiat, mengefektifkan dan menggembirakan dakwah Islam dan dakwah amar ma’ruf nahi munkar kepada masyarakat teristimewa masyarakat mahasiswa.&lt;br /&gt;5. Segala usaha yang tidak menyalahi asas, gerakan dan tujuan organisasi dengan mengindahkan segala hukum yang berlaku dalam negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengkala pendirian Ikatam Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada tanggal 14 Maret 1964, ditandai dengan ditandatanganinya Enam Penegasan IMM olek Ketua PP Muhammadiyah saat itu, yaitu K. H. Ahmad Badawi. Keenam butir pernyataan tersebut memproklamirkan sekaligus menegaskan identitas IMM bahwa:&lt;br /&gt;1. IMM adalah gerakan mahasiswa Islam&lt;br /&gt;2. Kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM&lt;br /&gt;3. Fungsi IMM adalah eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah&lt;br /&gt;4. IMM adalah organisasi mahasiswa yang sah dengan mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan serta dasar dan falsafah Negara&lt;br /&gt;5. Kerangka pikir kader ialah ilmu adalah amaliah, dan amal adalah ilmiah&lt;br /&gt;6. Gerakan IMM bersifat lillahi ta’ala dan senantiasa diabadikan untuk kepentingan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mars IMM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayolah ayo... ayo...&lt;br /&gt;Derap derukan langkah&lt;br /&gt;Dan kibar geleparkan panji-panji&lt;br /&gt;Ikatan mahasiswa Muhammadiyah&lt;br /&gt;Sejarah ummat telah menuntut bukti&lt;br /&gt;Ingatlah ingat.. ingat.. ingat..&lt;br /&gt;Niat tlah di ikrarkan&lt;br /&gt;Kita lah cendekianwan berpribadi&lt;br /&gt;Susila cakap taqwa kepada Tuhan&lt;br /&gt;Pewaris tampuk pimpinan umat nanti&lt;br /&gt;Immawan dan immawati siswa tauladan putra harapan&lt;br /&gt;Penyambung hidup generasi&lt;br /&gt;Umat Islam seribu jaman&lt;br /&gt;Pendudukung cita-cita luhur negeri indah adil dan makmur&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-6310323270135371506?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/6310323270135371506/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/09/imm-dalam-dimensi-ideologis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/6310323270135371506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/6310323270135371506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/09/imm-dalam-dimensi-ideologis.html' title='IMM DALAM DIMENSI IDEOLOGIS'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Sqj2250_59I/AAAAAAAAAIY/Hrq_WXoKaiQ/s72-c/Copy+of+Foto081.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-7238340291726376325</id><published>2009-09-02T08:50:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T08:53:01.950-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Terbang Bersama Malaikat</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;Cerpen DASAM SYAMSUDIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Sp6UxzgjooI/AAAAAAAAAIQ/cPU6G-Xn-j8/s1600-h/images.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 96px; height: 107px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Sp6UxzgjooI/AAAAAAAAAIQ/cPU6G-Xn-j8/s200/images.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376898588488213122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENA IMM-&lt;/span&gt;Sinar matahari menabraki dedaunan dan bunga-bunga yang tumbuh di&lt;br /&gt;halaman rumah. Sinarnya menembus setiap celah kecil antara dedaunan&lt;br /&gt;dan bunga-bunga itu, meloloskan gelombang foton yang memancar dari&lt;br /&gt;pijarnya. Sosoknya yang bulat raksasa terlihat pecah-pecah, terhalang&lt;br /&gt;tetanaman bunga dengan dedaunanya yang bergoyang-goyang ditiup-tiup&lt;br /&gt;angin. Di balik jendela kamar aku mengintip Charli—dia adikku—yang&lt;br /&gt;sedang menunjuk-nujuk langit. Tubuh adikku yang baru berusia tiga&lt;br /&gt;tahun, diam terpaku memperhatikan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu&lt;br /&gt;apa yang sedang dia tunjuk dan dia perhatikan. Tapi, dari balik&lt;br /&gt;jendela aku mencoba menebak-nebak, mungkin dia sedang memperhatikan&lt;br /&gt;sesuatu yang terbang. Tapi apa yang terbang itu? Itu yang aku pikir.&lt;br /&gt;Aku mencoba menebak lagi, mungkin hewan yang kecil. Karena dari balik&lt;br /&gt;jendela dan dengan jarak yang agak jauh, hewan kecil itu tidak bisa&lt;br /&gt;aku lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat adikku yang bergerak-gerak, berjalan dengan bebas walau masih&lt;br /&gt;tertatih-tatih, aku merasa iri. Hampir sebulan aku tidak merasakan&lt;br /&gt;bagaimana rasanya berjalan dengan kaki sendiri. Kecelekaan motor yang&lt;br /&gt;terjadi sebulan yang lalu membuat kedua kakiku patah. Aku terkadang&lt;br /&gt;merasa bingung sendiri. Kenapa aku bisa jatuh dari motor. Padahal&lt;br /&gt;waktu itu jalanan terasa aman, dan aku sendiri sudah sangat mahir&lt;br /&gt;menyetir motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, kala langit senja berwarna merah akibat pancaran sinar&lt;br /&gt;matahari yang sedang berjalan keperaduannya, aku sedang memacu motor&lt;br /&gt;Ninja RR (baca: Ninja Double R)—pemberian ayahku sebagai hadiah Ulang&lt;br /&gt;Tahunku yang kedua puluh tahun—dengan kecepatan normal. Tidak lambat&lt;br /&gt;tidak juga cepat, setidaknya menurutku. Saat itu aku memperhatikan&lt;br /&gt;langit senja yang betul-betul terlihat merah, merah di mana-mana,&lt;br /&gt;pikirku, memperhatikan langit senja yang menurutku terkesan&lt;br /&gt;menyeramkan. Langit seolah-olah menyala, berpijar bagaikan bara api&lt;br /&gt;raksasa. Mungkin karena memandang langit yang seolah berpijar itu, aku&lt;br /&gt;sampai tidak memperhatikan jalan, dan akhirnya motorku tak terkendali&lt;br /&gt;sehingga menabrak sebatang pohon yang tumbuh liar di tepi jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, sebelum aku terjatuh dengan motorku. Di langit yang merah&lt;br /&gt;itu, aku melihat sesosok, atau sebuah benda, ah, atau apalah, aku&lt;br /&gt;tidak tahu. Yang pasti aku melihat sesuatu melesat di langit, semacam&lt;br /&gt;kilat. Tapi itu bukan kilat, sebab sesuatu yang terbang itu besar dan&lt;br /&gt;bentuknya seperti seorang manusia yang menyala karena pijar cahaya&lt;br /&gt;dari dirinya, dan karena terbang itu pakainnya terlihat&lt;br /&gt;merumbai-rumbai. Aneh! Sungguh! Sesosok yang terbang itu, yang tadinya&lt;br /&gt;terbang lurus dari arah Timur ke arah Barat, tiba-tiba saja ia&lt;br /&gt;berbelok, terbang ke arahku. Aku bisa melihatnya agak jelas saat dia&lt;br /&gt;semakin mendekat. Itu seperti seorang manusia, tapi tubuhnya lembut&lt;br /&gt;seolah terbuat dari cahaya. Sebab saat sosok itu terbang meluncur&lt;br /&gt;menabraku, dia tidak bisa menyentuhku, dia menembus tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, lantaran sesosok yang terbang itu, aku sampai menabrak&lt;br /&gt;pohon yang tumbuh liar di tepi jalan dengan keras. Tapi alasan aku&lt;br /&gt;jatuh karena  melihat sosok yang terbang tidak ku beritahukan pada&lt;br /&gt;siapa pun, sebab orang-orang tidak akan ada yang percaya, termasuk ibu&lt;br /&gt;dan ayah. Karena kecelekaan itu juga kakiku lumpuh, dan sekarang tidak&lt;br /&gt;bisa digunakan untuk berjalan. Kata dokter, tidak lumpuh kakiku hanya&lt;br /&gt;untuk sementara waktu, hanya sebentar, sekitar dua bulan lagi akan&lt;br /&gt;sembuh total. Kuharap ucapan dokter benar, aku sudah bosan duduk terus&lt;br /&gt;di kamar yang semakin hari serasa semakin pengap saja.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu dan Charli masuk kamarku. Ibu menawari aku makan, tapi aku&lt;br /&gt;menolaknya. Walau lapar, karena tidak berselera, aku  memilih untuk&lt;br /&gt;tidak makan. Aku lebih suka minum yang manis-manis. Setelah bosan&lt;br /&gt;membujukku, ibu meninggalkan aku. Mudah-mudahan ibu tidak marah&lt;br /&gt;menyikapi kelakukanku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menutup ibu pintu, aku memanggil Charli, memintanya untuk&lt;br /&gt;menemaniku. Ibu pun membiarkan kami berdua di kamar ini. Ibu agak&lt;br /&gt;mengernyitkan dahi, sebab tidak biasanya aku akrab dengan Charli.&lt;br /&gt;Sepertinya Charli senang menemai aku. Tanpa banyak kata setelah aku&lt;br /&gt;memanggilnya, ia langsung memanjat ke ranjangku, dan duduk di&lt;br /&gt;sampingku sambil tersenyum-seyum. Baru kali ini aku merasa sayang pada&lt;br /&gt;Charli, biasanya aku tidak pernah memperhatikannya, selalu cuek,&lt;br /&gt;bahkan sering membuatnya menangis karena keasyikan bermainnya selalu&lt;br /&gt;aku ganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertanya pada Charli, tentang apa yang dia tunjuk-tunjuk saat&lt;br /&gt;sedang bermain di halam rumah. Aku terhenyak setelah mendengar&lt;br /&gt;jawabannya, walau dia mengatakannya dengan terbata-bata dan kurang&lt;br /&gt;jelas sebab cedalnya.&lt;br /&gt;“Aku melihat olang telbang…” kata Cahrli sambil merentangan tangannya&lt;br /&gt;meniru burung yang mengepakan sayap.&lt;br /&gt;“Terbang! Apa yang terbang, Charli?...” aku berkata sambil membetulkan&lt;br /&gt;posisi duduk, dan memegang kedua pundak adikku, menatapnya serius.&lt;br /&gt;“Olang pake baju walna putih telbang” Charli mengucapkannya masih&lt;br /&gt;sambil mengepak-ngepakan tangan.&lt;br /&gt;Aku banyak bertanya pada Charli, dan berusaha keras memahami&lt;br /&gt;kata-katanya yang terbata dan cedal itu. Aku semakin terhenyak. Sebab&lt;br /&gt;apa yang diucapkan Charli tidak mungkin bohong, “dia masih bersih”.&lt;br /&gt;Kata orang-orang anak seusia itu selalu mengatakn hal yang sebenarnya&lt;br /&gt;dari apa yang dilihatnya. Dan, yang tadi Charli lihat di halaman rumah&lt;br /&gt;adalah sesosok yang sama-sama aku temui tempo hari. Yang gara-gara ia&lt;br /&gt;terbang kearahku aku sampai menabrak pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Charli turun dari ranjangku, dan berlari kecil sambil&lt;br /&gt;mengepak-ngepakan tangannya meniru burung terbang meninggalkan aku&lt;br /&gt;tanpa berkata apa-apa. Aku juga membiarkannya pergi dan tanpa&lt;br /&gt;mengatakan apapun. Mungkin karena tidak percaya dengan apa yang&lt;br /&gt;diucapkan Charli aku jadi mengacuhkannya. “tidak mungkin?!” pikirku&lt;br /&gt;dalam hati. “Siapa atau apa dia?” ucapku dengan nada tertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran tentang sesosok makhluk yang terbang itu membuat aku&lt;br /&gt;penasaran. Aku mencoba mengingat-ingat sosok itu. Tempo hari aku&lt;br /&gt;melihatnya tidak jelas, sebab laju luncur terbangnya begitu cepat.&lt;br /&gt;Sulit untuk dikenali. Tapi aku yakin, yang terbang kearahku itu mirip&lt;br /&gt;manusia, namun aku tidak melihat wajahnya dengan jelas. Wanita atau&lt;br /&gt;laki-laki, aku tidak tahu. Wajahnya terlalu terang oleh cahaya yang&lt;br /&gt;memancar, hanya terlihat silau-silau, putih dan samar. Aku pun mencoba&lt;br /&gt;memeras pikiran untuk mengingat gerakan dan posisi makhluk yang&lt;br /&gt;terbang itu. “mengapa dia berbelok kearahku? Mengapa ia menabraku?”…&lt;br /&gt;Oh, Tuhan! Aku tahu. Dia bukan mau menabraku, tapi sosok yang terbang&lt;br /&gt;itu mau menangkapku. Setidaknya memang seperti itu aku melihatnya. Aku&lt;br /&gt;yakin, sebelum dia menyentuhku, dan sebelum aku memejamkan mata karena&lt;br /&gt;takut, aku melihatnya merentangkan tangan seolah akan menangkap aku.&lt;br /&gt;“Lalu untuk apa ia menangkap aku? Mau membawa aku, kah? aku semakin&lt;br /&gt;penasaran, dan aku takut. Keringat dingin mengucur dari tubuhku. Aku&lt;br /&gt;gemetar. Dan akhirnya aku memanggil ibu. “Ibu!!!...”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sampingku Charli sedang duduk sambil memijat-mijat tanganku. Aku&lt;br /&gt;mengusap-ngusap kepalanya. Semakin hari aku merasa semakin&lt;br /&gt;menyayanginya saja. Di tepi ranjang aku juga melihat ayah yang sedang&lt;br /&gt;duduk, tertunduk dan, air mukanya menunjukan bahwa dia sedang&lt;br /&gt;bersedih. Aku tidak bertanya apa-apa pada ayah, tidak juga menanyakan&lt;br /&gt;kenapa dia sudah pulang dari kantor.&lt;br /&gt;“Charli, mana ibu?...” Charli diam saja waktu aku bertanya, dia hanya&lt;br /&gt;terus memijat-mijat lenganku yang sebetulnya tidak apa-apa, menurutku.&lt;br /&gt;“Ibu di ruang tamu, sedang berbicara dengan dokter…”Ayah tidak&lt;br /&gt;meneruskan kata-katanya, ia juga tidak melihat wajahku saat berbicara.&lt;br /&gt;Dan aku juga tidak bertanya apa-apa lagi padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa heran? Kenapa ayah dan adikku duduk bersamaku sore ini. dan&lt;br /&gt;kenapa juga ada dokter dirumahku, siap yang sakit selain aku?&lt;br /&gt;Mungkinkah itu dokter yang telah memeriksaku. Sungguh, hari ini terasa&lt;br /&gt;membingungkan. Aku juga tidak tahu ini hari apa? Hal terakhir yang&lt;br /&gt;bisa kuingat adalah aku memanggil ibu sebab merasa takut oleh bayangan&lt;br /&gt;tentang sosok yang terbang, setelah itu aku tidak tahu apa-apa. Dan&lt;br /&gt;hal itu terjadi rasanya baru hari kemarin. Ah, semua ini membuat aku&lt;br /&gt;bingung. Dan aku juga enggan menanyakan pada orang-orang yang ada di&lt;br /&gt;sekelilingku, tentang semua ini.&lt;br /&gt;Ibu masuk kamarku. Lagi-lagi aneh? Ibu berjalan menuju ke arah aku&lt;br /&gt;berbaring diranjang, dia menangis terisak-isak, airmatanya jatuh&lt;br /&gt;satu-satu menetesi lantai yang berwarna putih. Lama-lama aku muak&lt;br /&gt;dengan keadaan seperti ini. Seolah-olah ada sesuatu yang mereka&lt;br /&gt;sembunyikan dariku. Aku memalingkan pandangan dari ibu  yang sedang&lt;br /&gt;mengusap-usap kepalaku, dan ia juga mencium keningku. Aku melihat&lt;br /&gt;pemandangan di balik jendela, di sekitar tanaman bunga yang kemarin&lt;br /&gt;Charli menunjuk-nunjuk langit di situ. Aku juga melihat langit. Langit&lt;br /&gt;begitu biru, luas dan indah dengan awan gemawan yang menebar sekenanya&lt;br /&gt;di pojok-pojok langit. Matahari yang dihimpit dua awan putih dan&lt;br /&gt;bersih terlihat samara-samar. Aku terus menatap langit. Terus&lt;br /&gt;memandangnya sampai-sampai antara pikiran dan penglihatanku mendapati&lt;br /&gt;langit seakan-akan berubah menjadi kain berwarna biru dan tipis, yang&lt;br /&gt;memungkinkan apa-apa yang ada di balik kain itu terlihat walau&lt;br /&gt;samara-samar. Dan, aku memang merasakan di balik kain biru itu ada&lt;br /&gt;sebuah singgasana yang sangat megah, lengkap dengan tetamanan yang&lt;br /&gt;menghiasi, dan sungai-sungai yang menggurat-gurat kawasan singgasana&lt;br /&gt;itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mata ibu menjatuhi keningku, membuat aku sedikit kaget, dan&lt;br /&gt;memudarkan seluruh bayangan singgasana yang ada di balik langit dari&lt;br /&gt;alam pikiranku. Aku memperhatikan seluruh keluarga, ayah, ibu dan&lt;br /&gt;adikku. Aku mendapati air muka mereka menunjukan suatu kesedihan. Aku&lt;br /&gt;memperhatikan mereka dalam-dalam dan baru kali ini aku merasa, aku&lt;br /&gt;sangat menyayangi mereka, aku beruntung jadi bagian dari kehidupannya.&lt;br /&gt;Airmata meleleh di pipiku, aku membiarkannya mengalir pelan, sebab&lt;br /&gt;tenagaku sudah hilang, sekedar mengangkat tanganpun aku tak mampu.&lt;br /&gt;Sekarang aku merasa sangat lemah, nyeri dan sesak. Nafasku&lt;br /&gt;tersenggal-senggal, jantungku berdegup pelan seolah kehilangan&lt;br /&gt;kekuatannya. Aku mau bertanya dan berkata-kata pada ayah dan ibuku,&lt;br /&gt;tapi aku terlalu lemah, bibirku hanya bergetar-getar pelan, tanpa&lt;br /&gt;mengeluarkan suara, semua kata seakan terkurung di dalam kerongkongan.&lt;br /&gt;Tubuhku serasa semakin lemah, beberapa paku terasa menusuk-nusuk organ&lt;br /&gt;tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Charli yang duduk di sampingku tidak lagi memijat tanganku. Dia tengah&lt;br /&gt;memperhatikan langit di balik jendela. Aku pun melihat apa yang sedang&lt;br /&gt;dia lihat. Astaga! langit yang tadi biru, indah dengan paduan awan&lt;br /&gt;putih dan matahari yang samara-samar ternyata telah berubah. Berubah&lt;br /&gt;menjadi merah, merah di mana-mana. Langit seolah menyala-nyala&lt;br /&gt;layaknya bara raksasa. Aku pernah melihat pemandangan seperti ini,&lt;br /&gt;sebelum aku menabrak pohon yang tumbuh liar di tepi jalan saat&lt;br /&gt;mengendarai motor pemberian ayah. Aku terhenyak menyaksikannya semua&lt;br /&gt;ini, langit senja memang biasanya merah, tapi langit senja kali ini,&lt;br /&gt;merah seperti arang yang masih berpijar, merah dan menyala. Aku&lt;br /&gt;menebak-nebak akan mendapati sesosok yang terbang di kolong langit&lt;br /&gt;yang seperti menyala, merah dan menyeramkan itu. Lama aku&lt;br /&gt;memperhatikan langit yang semakin lama semakin merah, namun aku tidak&lt;br /&gt;mendapati sosok yang terbang itu. Aku mengalihkan pandangan, tiba-tiba&lt;br /&gt;aku rindu melihat wajah ayah, ibu dan adikku. Padahal hanya beberapa&lt;br /&gt;detik aku tidak melihat wajahnya, tapi aku merindukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, Tuhan! Aku tidak bisa meliht wajah ayah, ibu dan Charli. Aku hanya&lt;br /&gt;mendapati pemandangan putih, putih dimana-mana. Sesosok yang terbang&lt;br /&gt;tengah berdiri di hadapanku. Cahaya yang memancar dari tubuhnya&lt;br /&gt;menyembur kemana-mana, membuat kamarku sera terisi kabut-kabut putih,&lt;br /&gt;dan hanya putih terlihat. Aku mencoba mengenali wajahnya. Cahaya yang&lt;br /&gt;menyala-nyala membuat wajahnya tetap samar. Aku yakin, sosok yang&lt;br /&gt;tengah melayang di hadapanku ini adalah Malaikat. Aku tahu itu, sebab&lt;br /&gt;tiba-tiba saja aku mengenalnya, seolah-olah ada yang berbisik di&lt;br /&gt;telingaku, mengenalkannya padaku, itu Malaikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat yang tengah melayang di hadapanku mendekatiku, dia tersenyum.&lt;br /&gt;Aku bisa melihat wajahnya tersenyum walau samara-samar, dan aku merasa&lt;br /&gt;sejuk melihat wajahnya yang terlihat indah. Memang aku tidak tahu&lt;br /&gt;apakan dia tampan atau cantik, yang aku rasa dan saksikan wajah&lt;br /&gt;Malaikat ini indah, bercahaya, berseri dan menyejukan. Dia semakin&lt;br /&gt;mendekat. Setelah jarak antara aku dan dia sangat dekat. Malaikat itu&lt;br /&gt;pun mengulurkan tangannya, membuka jemarinya yang terkepal. Aneh, aku&lt;br /&gt;merasa uluran tanganMalaikat itu bukan untuk mengajak aku pergi,&lt;br /&gt;apalagi memaksa aku untuk pergi mengikutinya. Aku merasa dia sedang&lt;br /&gt;menyambutku. Menyambut seseorang yang lama meninggalkan tempat&lt;br /&gt;asalnya. Oh, malaikat ini menyambutku dengan sangat sopan, sehingga&lt;br /&gt;aku merasa bahwa aku harus menyambut hangat uluran tangan sang&lt;br /&gt;Malaikat. Walau merasa takut, aku berusaha tersenyum dan tenang.&lt;br /&gt;Sekarag aku berdampingan dengan Malaikat. Dan, Malaikat tubuhnya&lt;br /&gt;lembut serasa kapas dan bersinar-sinar ini, membawaku terbang, terbang&lt;br /&gt;ke suatu tempat yang sepertinya aku tahu apa dan di mana tempat itu.&lt;br /&gt;Aku menundukan kepala untuk melihat ayah, ibu dan adikku. Mereka semua&lt;br /&gt;sedang menangis sesenggukan. Ibu memeluk tubuhku yang terbaring dengan&lt;br /&gt;mata yang terpejam, dan terkadang mengguncang-guncang tubuhku. Dan,&lt;br /&gt;ayah memeluk adikku, mendekapnya erat, mereka berdua juga menangis.&lt;br /&gt;Menyaksikan itu aku tidak merasa heran. Justru aku tenang. Aku terbang&lt;br /&gt;bersama malaikat.&lt;br /&gt;Aku tidak merasa sudah mati. Aku hanya merasa telah terbang bersama Malaikat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-7238340291726376325?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/7238340291726376325/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/09/terbang-bersama-malaikat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/7238340291726376325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/7238340291726376325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/09/terbang-bersama-malaikat.html' title='Terbang Bersama Malaikat'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Sp6UxzgjooI/AAAAAAAAAIQ/cPU6G-Xn-j8/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-1930690295037151127</id><published>2009-09-01T09:56:00.000-07:00</published><updated>2009-09-01T09:59:59.438-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Terorisme Anak Muda</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Reza Sukma Abdullah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Sp1Snmb1fYI/AAAAAAAAAII/RAbZ8pHyCXc/s1600-h/403366211_ce3a784cb8_m.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 112px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Sp1Snmb1fYI/AAAAAAAAAII/RAbZ8pHyCXc/s200/403366211_ce3a784cb8_m.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376544370435915138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pena IMM-&lt;/span&gt;Kalau disebut-sebut jaringan teroris semacam Noordin M Top lebih senang merekrut anak muda, saya (agak) setuju. Kenapa? Karena sebagai anak muda, saya pernah mengalami setidaknya dua tindak terorisme atas nama agama. Hal tersebut saya alami ketika pertama kali mengenal Kota Bandung. &lt;p&gt;&lt;span id="more-317"&gt;&lt;/span&gt;Saya, yang datang dari kota biasa –untuk tidak bilang dari &lt;em&gt;lembur&lt;/em&gt;—menyesuaikan diri di kota baru ini dengan bergaul dengan teman sebaya. Karena, saya tak punya keluarga yang dekat atau teman lama. Mungkin hal tersebut yang membuat seorang senior mendekati saya seolah-olah mau mengenalkan dunia baru bagi saya. Itulah kiranya tindakan meresahkan atas nama ideologi yang saya alami pertama kali.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lelaki itu cukup perhatian. Ia memberi petunjuk, seperti apa dunia kuliah, seperti apa hidup di Bandung, seperti apa bergaul dengan orang-orang di Bandung, dan banyak lagi. Akhirnya, ia pun nge-kos di dekat kos saya. Lama-lama ia banyak diskusi dengan saya, termasuk diskusi mengenai Islam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal sama juga dilakukan seorang teman yang saya kenal pertama saat ujian masuk kampus ini. Setelah lulus, ia menawari saya mengikuti pengajian di daerah Cicaheum. Anehnya, ia wanti-wanti agar saya tidak mencurigai ajakannya. Katanya, pengajian itu cuma pengajian Al-Quran biasa. Tak perlu pakaian khas orang mengaji, tak perlu berpenampilan gaya ikhwan. Loh, karena ia bilang begitu malah saya jadi curiga!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berbulan-bulan kedua teman itu banyak mengajak diskusi. Apalagi senior saya yang lebih intensif berkunjung ke kos, banyak bicara ini-itu. Hingga suatu saat, ia banyak berdiskusi masalah Islam. Karena latar belakang keilmuan saya mayoritas adalah sekolah umum, yang porsi keagamaan sangat minim dan pendidikan agama sepenuhnya jadi tanggung jawab ortu, saya tak banyak tahu soal-soal yang menjadi bahan diskusinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Singkatnya, kedua doktrin yang mereka tawarkan pada saya adalah konsep suatu masyarakat yang mereka sebut masyarakat Islam—iseng-iseng saya menerjemahkan ke dalam Bahasa Arab &lt;em&gt;Jamaah Islamiyah&lt;/em&gt;—yaitu masyarakat yang berpegang pada hukum-hukum Allah. Denga menyitir surat Al-Maidah ayat [44], mereka menyebut bahwa saat ini, kita sedang dalam kuasa yang kafir yang tidak menjalankan hukum-hukum Allah. Maka, saat itu saya masih kafir, lantas kedua ortu saya masih kafir, teman sekitar yang tidak masuk golongan ini juga kafir yang halal darah dan harta bendanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Walau sebagai remaja yang awam dalam hal tersebut, saya dapat meyakini tawaran mereka bukanlah kebenaran bagi saya. Saya menggugat konsep mereka dengan argumen-argumen semampu otak saya berpikir. Hingga satu kawan mundur teratur.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun, karena keingintahuan saya akan kemana akhir dari tawaran ini, saya sengaja mengikuti rangkaian cerita dakwah ini. Senior saya mengajak saya untuk memasuki dunia baru itu dengan proses &lt;em&gt;baiat.&lt;/em&gt; Sebuah perjanjian mengikat yang jadi syarat wajib mengenal masyarakt Islam tersebut. Di malam hari, saya ikuti kemana kita akan melaksanakan ruwatan &lt;em&gt;baiat&lt;/em&gt; itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Situasi makin kacau saat saya harus intensif mengikuti pengajian yang dilaksanakan di Bandung wilayah utara. Pengajian itu wajib hukumnya diikuti walau mengabaikan perkuliahan, waktu yang mepet ke shalat maghrib, dan meski kita lagi bokek. Parahnya, lambat laun kantong makin mengering akibat desakan untuk berinfak. Konon, makin lama infak akan semakin diwajibkan dan besarannya ditentukan. Saya makin muak dengan apa yang mereka yakini itu benar. Setelah tahu sedikit apa yang ada di dalamnya, saya rasa harus mulai lari dan menjauh dari komunitas ini, yang belakangan saya tahu komplotan ini ingin mendirikan negara Islam di Indonesia. Lari, namun sulit menghindar dari teror-teror yang mengusik saya di hari-hari pertama. Fisik, psikis, lewat handphone, email, bahkan mengejar langsung hingga ke kos!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tindakan meresahkan atas nama ideologi yang kedua datang saat saya sudah cukup &lt;em&gt;mikir&lt;/em&gt;. Saat saya masih kuliah di semester lima. Kondisi psikologis yang cukup rumit dijelaskan menyebabkan saya mengenal seorang teman yang nampak seperti juru selamat. Kata-katanya seperti motivasi yang berupa obat hingga saya dapat berdiri, bangkit dari keterpurukan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di tengah gundah, konflik batin selama ini atas beragam pencarian, seorang teman banyak bicara mengenai hakikat Tuhan dan kebahagian hidup. Semula saya pikir ia pandai berfilsafat hingga saya tertarik untuk belajar padanya. Suatu saat, ia menawari saya mengikuti suatu pengajian yang saya lupa namanya, di Bandung wilayah kota. Katanya, di pengajian itu kita akan mendapat pencerahan spiritual dan mengetahui hakikat kebahagiaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya yang merasa sangat bodoh saat itu begitu takluk di depannya. Rasanya, saya tak ingat bahwa apa yang ia katakan bukan selalu berarti benar. Jujur, saat itu saya begitu tunduk dalam kata-katanya. Saat saya menulis ini, saya bisa menggugat. Tapi, saat itu saya begitu terbuai dengan ucapan-ucapannya yang banyak menyitir ayat Al-Quran. Bahkan ia menafikan hadits Rasul.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Suatu saat, saya diminta untuk meneguhkan diri menjadi pengikut perguruannya. Perguruannya ada di wilayah Jatinangor. Doktrin yang paling melekat pada diri saya saat itu, bahwa penyebab semua masalah yang saya hadapi adalah karena keraguan saya pada Allah. Keraguan itu berupa penghambaan saya pada makhluk, seperti orangtua, teman baik, bahkan mungkin kekasih. Dan, untuk menebus kesalahan itu, maka saya perlu banyak uang infak sesuai dengan dosa besar yang saya lakukan itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saat itu pula, saya berusaha mendapatkan uang agar bisa mencerahkan diri dan membebaskan jiwa dari mahadosa yang saya perbuat. Akhirnya, terjadi proses pembaiatan dan ada perjanjian hitam di atas putih. Saya akan melaksanakan seluruh persyaratan sesuai tertulis di atas surat yang bermaterai itu. Gilanya, saya rasa saya melakukan itu semua di luar kendali, di luar kesadaran saya! Hingga, saya kembali dan merasa betul bahwa hal tersebut adalah kebohongan besar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikian, dua kisah kebodohan seorang anak muda yang diperalat oleh teror-teror atas nama agama. Saya malah merasa, kedua “aliran” tersebut lebih layak disebut penistaan terhadap Islam dan penyimpangan pada ajaran-ajarannya. Namun, saya tak mau terjebak pada bahaya laten khawarij, mudah mengkafirkan dan menyalahkan keyakinan sesama manusia. Hanya saja, saya merasa kedua paham itu meresahkan dan merugikan setidaknya bagi saya pribadi. Bagi Anda, silakan menjadi refleksi bersama.&lt;/p&gt;  &lt;div class="post-info"&gt;                &lt;/div&gt;  &lt;div class="post-footer"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-1930690295037151127?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/1930690295037151127/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/09/terorisme-anak-muda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/1930690295037151127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/1930690295037151127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/09/terorisme-anak-muda.html' title='Terorisme Anak Muda'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Sp1Snmb1fYI/AAAAAAAAAII/RAbZ8pHyCXc/s72-c/403366211_ce3a784cb8_m.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-300301099885900439</id><published>2009-09-01T09:50:00.000-07:00</published><updated>2009-09-01T09:53:36.035-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>S2 Pendidikan Akhirat; Ada Beasiswa</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:14;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Cecep Hasanuddin el-Sumatrani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Sp1RbIMbw0I/AAAAAAAAAIA/d0QBFHkKOZU/s1600-h/n1508503452_2824.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Sp1RbIMbw0I/AAAAAAAAAIA/d0QBFHkKOZU/s200/n1508503452_2824.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376543056648192834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:14;" &gt;Saya adalah orang yang suka dengan tantangan dan petualangan. Pernah suatu kali saya terpegok oleh salah satu teman saya, namanya Armagedon. Terkejut yang saya rasakan. Ada juga perasaan malu muncul. Tapi itu semua saya tepis jauh-jauh. Dan sampai sekarang pun, saya masih tetap konsisten dengan hobi saya. Berpetualang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:14;" &gt;Entah mengapa, perjalanan hidup saya terasa santai dan ibarat air mengalir. Mulai sejak dari SD sampai sekarang. Hidup saya seperti itu saja. Sulit digambarkan. Saking sulitnya, tak kuasa menceritakannya. Kok bisa begitu,ya? Wah..saya pun akhirnya mengaku, bahwa saya memang sedang menulis apa yang terlintas dalam benak saya malam ini. Tentunya sambil dibarengi lagu dari grup band asal Bandung;Changcuter;I love you bibeh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:14;" &gt;Jika diceritakan kisah perjalanan hidup saya, mungkin tak cukup waktu untuk diceritakan. Butuh waktu yang konsen dan full 24 jam. Masyaallah memang. Bahkan astagfirullah. Bisa juga innalillah. Begitulah. Bisa jadi bagi yang mendengarnya akan merasa bosan dan muak. Tapi, bagi saya itu merupakan nilai plus yang semestinya diapresiasi oleh siapa saja yang menghormati sebuah karya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:14;" &gt;Taka ada lagi kata untuk berubah selain kita mengucapkan teruslah berkarya. Karena hidup tanpa karya bagaikan seekor burung tanpa sayap. Tak bisa terbang. Kering. Atau kata yang pas buat kita yang tidak sama sekali berkarya adalah tak ada semangat dalam hidupnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:14;" &gt;Hidup memang sebuah tantangan yang harus dihadapi oleh kita yang masih menghirup udara kebebasan. Bagi yang sudah di alam kubur, baginya tak ada tantangan sebagaimana di dunia. Tantangan di alam kubur paling banter menjawab pertanyaan Malaikat. Bagi yang kurang tepat dalam menjawab, ia gagal menuju pintu kebahagiaan. Dan beruntunglah bagi mereka yang cekatan menjawab. Ia akan merasa gembira, dan Tuhan pun ikut mengapresiasi atas jerih payahnya selama ini. Akhirnya, Tuhan juga memberikan kesempatan beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Tentunya setelah menyelesaikan pendidikan di dunia pana selama bertahun-tahun. Ada yang 70 tahun, 65 tahun, 50 tahun, 40 tahun, 30, 20, 19, dan bahkan ada yang 5 menit saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:14;" &gt;Jika lulus dan lolos pada sarjana dunia pana, maka berhak bagi Tuhan memberikan beasiswa untuk magister, atau dalam dunia akademiknya sering disebut S2. Ingat! Ini fasilitas Tuhan yang sangat gratis. Insyaallah tanpa tes TOEFL atau pun TOAFEL. Syaratnya tidak sesusah syarat-syarat mendaftar menjadi PNS. Ribet. Berbelit. Harus ini harus itu. Kalau beasiswa untuk pendidikan akherat, cukup menjawab beberapa pertanyaan dari Tuhan yang diamanatkan kepada malaikat Rakib-Atid. Beberapa pertanyaan itu akan diajukan kepada kita, nanti, di alam kubur.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:14;" &gt;Pertanyaannya sangat mudah. Tidak jauh dari kita dan Tuhan. Saya pun sangat yakin, beberapa pertanyaan dan jawabannya sudah bocor. Pertanyaan serta jawaban sudah ada dalam benak kita saat ini. Bahkan, saya berhusnudzon, seandainya saya ajukan satu pertanyaan saja kepada Anda sekarang ini, pasti, Anda dengan sangat lancar menjawabnya. Bisa jadi, jawaban Anda sangat berbobot dan kaya teori.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:14;" &gt;Juga perlu diketahui bersama, bahwa nanti, di alam kubur itu, tidak ada sama sekali pertanyaan eksak. Atau yang berhubungan dengan algoritma, akar pangkat, metalurgi, geologi, dan istilah-istilah yang membuat otak kita berkeringat. Tidak sama sekali. Jadi jangan merasa bingung tepat atau tidak jawaban kita nanti. Agar tepat sasaran jawaban kita, kita pun sesungguhnya sangat paham apa yang mesti kita persiapkan sejak saat ini sampai hari yang tidak ditentukan.&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:14;" &gt;Dengan demikian, dengan waktu yang tidak ditentukan tersebut, maka ada banyak kesempatan untuk kita mempersiapkan segalanya. Bisa kursus di lembaga pendidikan ternama, mungkin, atau berusaha belajar secara otodidak. Karena tidak sedikit, para pendahulu kita, semisal ustad Aristoteles yang sampai saat ini, nama dan sumbangan ilmunya sangat dikenang. Dia bisa seperti itu karena belajar otodidak. Mendatangi kebeberapa guru yang ahli dibidangnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:14;" &gt;Bisa jadi, di dunia ini tak ada yang tidak mungkin. Kecuali memakan kepala sendiri. Orang yang belajar otodidak dengan sungguh-sungguh mendalami disiplin ilmu tertentu, mereka bahkan bisa mengalahkan orang yang belajar pada pendidikan formal. Baik itu dari segi intelektual, maupun segi yang lain. Bagaimanakah dengan kita? Akan lebih bijak jika jawaban itu disimpan sementara dalam memori kita. Karena bila dijawab sekarang, bisa jadi akan mengganggu apa yang sedang Anda baca sekarang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:14;" &gt;Untuk S2 pendidikan akhirat, memang semua orang pasti sangat mengharapkannya. Apalagi, itu kan beasiswa.. Tuhan yang akan langsung mengurus seluruh administrasinya. Tuhan akan dengan tulus melayani semuanya. Belum lagi ditambah dengan plus-plusnya. Pokoknya sangat memuaskan. Kita akan diberikan, tentunya dengan gratis pula. Bebas mau berapa saja. Kita tinggal atur hati kita, mau satu, lima, atau terserah kita. Ya, kita akan dipersiapkan Bidadari-bidadari cantik. Cantiknya tak ada yang menandingi sebagaimana di dunia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:14;" &gt;Selanjutnya, selamat mempersiapkan S2 untuk pendidikan akhirat.. Kesempatan itu terbuka untuk siapa saja. Dari golongan mana saja. Yang mengaku Muhammadiyah kah? NU kah? Persis kah? HTI kah? Jama’ah Tablig kah? NII kah? LDDI kah? Atau pun Ahmadiyah kah? Yang jelas, yang masih mengaku islam, yang masih salat dalam lima waktu sehari-semalam. Mereka pantas untuk mendapatkan beasiswa. Manusia tidak berhak menentukan siapa yang mendapatkan itu. Hanya Tuhan lah semua yang memutuskan. Sekali lagi, kita hanya berusaha ke arah itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-300301099885900439?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/300301099885900439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/09/s2-pendidikan-akhirat-ada-beasiswa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/300301099885900439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/300301099885900439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/09/s2-pendidikan-akhirat-ada-beasiswa.html' title='S2 Pendidikan Akhirat; Ada Beasiswa'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Sp1RbIMbw0I/AAAAAAAAAIA/d0QBFHkKOZU/s72-c/n1508503452_2824.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-7130946785779559779</id><published>2009-07-25T17:31:00.000-07:00</published><updated>2009-07-25T18:38:35.225-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Vidio'/><title type='text'>Vidio Kenang-Kenangan</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Mohon, jika ada gambar atau foto yang tidak berkenan dengan hati Anda harap dimaklum.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="320" height="266" class="BLOG_video_class" id="BLOG_video-1643563b0c3edc87" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/get_player"&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF"&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="flashvars" value="flvurl=http://v21.nonxt1.googlevideo.com/videoplayback?id%3D1643563b0c3edc87%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1329838247%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D25AEEC3B4D24BEA8366BEB822C6CA7C8E379A0EF.1B8BA7666F3C310E5EC10B8EE792DF8F32265B47%26key%3Dck1&amp;amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3D1643563b0c3edc87%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3D8Ylfyn-jGPRbs02A75CkhsuJXSA&amp;amp;autoplay=0&amp;amp;ps=blogger"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/get_player" type="application/x-shockwave-flash"width="320" height="266" bgcolor="#FFFFFF"flashvars="flvurl=http://v21.nonxt1.googlevideo.com/videoplayback?id%3D1643563b0c3edc87%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1329838247%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D25AEEC3B4D24BEA8366BEB822C6CA7C8E379A0EF.1B8BA7666F3C310E5EC10B8EE792DF8F32265B47%26key%3Dck1&amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3D1643563b0c3edc87%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3D8Ylfyn-jGPRbs02A75CkhsuJXSA&amp;autoplay=0&amp;ps=blogger"allowFullScreen="true" /&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-7130946785779559779?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='video/mp4' href='http://www.blogger.com/video-play.mp4?contentId=1643563b0c3edc87&amp;type=video%2Fmp4' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/7130946785779559779/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/07/vidio-kenang-kenangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/7130946785779559779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/7130946785779559779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/07/vidio-kenang-kenangan.html' title='Vidio Kenang-Kenangan'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-6703869803104315084</id><published>2009-07-24T07:19:00.000-07:00</published><updated>2009-07-24T07:21:59.093-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><title type='text'>Sebelum Kujatuh</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Frida Firdiani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SmnDe7Uq8-I/AAAAAAAAAHw/0DSqDzfBT9o/s1600-h/6771_1024293744055_1726610012_47261_3622856_s.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 130px; height: 97px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SmnDe7Uq8-I/AAAAAAAAAHw/0DSqDzfBT9o/s200/6771_1024293744055_1726610012_47261_3622856_s.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5362031767449170914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Setiap hari kucari jawaban      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap langkah kutepis cobaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubertahan dengan perkiraan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karna kuyakin ini bukan masalah perasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Berawal dari sebuah kekaguman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Beranjak dengan ragam kebetulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Tapi mengapa tafsir-tafsir itu semakin muncul dalam pikiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Menghambatku dalam mengambil keputusan&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;     Hari itu adalah hari yang indah untuk dilewati. Dengan aroma persahabatan yang merebak di sekujur tubuhku, kulewati perpustakaan hanya sekedar lewat, tanpa tersirat untuk meliriknya sekalipun. Mendadak ada suatu hal yang membuat langkahku terhenti. Seseorang yang  kusegani muncul dikehangatan mentari. Setelah hal itu terjadi, berubah jumlah orang yang kusegani. Awalnya aku menyapa Syeikh Mesir. Beliau menuntunku dalam mengkaji pengetahuan baru. Dengan keterbatasan bahasa Arab yang kupunya, aku harus berjuang keras untuk memahami bahasanya. Mataku berubah lirikan tanpa komando. Ada seseorang bersama Syeikh yang memunculkan kalimat dalam pikiranku: “Dia bukan sembarang Mahasiswa,” just it. Akupun baru melihatnya dan tidak mengenalinya. Tapi pikiran tadi muncul begitu saja, tak tau di mana awalnya, kepedulian itu tertanam dalam pikiranku yang awam, seolah firasat baru dan tentu saja aku tak mau memikirkannya. Otakku terlalu berat untuk memikirkan yang mungkin saja membuat hidupku tersengat. Tersengat? Tentulah lelaki hebat itu tak salah. Karna yang berbahaya adalah kesetiaan yang muncul dalam relungku. Bila kesetiaan itu datang, pasti butuh waktu lama untuk mengusirnya, walau tiada ada jaminan bagiku untuk mendapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Kegigihanku untuk mendapatkan kesimpulan: “Bahwa Aku Tak Mencintainya!” semakin terbaca. Tapi kekagumanku dengannya semakin tercerna. Tak banyak yang kutahu akan dirinya. Tapi semakin meledak keyakinanku akan kehadirannya. Entah berapa sobat yang kuterjunkan dalam hal ini. Meraka jawab: “Kekaguman itu hanya topeng untuk menutupi cintaku padanya. ”Dan semakin banyak peserta kuis yang kulibatkan untuk menjawab tanyaku, hatiku semakin gelisah. ”Mana mungkin aku mencintai seseorang yang tidak aku kenal!” bagiku “Love At  The First Sight” itu hanya asap tebal yang mengombang-ambingkan penilaian seseorang. Its ok, coz hal itu tidak berlangsung lama. Api gelisah itu perlahan padam dan mampu menghangatkan suasana. Perlahan kehangatan itu semakin kurasa. Sebuah motivasi seolah membanjiri peredaran darahku. Tanpa target untuk mengenalinya, aku berusaha untuk menjelma menjadi sebaik-baik wanita. Entah dari mana persepsi itu muncul, aku seolah tau banyak tentangnya yang dimataku “BAIK.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Tapi keadaannya menjadi lain ketika aku sering melihatnya. Penghuni kampus ini tentu saja bukan hanya aku. Itu artinya aku bisa mendapatinya di bagian kampus mana saja, dan berharap aku tak menemukannya di bagian tubuhku yang tak bisa dibohongi ini, yaitu hati. Pikiranku mulai bercabang. Mungkinkah kebetulan yang bertengger itu adalah rambu untuk mengenalinya.  Aku pun tak ingin kehilangan kesempatan. Terkadang aku berubah seperti laron yang mendekati cahaya, seperti kutub magnet selatan yang mendekati utara. Aku berusaha untuk mendekati orang-orang yang mengenalinya.  Kupikir, dengan tau banyak tentangnya penasaran itu akan selesai, dan hidupku akan seperti dulu, TANPA MEMIKIRKANNYA!!! Nyatanya aku malah mencintai caraku untuk tau jauh tentangnya. Entah berapa hati yang telah terusir, entah berapa jiwa yang kian tersiksa, tapi maaf saat ini aku tak ingin menjalin dengan yang lain, yang kuingin hanyalah informasi tentang DIA, karna firasatku seolah DOA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Sekarang adalah puncak kegalauanku. Semakin hari semakin kuyakin cinta itu tiada. Tapi rasa penasaran itu semakin menjelma. Ada apa ini? Kesalahan kian terukir, logika semakin tersingkir. Seharusnya aku menjadi pemikir, agar kehidupanku tak sampai terjungkir. Bila aku dihadapkan dengannya, bibirku seolah terkunci untuk menyapanya. Karna yang kutakuti adalah mengharapkannya. Aku masih ada PR untuk menyapanya, karna atas dasar kebetulan pula, aku telah bercengkrama dengannya dalam suasana nyata, bukan angan semata, dengan kata lain “saling mengenal.” Kudengar dia tengah menjalin dengan yang lain, hatiku sedikit goyah dengan alasan akses untuk semakin mengenalnya akan terlelang. Tapi sebuah lega muncul dengan mempesona, dengan dia bertunangan, artinya ada suatu pembendung jika aku mencintainya di suatu saat. Hatiku tercabik ketika mendengarnya: ”Insyaallah saya lulus tahun depan.” Sebuah semangat yang rupawan, tapi perlahan berubah menjadi ancaman. Aku takut merindukannya kelak. Kutakut rindu itu berubah menjadi sesuatu yang membuatku cemburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Cinta itu adalah perasaan yang agung, yang datangnya bukan karna terpaan keadaan atau paksaan karna kekaguman. Sejauh ini aku masih yakin bahwa semua ini hanya kebetulan. Aku hanya kagum padanya. Tapi keadaanku sedang tak mencinta yang lain, sehingga kekaguman ini kadang tak terorganisir pada tempatnya, dan terkesan kumencintainya. Sedikit pun aku tak pernah menyalahkan kehadirannya. Yang kusesali hanya penyikapan diri akan semua yang terjadi. Maafkan aku Tuhan, yang kadang goyah dengan terpaan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-6703869803104315084?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/6703869803104315084/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/07/sebelum-kujatuh.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/6703869803104315084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/6703869803104315084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/07/sebelum-kujatuh.html' title='Sebelum Kujatuh'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SmnDe7Uq8-I/AAAAAAAAAHw/0DSqDzfBT9o/s72-c/6771_1024293744055_1726610012_47261_3622856_s.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-8642316243408874566</id><published>2009-07-24T07:12:00.000-07:00</published><updated>2009-07-24T07:17:14.234-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Menunggu Mood? Maaf, Bukan Prinsip Saya!</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Cecep al-Sumatrani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SmnCL3aiagI/AAAAAAAAAHo/FgJrGOwSSqE/s1600-h/5936_1070375568802_1508503452_30167040_1608662_s.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 130px; height: 97px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SmnCL3aiagI/AAAAAAAAAHo/FgJrGOwSSqE/s200/5936_1070375568802_1508503452_30167040_1608662_s.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5362030340470893058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Jangan menunggu mood. Kalimat itu yang sering saya ingat sampai sekarang semenjak saya membaca beberapa artikel yang berkenaan dengan motivasi menulis. Juga hasil beberapa diskusi bersama teman-teman satu komunitas kepenulisan. Memang benar adanya. Dan itu yang saya rasakan selama ini jika ingin memulai menulis.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mood menulis, hilang sama sekali dalam benak saya. Dalam ketiadaan mood itulah saya manfaatkan untuk terus menulis. Dan menulis terus. Apapun jadinya, saya tak pernah berpikir ini jelek-bagus terlebih dahulu Mau panjang, atau pendek. Bagi saya itu tidak masalah. Yang masalah adalah jika saya tak menulis satu huruf pun. Apapun yang terlintas dalam pikiran, itu saya hantam. Saya tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menulis untuk detik ini, jujur, gak ada mood sama sekali. Awalnya,saya terus berpikir, mau menulis apa,ya? Dari pada berpikir lama dan lama mikir, saya akhirnya menulis apa yang sedang Anda baca ini. Sepertinya, ini yang akan saya tulis. Sebenarnya, sepulang dari kampus, saya melewati lorong-lorong jalan. Yang di kanan-kirinya komplek kos-kos mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika asyik berjalan, saya melihat ada anak-anak sedang berkumpul dan bercengkerama sesama teman-teman sepermainannya. Dari obrolan mereka, saya hanya menangkap satu percakapan mereka. Atau saya sempat mendengar, ada ucapan yang diucapkan oleh salah satu dari mereka. Kalau tidak salah, berarti benar. Yang mengucapkan itu seorang lelaki. Kira-kira, jika ia sekolah, pantaran SD kelas 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu, sambil memanggil temannya pula.”Wey! Isuk tempo inbox,nya? Alus sia euy, aya mbah Surif!”. Itu kira-kira yang saya tangkap apa yang diucapkan ketika saya melewati sebuah lorong yang tak jauh dari kampus saya. Saya terus berjalan,meski kaki reot saya terasa ada yang berbunyi. Mungkin, ada yang lepas beberapa baut kaki. Sudah usang nampaknya. Perlu Anlene. He.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya berjalan yang saya lanjutkan, tetapi pikiran saya semakin liar semenjak apa yang telah saya dengar barusan. Apa pasal? Bukan pasal 28 ayat 1 dan 2. Bukan sama sekali. Tapi ada yang membuat saya iri dari obrolan anak-anak kecil tadi. Kok,iri? Boleh,ya iri? Bagi saya pribadi, iri untuk memotivasi sangat diperbolehkan. Bahkan, jika ada yang melarang pun, saya coba pikir-pikir dulu, mengikutinya, atau saya mengkaji terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking liarnya pikiran saya, sampai ke sana apa yang saya tulis. Yang membuat saya seperti itu, dan membuat saya menulis, adalah anak-anak tadi. Sekali lagi, anak-anak itu yang salah. Hingga, anak-anak itu jadi korban tulisan saya. Mudah-mudahan mereka tidak tahu, ternyata, percakapan mereka ada yang menyadap. Sepertinya, anak-anak itu kurang pengamanan. Mereka, di areanya tidak menggunakan CCTV. Jika mereka memakai, tak mungkin saya capek-capek menuliskannya. Beruntung lah saya, karena dari mereka saya tahu dunia anak-anak, serta apa yang mereka pikirkan dan inginkan. Begitukah Anda?&lt;br /&gt;Tak banyak sebenarnya apa yang ingin saya tulis berkenaan dengan percakapan anak-anak tadi. Eh,sekedar berbagi info dengan Anda. Apakah Anda tahu, bagaimana saya menulis tulisan ini? Saya kira Anda belum tahu, karena memang belum saya beri tahu. Saya menulis tulisan ini, menurut saya sangat enjoy. Seenjoy Anda membaca tulisan ini. Saya menulis, sambil ditemani Hock Guan Rose Cream Biscuits dan lagu-lagu yang sedang booming saat ini. Misalnya, Tak Gendong-nya mbah Surif, KCB-nya Melly, Muhasabah Cinta, dan sesekali mengenang bintang pop dunia yang baru saja dimakamkan. Dimakamkannya pun, katanya, tanpa otak. Atau lagu-lagu yang dikira bisa menyejukkan hati. Apakah lagu-lagu Jacko menyejukkan hati? Bisa ya, bisa juga tidak. Tergantung siapa kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cara seperti itu, yang tadinya menulis itu sebuah beban, kini beban itu berubah menjadi ringan. Bahkan mengasyikkan. Ini pun tidak bisa dinikmati bagi kita yang belum mencoba. Hindari,kata-kata, bahwa menulis itu sulit jika belum menceburkan dalam kubangan menulis. Itu yang saya rasakan. Bila saya merasa bingung apalagi yang ingin saya tulis, saya berhenti sejenak. Sejenak saja. Kalau bisa hindari terlalu lama. Waktu sejenak itu, saya manfaatkan untuk menikmati Rose cream Biscuits. Dua-tiga potong Biscuits tak tersisa. Setelah itu, saya pun tidak tahu, secara ajaib, kata-kata yang ingin saya tulis muncul kembali. Ya, bisa jadi semacam ilham lah. Insyaallah bila kita mencobanya, ia akan mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin asyik menulis semakin sulit bagi saya mengakhiri tulisan ini. Anda pun semakin sulit memalingkan mata Anda untuk berpindah dari membaca tulisan saya. Dan, sebenarnya, saya pun turut berterimakasih kepada Anda atas bersedianya Anda membaca tulisan saya. Jika kita plasback kepada obrolan anak-anak di muka, ternyata anak-anak lebih peka terhadap perkembangan zaman. Terutama dalam dunia musik. Mereka pasti sangat hafal lagu mbah Surip. Juga mungkin lagu yang lain. Bagaimana tidak hafal, hampir setiap hari, kita, yang mempunyai pesawat televisi pasti akan disuguhi acara musik. Ada Dahsyat, Dering, Inboxs, dan nama yang lain yang menyuguhkan acara live musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun tidak tahu, mengapa anak-anak di zaman saya, mereka kurang menyukai lagu-lagu yang pantas buat mereka. Atau cocoknya, lagu itu buat remaja-dewasa. Tapi anak-anak  menyukainya. Itu kira-kira apa yang terlintas dalam benak saya ketika melewati kerumunan anak-anak di komplek kos. Saya juga, pada akhirnya memuji anak-anak itu karena mereka, ternyata lebih tahu apa saja yang sedang hangat di televisi. Saya hanya berdo’a, mudah-mudahan keingintahuan anak-anak itu tidak sebatas acara musik saja. Tapi lebih dari itu yang sekiranya mendukung prestasi akademik di sekolahnya. Perkembangan berita dunia, berita pendidikan, atau bahkan, anak-anak tahu tidak bahwa kita telah melaksanakan pilpres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak menganggap ini sebuah tulisan serius. Begitupun dengan Anda. Ini hanya semacam ekpresi saya ketika saya tidak sedang mood menulis. Namanya juga sedang tidak mood, maka isinya pun tak jauh dari yang saya rasakan. Atau ini hanya sebuah goresan tak bermakna bagi Anda. Tapi bagi saya, ini sebuah anugrah yang tak terkira. Karena saya bisa menulis bebas tanpa terikat oleh apapun. Saya pun yakin, Anda lebih berkompeten dalam dunia yang sedang saya geluti ini. Dalam tulisan ini pun saya membuat kesalahan, saya tidak akan memohon maaf, sebab rasanya lebih berguna bila saya mohon Anda memperbaikinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-8642316243408874566?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/8642316243408874566/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/07/menunggu-mood-maaf-bukan-pronsip-saya.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/8642316243408874566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/8642316243408874566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/07/menunggu-mood-maaf-bukan-pronsip-saya.html' title='Menunggu Mood? Maaf, Bukan Prinsip Saya!'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SmnCL3aiagI/AAAAAAAAAHo/FgJrGOwSSqE/s72-c/5936_1070375568802_1508503452_30167040_1608662_s.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-8638442896724074295</id><published>2009-07-24T07:06:00.000-07:00</published><updated>2009-07-24T07:11:23.732-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>My first Dream</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Hasan al-Sumatrani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SmnA3YAa1eI/AAAAAAAAAHg/D7i0IlwS-_s/s1600-h/n1508503452_2824.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SmnA3YAa1eI/AAAAAAAAAHg/D7i0IlwS-_s/s200/n1508503452_2824.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5362028888930833890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tiba-tiba saya bertemu dengan salah satu teman saya. Dia teman satu kuliah. Namanya Ihsan. Perawakannya tinggi kurus serta memakai Kacamata. Teman-teman satu kelasnya sering menyebut si-HTI. Karena memang, Ihsan seorang aktivis Hizbul Attahrir Indonesia, wilayah Bandung. Ia juga aktif di organisasi yang ada di kampus. LSPI kalau tidak salah. Lebih panjangnya, Lembaga Studi politik Islam. Organisasi itu, ideologinya lebih dekat dengan HTI. Yang saya tahu, saya sering membaca selebaran LSPI yang sering ditempel di mading kampus. Isinya, memang tidak jauh dari ajakan pada penegakan syariat islam di Indonesia. Dan sering pula, dalam tulisan-tulisannya, menyebut bahwa, pendidikan kita, pendidikan Indonesia, disebut sebagai, atau menganut sistem kapitalisme. Saya pun sedikit tahu, bahwa mereka, para aktivis HTI itu, terutama dalam pemilu, mereka pasti tidak memilih. Alias golput.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dalam tulisan kali ini bukan hendak menceritakan tentang HTI-nya, tapi saya ingin menceritakan sedikit mimpi tidur saya. Tentunya hanya yang saya ingat saja. Yang tidak teringat, tidak akan saya tulis. Karena kata Ernest Hemingway, beliau seorang cerpenis dunia yang beberapa kali mendapat hadiah Nobel. Tentunya karena karya yang menyelimutinya. Katanya, jika ingin pandai dalam menulis fiksi, maka tulislah mimpi-mimpi kita yang kita alami ketika tidur. Mimpi ketika tidur, adalah dunia imajinasi. Mimpi itu terkadang aneh, tidak nyambung bahkan sering menemukan-menemukan keganjilan.. Itu uniknya mimpi. Jika bisa menuliskannya setiap hari apa yang kita alami ketika mimpi, maka setengah berhasil kita bisa berimajinasi. Untuk selanjutnya, kita menjadi penulis fiksi sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, malam tadi, saya sempat bermimpi. Mimpinya agak aneh. Yang ada dalam mimpi itu, ya dia, Ihsan. Waktu itu, kira-kira agak sore. Langit terlihat berawan hitam dan ditemani rintik hujan. Saya pun agak sedikit basah kuyup. Tepatnya di jalan Manisi, dekat tanjakan kantor kecamatan Cibiru. Saya melihat, tiba-tiba jalan Manisi yang tadinya beraspal hitam, kini menjadi seperti sungai. Awalnya, airnya tidak begitu deras, Biasa saja. Namun, selang beberapa menit, saya sambil ketakutan dan terkejut. Air sungai itu meluap. Persis seperti banjir di Baleendah. Sedangkan di pinggir sungai yang sedang meluap itu, Ihsan dan seorang perempuan sedang asyik bercengkrama. Posisinya, perempuan itu duduk sambil tangannya memegang kakinya. Sedang Ihsan berdiri. Perempuan itu berjilbab. Rambutnya agak sedikit terlihat. Warna jilbabnya kecoklatan. Lusuh. Ihsan memakai baju koko kehitam-hitaman, pake tas hitam pula. Tak lupa, bertengger kacamata khasnya. Dillihat dari samping, mirip seperti artis yang menyanyikan lagu”Terima Kasih Cinta”. Afgan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, tangan Ihsan melambai tanda menyuruh si perempuan yang ada disampingnya untuk beranjak dari sana. Mengingat, karena mereka sedang berada di pinggir sungai dan airnya semakin tidak menentu. Beberapa menit lagi meluap..Meluber.”Cepat pindah dari sana!” Ujar Ihsan sambil sedikit riweuh. Mendengar panggilan dan ajakan itu, perempuan tadi hanya terdiam dan berujar.”Aku mau tetap di sini saja, tinggalkan aku segera!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ihsan hanya melongo mendengar jawaban seorang perempuan yang tak jelas siapa sebenarnya dia. Selang beberapa detik, kontan saja, air yang tadinya tenang, kini berubah wujud menjadi beringas dan membabi buta ke sekitar rumah penduduk. Setelah itu, tak tahu lagi. Tiba-tiba, berubah ke latar yang berbeda. Di jalan yang tadinya penuh dengan air melimpah, kini, air itu entah kemana. Di jalan beraspal itu hanya meninggalkan tetesan-tetesan air saja ditemani sebuah mobil Truk warna kuning. Lalu, di kanan-kirinya ada sawah yang belum ditanami padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, saya hanya melihat bayangan hitam. Begitulah kira-kira apa yang saya alami ketika berada di alam mimpi kemarin malam. Banyak sekali yang saya lihat dalam mimpi itu, tapi, apalah daya, saya sangat lupa. Benar-benar lupa. Mimpi yang aneh....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My Second Dream&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah suara dari mana, tiba-tiba saja ada yang berkata,”Nanti, bila SBY menang jadi presiden, yang akan jadi menteri Komunikasi Informasi adalah saudara Rizal Mallarangeng”. Secara spontan juga, ternyata ada yang menimpali kalimat di atas. Yang menimpali atau menjawab itu datang dari salah seorang fungsionaris PKS. Entah siapa namanya. Dari perawakannya, agak gendut, berjenggot agak keputihan, dan sambil senyum. Bertengger di kepalanya peci warna. Tak begitu jelas apa warnanya. Dilihat dari umur, kira-kira 45 tahunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan Rizal pun ada di sekitar itu. Dia tak menampakkan senyum sama sekali. Yang ada hanya memperlihatkan wajah kesinisan. Tak tahu lah. Di tengah kesinisan yang menyelimuti Bung Rizal, fungsionaris PKS tadi langsung mengeluarkan argumen ketidaksetujuan saudara Rizal diangkat menjadi menteri Komunikasi jika SBY jadi presiden. Kata si PKS itu,”Wah..saya tidak setuju bila saudara Rizal diangkat jadi menteri Komunikasi, berbahaya. Liat saja trace recordnya ketika masa-masa kampanye. Banyak sekali ungkapan-ungkapan atau pernyataan beliau yang mengundang kontroversi masyarakat”. Kilah fungsionaris PKS itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kalimat yang begitu panjang diucapkan oleh orang PKS itu rampung, untuk selanjutnya, bayangan Menkominfo yang sekarang pun muncul. Ya, Muhammad Nuh. Dengan senyum khasnya, beliau(M.Nuh) yang juga mantan Rektor ITS(bila tak salah) itu, hanya terdiam dan sedikit menyunggingkan wajah ikhlas.. Memang seperti itu lah keadaannya. Tak ada yang ditambah atau dikurang. Yang ada hanya lupa, apa lagi yang akan diceritakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, iya. Kejadian ini terjadi di dekat jalan OTISTA. Tepatnya pas sekali dekat simpang mau ke masjid Agung Bandung. Tak jelas, siang atau malam kejadiannya. Jam berapa pun, tak diketahui. Yang jelas, tidak sedang hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, masih ingat. Fungsionaris PKS tadi melanjutkan ocehannya. Dengan mengatakan,”Dari pada saudara Rizal yang menjadi menteri Komunikasi-Informasi, mendingan kamu saja,Cep!, Rizal itu orangnya gak bener, gak bisa menjaga lisan. Sama seperti kakaknya!”. Dari kejauhan, tampak si Cep senyum-senyum terkejut. Mungkin karena ada tawaran menjadi menteri. Dan, orang-orang yang ada di sekitar kejadian itu, mereka hanya tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada lagi kelanjutan cerita di atas. Yang muncul selanjutnya adalah wajah seorang laki-laki. Laki-laki itu diketahui bernama, wah, panjang sekali namanya. Seandainya saja yang muncul itu bukan teman lama, sungguh tak sudi untuk menuliskannya. Apalagi, namanya terlalu panjang. Bisa-bisa nafas tersenggal bila menyebutnya. Yosso Widiantoro Eko Saputro. Disingkat YWES. Ampun,ya...Allah. Singkatannya saja udah panjang. Yang jelas dia bukan orang Padang, Rejang, Prancis, Arab, Bengkulu. Apalagi Sunda. Sangat jauh. Jauh sekali. Ibarat antara Langit dan Bumi. Entah lah, orang mana dia. Ujung hurufnya”O” semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YWES itu teman ketika di Mts Raudhatul Ulum, Sakatiga, OKI, Sumsel. Malah pernah sekamar pula. Setelah tamat dari Raudhatul Ulum, ia tak melanjutkan di sana. Alasannya, ingin menghirup udara kebebasan. Ingin bebas pacaran. Pokonya sebebas namanya yang panjang itu. Kemudian, tak sengaja, bertemu juga di MAN Model. Eh..sempat sekelas pula. Ternyata dunia ini sungguh sempit. Dia lagi, dia lagi. Tapi, tak ada kebosanan bila bertemu dengannya. Ada saja celotehan dan humor yang keluar dari mulutnya. Bila mendengar guyonannya, susah sekali menutup mulut ini. Inginnya tertawa. Mungkin saja itu bagian dari pengusir kepenatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika di MAN Model, Eh, MAN Model itu ada di Bengkulu. Di kota lho. Sekolah Favorit warga kota Bengkulu dan warga dari luar Bengkulu. Tepatnya, di jalan Cimanuk. Wah, nama jalannya mirip daerah yang ada di Jawa Barat. Warga Cimanuk, tahu gak, ya arti Cimanuk itu sendiri? Jangan-jangan...udah tahu...he..Ya, ketika di MAN, tepatnya kelas tiga, ada informasi bahwa ada pendaftaran formasi CPNS untuk Pengadilan Negeri Bengkulu. Berbekal info itu, Yosso dan juga teman-teman lain akhirnya mencoba mendaftar untuk jadi PNS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan pun dipersiapkan. Mulai dari foto, ijazah terakhir, Kartu Kuning, SKCK, Kartu Keluarga, dan lain-lain yang dianggap perlu.. Ijazah terakhir?? Dia kan belum lulus dari MAN Model? UAS saja belum. Lulus atau tidaknya pun belum diketahui. Apalagi, waktu itu, standar nilai harus 3,00. Kurang dari itu, terpaksa harus ada pendalaman materi lagi. Tapi ternyata, dilihat dari syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pendaftar di Pengadilan Negeri Bengkulu, minimal berijazah SMP,SMA atau yang sederajat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memberanikan diri, Yosso, tentunya berkat dukungan orang tua dan teman-teman sekelas, akhirnya memakai ijazah Mts Raudhatul Ulum. Setelah semua persyaratan mencapai sedikit 100%, berangkatlah ia bersama teman-teman yang lain yang juga ikut mendaftar. Dag-dig-dug jantung mereka berdetak. Keringat pun ikut membanjiri tubuh-tubuh mereka. Sesekali mengusap dahi. Tapi, air asin itu tak kunjung berhenti. Terus mengalir. Hawa Bengkulu memang panas. Tak beda jauh dengan karakter orangnya. Keras suaranya. Lembut hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tak salah, hari itu, Senin tahun 2006. YWES serta rekan-rekan lain mulai mengikuti tes tertulis di sebuah gedung besar. Gedung terbesar di provinsi Bengkulu. Mungkin. Balai Buntar namanya. Gedung itu dekat sekali dengan sekolah MAN Model. Cukup 7 menit dengan marathon. Wah, di dalam gedung itu bertumpuk ribuan orang yang sedang mencari peruntungan menjadi PNS. Dari berbagai daerah. Bukan hanya dari Bengkulu. Tapi dari luar Bengkulu. Dari berbagai suku, ras, mungkin etnis. Ada yang tampan, sedikit tampan, kurang tampan, cukup tampan, boleh lah tampan, mirip-mirip tampan, dan juga tak ada sebutan “tampan” sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang cantik, seperti cantik, kelihatan cantik, gak ah gak cantik, ayu, manis, hitam-manis, hitam-hitam. Ah, pokoknya warna-warni. Ih....Untung saja, saudara Yosso dan teman yang lain termasuk”mirip-mirip tampan”. Sehingga, banyak dari sebagian peserta yang lain mendekatinya. Tujuannya, tidak lain hanya untuk sekedar bertanya dan meminta.”Nanti, kalau sudah  mulai mengerjakan soal, jangan lupa,ya kasih tahu kami,”. Ujar mereka yang mendekati YWES.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira sebulan kemudian, pengumuman hasil tes PNS di Pengadilan Negeri Bengkulu pun diumumkan melalui koran kebanggan masyarakat Bengkulu. Ya, melalui harian”Rakyat-Bengkulu”. Di sana terpampang nama-nama yang lulus, berikut nomor ujiannya. Kontan saja, ketika YWES baru saja kering dari berdzikirnya, karena memang lima menit yang lalu sudah salat Dhuha di masjid sekolah. Biasa, ritual yang rutin dilakukan oleh anak-anak MAN Model, terutama kelas 3 bila mendekati UAN. Pak ustad itu (YWES) pun terkejut dengan kabar yang diberitahu oleh salah satu teman..Hasan.”Yos, namo kau ado di koran”RB”. Tapi idak tahu, lulus apo idak, kau tengok ajo di ruang BP”. Ujar Hasan yang kentara sekali bahasa Bengkulunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara percaya tidak percaya, kini menyelimuti pikiran Yosso. Terus berkecamuk. Hatinya pun tak menentu. Tangannya ikut bergetar. Bicaranya tak lagi jelas.. Gugup yang ada. Ketika ingin memasang sepatu saja, di pintu masjid, eh...lupa, masjid MAN Model tak berpintu dan tak berjendela. Hampir saja salah masuk. Sepatu kiri dimasukkan ke kaki kanan, dan sepatu kanan, dimasukkan ke kaki kiri. Wah, busyet dah.”Ayo, san, antar ambo ke ruang BP. Malu ambo sendiri,”. Begitu kata YWES kepada Hasan. Nampak juga sedikit logat Jawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, Yosso, selamat,ya, kamu lulus. Beruntung kamu, teman-teman yang lain belum berkesempatan lulus, mungkin nanti lah.” Kata ibu guru bahasa Indonesia itu.”Itu na, tengok di koran tu, cocok dak kek namo kau dan nomor ujiannyo” Ibu itu menambahkan. Dengan sedikit agak malu-malu dan disertai senyum merekah, akhirnya, Yosso pun buka mulut. “Ya, Bu, makasih,” Sambil koran yang di atas Meja itu dilahapnya. Setelah mencocokkan, menimbang, mencermati dan seterusnya, selanjutnya, Yosso dinyatakan LULUS! Kegembiraan pun kembali menyeruak dalam hati pribadi YWES. Ternyata, berguna juga ijazah pesantren. Kirain tak berguna. Makasih Tuhan, makasih Raudhatul Ulum, makasih orang tua, makasih guru-guru MAN Model, dan juga tak lupa, makasih teman-teman semua. Terutama sekali,makasih kepada pihak Pengadilan Negeri Bengkulu yang telah sempat meluluskannya. Karena memang, dari 400 orang yang mendaftar di PN Bengkulu, hanya diterima 10 orang. Termasuk yang mempunyai nama terpanjang di MAN itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya kembali menghitam. Tak terlihat. Kabur entah kemana. Rizal Mallarangeng, fungsionaris PKS, M.Nuh,  jalan OTISTA, Yosso widiantoro Eko Saputro, serta MAN Model. Semuanya ter-delet oleh suara-suara mengaji di sekitar kos. Beberapa menit kemudian, sayup kumandang adzan masuk telinga kanan, dan keluar lagi melalui telinga kiri. Tapi, bangun juga.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-8638442896724074295?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/8638442896724074295/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/07/my-first-dream.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/8638442896724074295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/8638442896724074295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/07/my-first-dream.html' title='My first Dream'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SmnA3YAa1eI/AAAAAAAAAHg/D7i0IlwS-_s/s72-c/n1508503452_2824.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-2520861955823276897</id><published>2009-06-30T15:56:00.000-07:00</published><updated>2009-07-19T06:58:03.793-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Saya Pun Tak Tahu Judulnya</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh : Hasan el-Sumatrani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SmMmYe5SyaI/AAAAAAAAAG4/yYhbCDSxq6E/s1600-h/n1508503452_2824.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SmMmYe5SyaI/AAAAAAAAAG4/yYhbCDSxq6E/s200/n1508503452_2824.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5360170183553108386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya sedang dilanda malas untuk berbuat sesuatu. Apalagi menulis. Entah apa yang terjadi pada saya saat ini. Kenapa jiwa ini terasa hampa dan sepi untuk melakukan apa saja. Termasuk menuangkan ide. Tak ada semangat sedikit pun yang saya rasakan sekarang. Yang ada, pikiran terus melayang, itu pun sangat bebas, entah kemana. Hidup ini terasa sendiri. Tak ada apa-apa, kecuali saya seorang diri. Di tengah kesendirian dan kehampaan hidup, saya mencoba menghidupkan komputer. Setelah hidup, beginilah akhirnya. Rasa kekesalan pada hidup, saya tumpahkan begitu saja pada komputer ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya malas berpikir untuk menulis apa. Otak saya tidak mau terkekang oleh pikiran-pikiran bagaimana menulis berbobot. Yang ada di dalam otak saya hanyalah ingin menulis apapun. Meski saat ini, saya sedang mengidap suatu penyakit yang berbahaya. Sangat berbahaya jika tidak diobati. Malas yang sedang saya idap sekarang. Penyakit yang membuat orang semua di dunia ini mati. Ya keduanya akan mati perlahan. Baik itu fisik atau rohani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk selanjutnya, saya pun kembali bingung dengan apa yang akan saya tulis berikutnya. Apa lagi, ya? Hai..ide datang lah padaku! Tak muncul-muncul. Apa yang harus saya lakukan selanjutnya? Mematikan komputerkah? Atau terus menulis? Batin saya mengatakan,”Lanjutkan menulisnya!!” Apa yang akan saya tulis? Aduh…saya telah kehabisan amunisi. Tapi biarlah, saya akan gunakan amunisai yang tersisa. Beginilah keadaan saya ketika dilanda malas. Malas sangat membuat saya menjadi malas untuk berbuat sesuatu. Kecuali, komputer ini saya lakukan dengan tidak semena-mena. Saya mencoba memperkosanya, hingga lahirlah deretan anak-anak saya. Meski lahir dengan prematur. Itu sangat lah wajar, karena saya melakukannya bukan dengan jalan halal. Dengan pemaksaan. Biasanya, jika yang namanya pemaksaan, akan merasa sakit dari kedua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun saya merasa sakit ketika memperkosa, tapi saya semakin asyik melakukannya. Terkadang lelah, lemas ,juga menghampiri saya saat itu. Keringat pun tak luput dari muka saya. Ketika mencapai puncak, semangat saya menurun, bahkan tak keluar sedikit pun. Susah memang, namanya juga memaksa. Memaksa untuk segera keluar. Jika tak seperti ini, kapan saya akan mengeluarkan. Biasanya, setelah saya melakukan hajat saya, saya merasa senang dan tak ada lagi beban. Anehnya, saya tak pernah memikirkan akibat yang telah saya lakukan. Apakah berakibat buruk atau sebaliknya. Tak pernah sama sekali. Buat saya, memikirkan apa yang telah saya perbuat adalah semakin membuat saya malas berbuat sesuatu.Bisa jadi, saya pun akan kehilangan semangat. Yang lebih parah, saya bisa saja bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi saya tegaskan. Saya tak pernah menyesal dengan apa yang telah saya lakukan. Memperkosa sekalipun. Sebagai informasi, bahwa saya sudah memperkosa berkali-kali. Tempatnya pun bervariasi. Di antara tempat yang sering saya gunakan sebagai pelampiasan nafsu saya adalah; Masjid Iqomah, Perpustakaan, Kos, Sekre, Rumah, dan tempat-tempat sepi yang jarang dilalui banyak orang. Hari ini pun saya kembali melakukan pemerkosaan. Entah keberapa kalinya. Tak terhitung. Mungkin ini yang disebut sebagai “ketagihan”. Tapi saya merasa belum puas dengan apa yang saya lakukan. Yang saya lakukan selama ini hanya sebatas memasukkan, tanpa mengeluarkan. Saya ingin sekali sampai penetrasi. Tapi, nampaknya belum sampai di situ. Mungkin saya harus lebih agresif, dan terus memasukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang saya pun kurang untuk bersabar. Padahal, sekian banyak buku tentang teknik memperkosa telah habis saya baca. Bahkan saya hafal. Namun, hasilnya masih belum signifikan. Harus apa saya? Haruskah saya berhenti memperkosa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiada yang lain”. Tiba-tiba, secara mengejutkan, saya teringat kata itu. Kata itu adalah sepotong larik lagu dari”Tirai”. Tirai adalah nama sebuah Band religi besutan salah satu aktivis IMM komisariat UIN Bandung. Sungguh, dengan kata itu, saya kemudian langsung terinspirasi untuk melanjutkan sebuah misi suci. Misi suci itu tiada lain adalah melanjutkan apa yang selama ini saya lakukan. Memperkosa. Sampai menyebabkan hamil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun tidak tahu lagi apa yang akan saya tulis selanjutnya. Mungkinkah saya telah puas? Sudah sampaikah saya penetrasi? Entah lah. Apapun yang akan melintas di otak saya, saya akan langsung menuliskannya. Sekali lagi. Tentang hal apapun. Dan sepulgar apapun. Pokoknya, bebas. Seperti kebebasan seekor Burung yang baru lepas dari kandang buatan manusia. Juga sebebas berpikir mas Ulil Absar Abdala. Begitulah saya menulis untuk saat ini, dan saat-saat selanjutnya. Do’akan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memperkosa dengan cara saya. Mau dari arah mana saja. Itu pun terserah saya. Bebas. Saya ingin kebebasan. Karena saya yang melakukan. Karena saya yang merasakan. Adapun Anda, sebagai pembaca, tak ada tugas sama sekali. Selain membaca dari awal tulisan saya sampai akhir. Mengenai penilaian baik-buruk, kurang ini-itu, sebaiknya begini-begitu, dan hal lain yang mengganjal Anda. Itu semua hanya boleh disampaikan ketika saya bertemu Anda langsung. Dan bukan di dunia cyiber. Bagi saya, berkomunikasi di dunia maya bukanlah jalan satu-satunya. Apalagi seperti sekarang, mendekati bulan tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok, jadi kesana, ya..? O iya kan bebas. Sebebas air mengalir. Jika ada kelokan, air yang berpuluh-puluh kubik itu pun ikut berbelok. Air tak pernah membantah. Kecuali sang Maha pembantah akan membantahnya. Juga sebebas Imam Samudra cs menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Terutama ayat-ayat mengenai jihad. Sebenarnya tak ada sama sekali hubungannya Imam samudra dengan tulisan saya. Tidak sama sekali. Tapi karena yang melintas dalam otak saya Imam samudra, apa boleh buat. Saya harus menuliskannya. Minimal, keluarga Imam Samudra merasa senang dengan Ia ditulis oleh saya. Meskipun, katanya, Imam samudra sudah terkena Timah panas-nya tim Brimob. Terlepas, Ia masuk Surga atau Neraka saya kurang tahu. Bukan kurang tahu, tapi memang saya tidak tahu. Itu urusan Tuhan saya, dan mungkin juga Tuhan Anda. Atau lagi-lagi, mungkin Anda tidak punya Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh, ternyata tak sulit menulis bebas. Mau jadi apa tulisan saya, itu terserah. Artikel, esei, cerpen, curhat, memoar, biografi, refleksi.. Sekali lagi saya tidak tahu. Yang jelas, tulisan saya ini bukan Puisi. Bila saja ada yang mengatakan tulisan saya ini sebuah puisi atau kumpulan puisi, maka orang itu wajib hukumnya bertemu dengan saya. Kita silaturahmi. Dan, berujung dengan saling tukar nomor Hp, juga saling memberikan masukan tentang tulisan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saya katakan sebelumnya, bahwa saya ini sedang menulis bebas. Boleh dikatakan, saya ini menulis dengan tidak taat pada aturan menulis. Atau sebutan yang lebih exstrim buat saya sekarang adalah saya sedang melakukan pelanggaran kelas berat dalam dunia tulis-menulis. Itu hanya sebuah kemungkinan dari saya yang tidak tahu aturan menulis. Tapi, kata”enjoy” adalah pas buat saya. Saya juga belum tahu, apakah ada orang yang sama dengan saya. Mereka menulis bebas seperti saya. Saya kira ada. Jika tidak ada, tak mungkin para penulis hebat itu kini melanglang buana di jagat ini. Karena menulis bebaslah, mereka mendapat kebebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking bebasnya, mereka sangat terkenal. Namanya harum di seantero dunia. Ya, terkenal dengan tulisan bebasnya. Terkenal dengan karyanya. Mereka juga sangat dikagumi oleh para penggemarnya. Karyanya juga dinilai membebaskan umat menusia dari berbagai keterpurukan. Karyanya menggugah jiwa serta pikiran pembaca. Karya seperti inilah yang mungkin sangat diharapkan oleh umat dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan salahkan saya, saya mohon sekali lagi. Saya hanya mencoba menuliskan apa yang terlintas di dalam otak saya. Apa adanya. Mungkin, untuk saat ini, itulah kira-kira isi otak saya. Hanya sedikit. Sebenarnya masih banyak, tak terhitung. Tapi, mereka masih bersembunyi, masih enggan keluar. Mungkin juga masih segan dan malu. Suatu saat, saya percaya, mereka akan keluar semuanya. Semoga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-2520861955823276897?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/2520861955823276897/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/saya-pun-tak-tahu-judulnya.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/2520861955823276897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/2520861955823276897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/saya-pun-tak-tahu-judulnya.html' title='Saya Pun Tak Tahu Judulnya'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SmMmYe5SyaI/AAAAAAAAAG4/yYhbCDSxq6E/s72-c/n1508503452_2824.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-2240186449871171759</id><published>2009-06-30T15:54:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T21:44:13.907-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Lelaki Itu</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cerpen Reza Sukma Nugraha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SkqYFrfEyVI/AAAAAAAAAGk/YVJ3TTTmz-M/s1600-h/4439_1075014831609_1113337937_30174316_307531_n.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 196px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SkqYFrfEyVI/AAAAAAAAAGk/YVJ3TTTmz-M/s200/4439_1075014831609_1113337937_30174316_307531_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5353258330423085394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Aku mengaguminya. Sewaktu shubuh, ia menjadi imam. Lantunan Fatihah beserta potongan ayat-ayat Ilahiah terdengar begitu meluluhkan hati yang mendengarkannya. Setiap yang mendengakannya? Aku tak tahu, yang jelas itu yang kurasa.&lt;br /&gt;Setelah itu, ia membalikkan badan kepada para jamaah. Sekilas pandangku tertuju pada mata teduhnya, namun lekas kualihkan kedua indera penglihatanku ini. Kita semua duduk, mendengarkan tausiahnya dengan seksama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengaguminya. Kalimat mayor yang selalu terbesit dalam hati sejak ia menjadi imam, kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt; ♥♥♥&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Aku memulai kuliah. Akhirnya Masa Orientasi Mahasiswa baru yang digelar Himpunan Mahasiswa selama sepekan lalu berakhir sudah. Aku senang. Tak ada lagi caci maki para senior. Tak ada lagi hukuman sportif, edukatif, atau rekreatif lagi. Sepekan lamanya, aku tak membantu ibu membuat kue dagangan. Sekarang aku kembali membantunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, mungkin aku tak kan memasang telinga untuk mendengar dendang firman Allah dilantunkannya. Suara jernih yang selalu tersimpan dalam memori. Selaras dengan teduh parasnya yang bercahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masya Allah! Aku kembali terlena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya kusimpan hal ini dalam hati. Terkunci rapat. Tak kan ada seorang pun yang akan kubagi cerita indah ini. Namun ku terlanjur bercerita pada Lili, teman baikku. Kurasa ia berhak tahu. Bahkan, sekarang kusadari ia wajib tahu hal ini. Karena sesungguhnya ku tak mau terlena dengan cerita penuh kemasyhuran dan kesenangan batin ini. Apa ini? Mengapa ku begini?&lt;br /&gt;Aku mengaguminya. Kuulang kalimat itu pada Lili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah pandangan pertama,” Lili berkata pendek. Kita duduk di pelataran mesjid kampus. Kumenengadah. Langit begitu cerah, batinku. Secerah hatiku. Namun sebetulnya aku gundah!&lt;br /&gt;Ya. Memang Lili benar. Itu akibat pandangan pertamaku. Pandangan pertama memang diakui orang sebagai sesuatu yang menggoda, sarat keindahan dan ketakjuban akan yang dipandang.&lt;br /&gt;Segera kutepis. Senyumku tiba-tiba datar. Memang benar pandangan pertama itu begitu menggoda, melenakan bahkan. Dan, kuakui itu adalah bagianku, hakku, milikku, atau mungkin rezekiku. Sepert yang dikatakan Rasulullah pada sahabat Ali bin Abi Thalib. Namun beliau mengatakan, bahwa pandangan berikutnya justru mencelakakan. Persisnya perkataan beliau, seperti pernah diungkapkan ustadzah Fatimah sewaktu ta’lim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Ali, jangan engkau susul pandangan pertamamu dengan pandangan yang lain, sebab pandangan pertama menjadi bagianmu sedangkan pandagan kedua dan seterusnya justru mencelakaknmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nay,” Lili memecahkan fikiranku. Astaghfirullah, aku telah mengabaikan Lili yang semenjak tadi duduk di sebelahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaiknya kamu bilang aja sama dia terus terang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memerhatikan ucapan Lili. Aku terdiam. Aku bukanlah orang yang pandai mengomentari ucapan orang. Jadi aku hanya diam. Sesekali aku hanya memberikan senyum pada Lili. Ingin sekali kubertanya, meminta pendapat lain, mengomentari pendapatnya, atau apa saja agar perbincangan ini tidak kaku, kosong, atau dingin, bahkan hambar tanpa interaksi yang hidup. Namun sekali lagi aku tak bisa. Mungkin Lili pun memahami watakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mengagumimu,” kalimat terpendek yang kukatakan waktu itu. Namun kukatakan dengan berjuta ton pemberat di bibir ini. Bahkan keringat tak sadar basah di berbnagai anggota badan. Namun setumpuk beban di dada baru saja musnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pelataran rumah Allah yang megah ini, kududuk bersebelahan dengan Lili. Sekira beberapa sentimeter, mungkin satu meter, duduk sesosok yang selalu buat malamku semakin berbintang, pagiku bersinar hangat, yang selalu merasuk menjadi buluh perindu dalam hari-hariku.&lt;br /&gt;Ia hanya tersenyum, ketika sekilas kupandang. Hanya sekedar melihat ekspresinya, ketika begitu lancang seorang wanita yang semestinya begitu menjaga hatinya dari ucapan-ucapan yang semestinya tak ia ucapkan. Aku tak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu panjang proses untuk akhirnya kuberkata seperti itu. Lagipula aku hanya berkata bahwa kumengaguminya. Apa ku salah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak!” tepis Ridwan kala itu. Salah seorang teman baikku juga. Ia terlanjur tahu –entah dari mana—dan kuberanikan meminta pendapatnya. Ia dikenal dengan pendapat-pendapatnya yang brilian, cara fikirnya yang sistematis, tentunya dengan “wejangan-wejangan” yang bijak disertai solusi yang jitu. Walau ku harus maklumi, pendapatnya terlalu “gaul” dan mungkin kurang sesuai denganku. Ya, karena dia.... Ups, aku tak mau jadi ghibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahkan lebih dari itu, lebih dari bilang sekedar kagum, kamu berhak, Nayla! Sekarang ini cewek nggak harus jaim tuk sekedar menyatakan maksud hati. Kalau terus kita diam, kapan si cowok tahu kalo kita suka sama dia. Nanti yang ada, kita sengsara.” Aku hanya tersenyum, menyimak pendapatnya. “Udah, sekarang beraniin aja bilang, aku yakin dia bukan tipe cowok yang akan menilai kamu yang enggak-enggak. Percaya deh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memang satu jurusan, bahkan sekelas. Bisa jadi Ridwan lebih mengetahuinya daripada aku, karena mereka sama-sama lelaki. Sedang aku, hanya gadis pemalu yang tidak perlu mencari tahu tentang kesehariannya, seperti wanita lain yang sedang berburu idamannya, bahkan terkadang wanita itu harus mengorek-orek kesana-kemari tentang kehidupan pribadi idolanya dari teman atau kerabatnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt; ♥♥♥&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Sebuah SMS. Kubaca,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Maaf, tadi tidak sempat jawab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubalas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tidak apa-apa. Malam begini, gi ngapain?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Baru selesai pengajian. Kamu sendiri, gi ngapain?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lagi bantu ibu buat kue.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku balas tanpa pertanyaan. Aku bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nay, sebetulnya aku juga mengagumimu. Aku menyukaimu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah senyum melebar di wajahku. Namun aku sendiri tak tahu apa yang harus kulakukan, apa yang harus kuucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang mengatakan apa yang selalu mengganjal di ulu hati. Aku mengaguminya. Itu saja. Aku tak mengaharapkan jawaban, karena sebetulnya ku tak bertanya. Tapi ia berkata hal yang sama. Aku juga mengagumimu, kemudian, aku menyukaimu. Aku tak percaya apa yang ia ucapkan. Apa maksudnya? Apa ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Ini cinta. Yang semua orang punya. Perasaan dalam hati manusia yang telah lahir semenjak manusia lahir. Yang menurut Kahlil Gibran, keindahan sejati. Yang selalu dijadikan tema dalam setiap film, lagu, dan novel. Yang membuat dua insan bergandengan tangan, berduaan, bermesraan, walau tanpa ada ikatan yang syah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja aku bergidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ia bilang suka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa ia memang memiliki perasaan cinta padaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri tak memahami diriku. Apa rasa kagumku hanya sebuah kiasan belaka. Padahal aku sendiri terjerumus pandangan yang membuat dampak seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu cinta itu kewajaran. Itu fitrah manusia. Kembali teringat perkataan ustadzah Fatimah, “Tak mungkin seseorang menghindar dari rasa cinta, kecuali orang itu keras hatinya, kurang waras alias gila.” Berarti aku memang merasakan cinta dan tak mungkin menghindar dari cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt; ♥♥♥&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Ly, aku nyesel dah bilang terus terang,” aku tiba-tiba mengadu pada Lili, siang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa nyesel?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku malu, masa wanita berani-beraninya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lili memotong ucapanku, “Nay, daripada kamu terus-terusan dibebani perasaan, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak, pokoknya aku harus meluruskannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meluruskan apa, Nay?” kata Lili sembari merapikan kerudungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku harus bilang, bahwa aku hanya mengaguminya, gak lebih,” kataku tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu jangan bohongi perasaanmu, Nay!” kembali Lili menatapku tajam. Kuterdiam. Aku tak tahu harus bicara apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya aku tunjukan sms darinya pada Lili. Memang semalam aku merenungkannya. Aku tak mau terus-terusan dirundung rasa yang begitu menggebu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja, malam itu, kuingin menepis rasa manis yang bersemayam di hati saat ini. Ku harus menghijab hati. Lebih mendekatkan diri pada Sang Maha Pemberi Cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, jalani saja!” Tiba-tiba Lili membubarkan lamunanku. Seperti biasa, ku hanya diam dan tersenyum. Senyum yang menyembunyikan rumitnya permasalahan batin ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridwan muncul di depan kita. Ia mendekati kita. Awalnya ku malu melanjutkan pembicaraan dengan Lili. Namun tak ada salahnya Ridwan ikut berpartisipasi dalam kegelisahanku, ya, untuk dapat pemecahannya. Mudah-mudahan. Kita bertiga berdiskusi seperti merundingkan suatu perkara yang teramat penting. Padahal kurasa ini bukanlah hal yang penting. Sangat tidak penting, bahkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt; ♥♥♥&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Ya, aku lumayan pusing juga sih,” ucp Ridwan saat mendengar keluhanku. Ia menghela nafas panjang. “Takutnya, pendapatku gak sesuai yang kamu inginkan. Aku gak bisa ngasih solusi yang gimana gitu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengerti apa yang ia ucapkan. Ia mungkin canggung denganku. Ia mungkin takut kalau solusinya –lagi-lagi—gak terlalu religius. Padahal kan tidak semestinya begitu. Toh aku ini wanita biasa-biasa saja, sama seperti teman yang lain. Hanya saja, sebutan sebagian teman, yakni “akhwat,” kadang membuatku malu karena membuat mereka, apalagi laki-laki –seperti Ridwan—menjadi terlihat canggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nay, yang saya tahu cinta itu rahmat dari Allah. Maka beruntung Nay bisa merasakannya.”&lt;br /&gt;Aku dan Lili hanya diam memerhatikan Ridwan. Sebetulnya aku ingin tertawa geli , apakah Ridwan menyadari ucapannya begitu “dalam” dan islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nay mungkin lebih tahu ayat-ayat Al-Quran mengenai ini, seperti Ali Imron 14 atau At-Taubah 24, dan yang lainnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat Lili tersenyum. Pasti yang ia rasakan sama denganku, terpukau mendengar Ridwan berbicara dalil, walau hanya menyebutkan nama surat dan ayatnya. Padahal kuyakin, ia hafal bunyinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi mengingat rasa cinta itu datang dan diciptakan oleh Allah, mengapa harus kita sia-siakan, harus kita tepis, atau bahkan kita bunuh? Yang harus kita lakukan sekarang hanyalah membangun cinta itu dengan iman. Karena iman yang akan mengingatkan kita, bila ada yang terlarang akan kita lakukan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening sejenak. Tak satupun diantara kita yang berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku gak begitu, kamu salah duga,” aku terpaksa bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salah duga bagaimana?” Tanya Ridwan serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sebetulnya ngaak…,” aku ragu mengucapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gak cinta?” Sambung Ridwan cepat. “Sudahlah, Nay. Kamu jangan memungkiri hati kamu sendiri..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali terdiam. Lili pun begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasa kagum itu hanya di mulut saja. Ketika kamu bicara berdua, eh bertiga, dengannya, kamu gugup. Di kelas bertanya atau menyapa, malu. Nay, kamu kan tahu, menurut imam Syafi’i, kalau perkataaan yang runtut menjadi kacau dan rahasia tersembunyi menjadi mencuat, itulah cinta!”&lt;br /&gt;Lagi-lagi ku tak menduga dengan pendapat Ridwan. Anak gaul yang juga anak band ini begitu bijak bahkan bernuansa islami sekali. Bila ku berani, inginku acungkan dua jempol untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kan gak ada konsep pacaran dalam Islam?” Aku bingung harus bilang apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutanyakan hal ini saja. Entah apa yang akan Ridwan katakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku gak nyuruh kamu pacaran, kok. Tadi aku udah bilang, kalau cinta dilandasi iman, maka yang terlarang akan urung dilakukan, termasuk pacaran. Cinta yang begitu indah akan ternoda bila tidak dilandasi hal itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pebincangan ini seperti milikku dengan Ridwan saja. Kulirik Lili yang dari tadi tak bergeming menatap Ridwan. Apa Lili masih terpana melihat Ridwan yang sungguh di luar dugaan.&lt;br /&gt;“Jadi, gimana? Aku gak ngerti maksud kamu..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pacaranlah! Buat sebuah kemesraan percintaan. Tumpahkan rasa kagum itu padanya. Sandarkan hati dalam ketenangan iwa bersamanya, tentunya dalam sebuah ikatan yang halal!”&lt;br /&gt;Aku terperanjat.. Ikatan halal? Maksudnya, aku harus…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, yang jelas aku gak mungkin ngelakuin itu. Wan, aku ingin melupakannya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa tak mungkin?” Kita bukan lagi anak SMP atau SMA. Menikah itu mungkin-mungkin saja. Tapi ya… kalau kamu tetap ingin melupakannya, tak ada cara lain. Jangan curhat padaku, tapi curhatlah pada Yang Maha Mendengar. Serahkan semuanya pada Maha Pemberi Cinta.&lt;br /&gt;Dalam shalat malam, teruslah meminta petunujuk dari-Nya agar kamu dapat segera menyelesaikan hal ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tepuk tangan. Lili yang dari tadi diam menghentak tepuk tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uhhh… pak Ustadz, keren banget tausiahnya!” pujinya pada Ridwan. Ridan tersenyum geer.&lt;br /&gt;Aku diam, diam, dan diam. Namun sebetulnya kumerenungkan kata-kata Ridwan. Apakah sudah buntu jalan dari manusia sehingga ku harus mengembalikan semuanya pada Allah.&lt;br /&gt;“Nay, sudah hampir Ashar, kita ke mesjid sekarang!” Lili melirik jam, ia mengajakku ke mesjid sekarang. Kita berdiri bergegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya, Nay. Kalau kamu ngerasa belum mampu. Tenang saja! Kamu tahu kan bagaimana firman Allah dalam An-Nur 33?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum mengangguk. Lili menepuk bahu Ridwan. “Uhh… aku semakin terharu,” ucapnya sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera pergi ke mesjid bersama Lili. Tak lupa mengucapkan banyak terimakasih pada Ridwan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt; ♥♥♥&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Malam ini sulit mata terpejam. Kumerenungkan semua ucapan teman-teman, Lili dan Ridwan.&lt;br /&gt;Aku mengaguminya. Selalu terbesit dalam angan, kalimat itu. Apa jalan terbaik dari semua ini adalah apa yang diucapkan Ridwan tadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikah. Aku bukan tak mau. Mustahil, bila aku tak mau. Aku tetap akan menjalankan apa yang dilakukan Rasulullah sebagai sunnahnya. Karena ku tak bisa menjadi Rabiah Al-Adawiyah, yang begitu cinta pada Sang Khaliq, sehingga menolak lamaran Abdul Wahid bin Zaid, Muhammad bin Sulaiman Al-Hasyimi, sampai yang terkenal, Hasan Basri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi permasalahnnya, apakah lelaki itu mau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat ucapan Lili sehabis Ashar tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia santri. Ia begitu sholeh dan tawadhu. Ia juga pintar. Yang jelas ia pantas bagimu. Apa yang kamu mau, pasti ia mau. Apa yang kamu tak mau, ia pun pasti tak mau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahhh. Mengapa kegundahanku melebar hingga berujung pada menikah. Namun ku harus memerhatikan ucapan terakhir Ridwan bahwa ku harus menyerahkan semua pada Sang Maha Pemilik Cinta, Pemberi Rahmat dan Fitrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segarnya tetesan air suci membasahi semua anggota wudhu. Kuambil mukena, dan kuhamparkan tempatku bersujud tuk mengahadap Keindahan Tiada Tara. Akan kupanjatkan beribu puji kepada-Nya, karena hanya Dia yang patut dipuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kepada lelaki itu, aku mengaguminya. Hanya mengaguminya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-2240186449871171759?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/2240186449871171759/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/aku-mengaguminya.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/2240186449871171759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/2240186449871171759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/aku-mengaguminya.html' title='Lelaki Itu'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SkqYFrfEyVI/AAAAAAAAAGk/YVJ3TTTmz-M/s72-c/4439_1075014831609_1113337937_30174316_307531_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-9207790551639305964</id><published>2009-06-30T15:50:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T15:54:11.894-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Lelaki yang Menangis</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cerpen Reza Sukma Nugraha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SkqXMb8kTxI/AAAAAAAAAGc/sbPNp99wBjM/s1600-h/n1113337937_5089.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 164px; height: 191px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SkqXMb8kTxI/AAAAAAAAAGc/sbPNp99wBjM/s200/n1113337937_5089.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5353257346999275282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Siapa bilang lelaki tak boleh menangis? Tanyamu suatu saat. Retoris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa tetes air mata yang kau buang dan kau perlihatkan padaku. Ragamu jantan. Namun hatimu sungguh betina. Nyalimu nol, sahabatku. Selalu kau ukir kesedihan pada dirimu. Dan selalu saja telingaku yang menyambut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa detik terbuang hanya untuk merintih. Meraung dalam gulita. Memaki-makiku dengan sinisme, bahkan sadisme. Tubuhku bosan kau pukuli. Di satu tangan, kau berpangku. Namun tangan lain kau ikat dan kau belenggu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Suatu purnama, matamu basah. Dadaku yang telanjang basah pula. Kau susut ingusmu dan tentu air matamu. Tiba-tiba saja kau berbisik lembut, “Maafkan aku.” Suaramu lembut, wahai sahabat lelakiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa bilang lelaki tak boleh menangis? Tanyamu di bawah gerhana bulan total.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini orang bertakbir pada Allah. Saling bersahutan. Gema suramu jatuh di kedua teliungaku. Kaukucurkan air mata kepedihan. Sehingga kau tanyakan, Tuhan dimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tak sadar, Dia memandang, betapa kautak karuan. Rambutmu kusut karenasemilir angin malam itu. Malam gerhana bulan total. Tuhan dimana? Tanyamu sambil menengadah. Kutampar wajahmu yang manis. Kaumenunduk dan beristigfar. Menarik lengan kananku dan kauusap air matamu dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan itu dimana-mana, sahabat sejati. Ketika terasa tak ada, kauberkoar-koar bertanya dimana Dia? SEdang saat Nampak jelas Tuhan di atas pelupuk matamu, kau terkadang pura-pura tak tahu. Kau buta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kau tidur terlentang. Matamu tak urung menutup. Biar mataku saja yang menutup. Namun kaubalas menamparku. Hingga mataku melotot hamper terlepas. Setetes, jatuh tepat di atas kelopak mataku saat kuterpejam. Kepalamu sepuluh sentimeter di atas kepalaku. Ludahi saja, aku! Daripada kulihat engkau menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa lelaki boleh menangis? Tanyamu saat sayup-sayup azan Subuh memanggil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam saja tak peduli. Lalu kaumenangis, kau ambil sebuah kertas. Diperlihatkannya padaku. Sebuah silet kau bungkus dengan kertas kuning itu. Dilipat apik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakan padaku, sahabat setiaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak usah pergi membawa amarah. Setan akan terbahak-bahak. Padahal kau kan penakut. Jangankan setan, pada kucing pun kau menjerit. Jadi kembalilah. Buka bajumu. Kusiram dengan air dari sumur keikhlasan. Biar wajahmu yang semakin hari kian menggelap, kubasuh lembut dan perlahan. Duduklah, kuceboki dan kugosok gerahammu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kau malah lari. Lari dariku. Lari dari kenyataan. Kau pengecut.. Berarti kaubukan seorang yang shaleh. Doa-doa yang kauumbar tak berbuah hasil. Kasihan. Sepertinya Tuhan tak sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhenti! Teriakku. Kausengaja pamerkan siletmu. “Biar kusayat-sayat nadiku,” ujarmu sambil melelehakn air mata. Bodoh, sahabat. “Kau tak punya hati,” tuduhmu. Padahal kupunya hati, kalau tak ada hati, apa yang akan menetralkan racun di tubuhku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, kupunya kalbu. Karenanya, kumasih bias ungkapkan kelebihan dan kekuranganmu. Tak usah bertanya, dimana kalbu itu. Karena itu ibarat kaumenanyaklan Tuhan yang dulu selalu kau tanyakan. Pulanglah dan buang silet itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar aku yang menyayat nadimu dengan tanganku sendiri. Agar namapk pancaran darahmu. Merah dan memuncrat. Akan kusedot darahmu, dan kucium pipimu sebelum darah itu habis. Lalu ucapkanlah laa ilaaha illallah. Lama-lama ucapkan Allah saja. Aku khawatir nafasmu terhenti ketika kau baru berrkata sampai laa ilaaha yang artinya Tuhan tak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kaukembali berandar padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupapah dirimu. Kurebahkan badanmu yang tegap dan kulitnya bersih sawo matang. Kau menangis lagi! “Sudahlah,” saranku seadanya. Tangismu malah menjadi-jadi, wahai lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kuboleh menangis? Tanyamu menjelang waktu Subuh berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita hentikan saur kita. Aku kan lanjutkan ibadah sunatku. Sedang kaubatalkan saja! Kau bantingkan gelas. Sehingga gelasku tinggal lima buah. Serpihan-serpihannya biarlah berserakan. Apabila kau menginjaknya, kau akan mennagis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meredam emosi, kau taburkan dulu bedak ke punggungku yang gatal. Kau malah membentak. Kau bukan babu, katamu. Ya sudah, kuminta bantuan tangan lain. Kau malah mencubit pahaku hingga membiru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Olala, apa yang kau inginkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih baik kita salat berjamaah. Lalu kita pandangi gemintang. Kita hitung satu-satunya. Sampai kau pusing, lau terkantuk. Angin shubuh ini menggetar romaku. Mengelus kulitmu yang halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan dulu mengatupkan mata, sahabat tercinta. Kita terus intip sahara yang bertabur gugusan cahaya. Karena sebentyar lagi, fajar terbit. Dan, venus akan lewat sekejap. Ya, bintang kejora itu akan melintas sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau benar-benar menangis. Tanpa meminta izinku terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala surya di sepenggal kepala. Ketika ubun-ubun benar-benar mendidih akibat polahmu. Kautertunduk terpaku-paku. Kau tak berani menatapku. Dan air mata benar-beanar meleleh dan membanjiri pipimu yang berisi. Matamu memerah. Aura jantanmupudar, atau tampak jelas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hidungmu memancar darah sehgar. Tangamu mengusapnya hingga memerah tanganmu pekat. Bau anyir. Kau beranjak, berdiri, berlari menuju wastafel. Dan, kaumuntahkan merah itu. Tangismu menjadi-jadi. Kuusap lukamu. Kusdapu dengan selembar sapu tangan merah. Itu pemberian darimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhmu semakin bergetar. Kupeluk kau. Dadamu begitu menggetarkan dadaku. Lukailah aku, sahabatku. Basahilah Bajuku dengan tangismu. Kubutuh embusan nafasmu yang selalu kautiupkan di telingaku. Pada ruhku. Berikan siletmu padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi sebelum kau lunglai, kau katakan padaku, “Hatiku lebih menangis.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-9207790551639305964?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/9207790551639305964/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/lelaki-yang-menangis.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/9207790551639305964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/9207790551639305964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/lelaki-yang-menangis.html' title='Lelaki yang Menangis'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SkqXMb8kTxI/AAAAAAAAAGc/sbPNp99wBjM/s72-c/n1113337937_5089.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-7172716211869385086</id><published>2009-06-30T15:35:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T15:54:31.057-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Kapitalisme Amerika; “Senjata Makan Tuan”*</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Refleksi Ridwan Faridz &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SkqWSo5fQwI/AAAAAAAAAGU/zDUepV1ugh0/s1600-h/n1233850339_4283.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SkqWSo5fQwI/AAAAAAAAAGU/zDUepV1ugh0/s200/n1233850339_4283.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5353256354043609858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Diawal kemunculannya, Modernitas membawa angin segar perubahan bagi umat manusia. Hal ini memang tidak berlebihan, karena modernitas hadir bukan tanpa perbekalan (konsep) yang matang untuk melakukan sesuatu yang beda dari sistem sebelumnya. Pada awalnya modernitas hadir sebagai respon atas sistem dalam kehidupan manusia yang mereka (Penganut) anggap tidak memanusiakan manusia, inilah angin segar itu sehingga pada saat itu negara-negara lain berbondong-bondong berkiblat pada negara pencetus modernitas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;    Kemajuan ilmu pengetahuan, ditemukannya berbagai tekhologi, memudarnya doktrinasi gereja,runtuhnya rezim otokrasi, berkembangnya demokrasi, kebebasan berekpresi, kebebasan memiliki kekayaan, globalisasi, merupakan hasil dari jerih payah modernitas yang mereka anggap sebagai sebuah kemajuan dan keberhasilan dari sistem baru ini. Bahkan seorang pemikir Francis Fukuyama sampai-sampai berani menyatakan bahwa sistem yang di telorkan dari modernitas adalah The end of History.   Dimana kapitalisme dianggap sebagai puncak dari sistem ekonomi dunia dan demokrasi dianggap sebagai akhir dari sistem politik dunia begitu juga dalam bidang kehidupan lainnya semuanya berporos pada produk modernitas..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam tulisan ini sendiri, penulis hanya akan menyoroti salah satu produk modernitas yang paling berperan besar dalam merubah kehidupan manusia dan saat ini sedang dipertanyakan eksistensinya yaitu sistem ekonomi kapitalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kapitalisme sebagai anak haram modernitas merupakan inti dari sistem ekonomi yang diusung penggagas modernitas. Sistem kapitalisme ini muncul sebagai counter dari sistem ekonomi sosialis-komunis yang di usung Uni Soviet dan konco-konconya. Kapitalisme hadir dengan semangat baru dimana individu diberikan peluang seluas-luasnya untuk dapat memiliki kekayaan dan bersaing secara bebas. Hal ini berbanding terbalikk dengan sistem ekonomi sosialis dimana peran individu sangat kecil karena semuanya di monopoli oleh negara. Hatta  menurut para penganut kapitalisme, sistem ekonomi sosialis adalah sistem ekonomi yang membunuh karakter manusia. Sementara kapitalisme adalah sistem yang sesuai dengan karakter manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Amerika pun gigit jari?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    Tesis fukuyama tentang “akhir sejarah” yang menyebutkan bahwa kapitalisme adalah puncak dari sistem ekonomi dunia, akhirnya terbantahkan oleh realitas, dan dalam hal ini Ibnu Khaldun seorang sosiolog dan sejarawan Islam dapat tersenyum lebar karena tesisnya yang ternyata lebih bisa bertahan. Khaldun menyatakan bahwa sejarah manusia seperti putaran roda senantiasa berganti dan tidak ada yang abadi-meminjam istilah peterpen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Fenomena yang menarik dewasa ini adalah terjadinya krisis multidimensi, wabilkkhusus krisis ekonomi dunia. Akibat krisis ini banyak negara yang mengalami keguncangan hebat. Bahkan negara-negara  maju sekaliber Amerika pun harus gigit jari terkena dampak krisis global ini. Betapa tidak, Amerika yang selama ini di kenal sebagai Mpu-nya, mbah-nya dan kiblat dari modernitas (Kapitalisme) akhirnya harus merasakan ulah dari produknya sendiri. Bagi yang tidak suka dengan Amerika menyebutnya dengan “senjata makan tuan”. Kapitalisme amerika yang dibanggakan akhirnya berujung pada krisis global dan kebangkrutan korporasi-korporasi besar di negara adidaya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Fenomena yang tidak kalah menariknya dari krisis ekonomi tersebut adalah sikap pemerintah Amerika dalam merespon ancaman tersebut. Sikap yang diberikan pemerintah seperti menelan ludah sendiri. Bagaimana tidak sistem kapitalisme yang mereka anut selama ini, sangat membatasi peran pemerintah dalam ekonomi karena pihak swasta diberikan kebebasan untuk bersaing. Namun, ternyata Amerika kewalahan dengan aturan seperti itu ketika pihak swasta banyak melakukan korupsi dan menyebabkan crisis yang berdampak global. Sehingga akhirnya pemerintah menasionalisasi perusahaan-perusahaan  besar yang terancam bangkrut tersebut. Jika kita amati sejarah, apakah tidak berlebihan apabila kita menyamakan apa yang dilakukan Amerika ini sebagai duplikat dari Stalin (sosialis) dimana ketika terjadi nasionalisasi besar-besaran pada ujungnya pemegang ekonomi terbesar adalah negara. Maka, lambat laun sistem ekonomi Amerika akan. berevolusi dari kapitalis ke sosialis (Kapaitalisme Negara) again…apa tidak malu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mencari Akar, Menemukan Tunas?  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jika kita teliti lebih jauh hal ihwal penyebab krisis ekonomi ini, maka akan ditemukan akar penyebab krisis tersebut. Setidaknya ada dua haluan besar yang menyebabkan krisis ini terjadi.  Haluan pertama, berpendapat bahwa yang menyebabkan krisis ini adalah murni human eror (Kesalahan manusia) dimana manusia terlalu rakus dan tidak memikirkan kepentingan umum. Sementara haluan kedua berpendapat bahwa yang menyebabkan kerusakan ekonomi dunia sekarang adalah sistem ekonomi kapitalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kita boleh setuju boleh tidak dengan kedua haluan ini, Namun bila kita cermati, maka permasalahan utama bukan berada pada manusia tapi pada sistem yang membangun karakter manusia tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Berangkat dari hal ini, maka perekonomian dunia saat ini membutuhkan sebuah solusi baru, sebuah sistem baru yang mampu menggantikan sistem kapitalis yang merusak juga bisa menggantikan sistem sosialis yang menindas. Apakah sistem ekonomi Islam mampu muncul kepermukaan sebagai solusi?...kalau iya, sistem ekonomi islam yang bagaimana?..jangan-jangan hanya akan mengulang kekacauan sejarah….Tapi bagaimanapun semoga Islam menajdi tunas baru, menjadi kiblat dalam arti sesungguhnya…tentu saja. SEMOGA!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wallohu'alambishawab&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;*Tulisan ini hanya refleksi saja, jika ada kesamaan dalam hal apapun itu karena disengaja..he..he…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah Alumni Pesantren IMM UIN SGD Bandung 2008..&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-7172716211869385086?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/7172716211869385086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/kapitalisme-amerika-senjata-makan-tuan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/7172716211869385086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/7172716211869385086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/kapitalisme-amerika-senjata-makan-tuan.html' title='Kapitalisme Amerika; “Senjata Makan Tuan”*'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SkqWSo5fQwI/AAAAAAAAAGU/zDUepV1ugh0/s72-c/n1233850339_4283.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-2589749058602186902</id><published>2009-06-28T08:54:00.000-07:00</published><updated>2009-06-28T09:00:14.248-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Essay'/><title type='text'>Cita-cita Setinggi Langit Bisa Biki Sakit</title><content type='html'>&lt;span class="meta"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Oleh Sukron Abdillah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_WoJOEq2xzxY/SkeK7en08GI/AAAAAAAAAEQ/ImmCT8cshS4/s1600-h/cita2.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 168px; height: 159px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_WoJOEq2xzxY/SkeK7en08GI/AAAAAAAAAEQ/ImmCT8cshS4/s200/cita2.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352399436590149730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kemarin baru saja saya selesai merangkai cita-cita. Ya..., tidak setinggi langit karena takut jatuh dari ketinggian.Tingginya cukup sampai atap rumah saya saja. Paling 3,5 meteran. Selama saya hidup, karena berasal dari perkampungan; tidak begitu "gila" dengan keinginan dan harapan. Saya selalu berusaha agar tidak disakiti hati dengan keinginan menggebu.&lt;span class="fullpost"&gt; Trik praktis hidup agar tidak diperdaya harapan adalah mengetahui rangkaian cita-cita. Seberapa tinggi kah kita harus merangkai cita-cita tersebut. Seperti halnya angin, air, dan bumi; selalu menempati ruang yang sesuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Buku yang saya tulis dengan nama pena Sabil el-Ma'rufie, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dahsyatnya Shalat Dhuha&lt;/span&gt;, ketika pertama kali ditulis tidak terbesit cita-cita untuk dicetak sampai enam kali (2007-2009). Waktu &lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_WoJOEq2xzxY/SkeRAF9GwNI/AAAAAAAAAEY/b22E3DH7ul8/s1600-h/dhuha.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 74px; height: 107px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_WoJOEq2xzxY/SkeRAF9GwNI/AAAAAAAAAEY/b22E3DH7ul8/s200/dhuha.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352406112937623762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;itu saya hanya menuliskan ide-nya. Dicetak&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; ulang 3 kali adalah cita-cita saya waktu itu. Coba bayangkan kalau saya bercita-cita dicetak ulang 12 kali dalam 3 tahun. Pasti rasanya saya akan dijajah bentuk lain dari harapan dan keinginan itu. Hari ini juga kekecewaan pasti terus menyelimuti.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Begitu pun kemarin ketika saya merangkai cita-cita menerbitkan sendiri naskah saya menjadi buku. Saya -- sebagai penyuka angin -- selalu mengubah dalam waktu sedetik cita-cita yang sudah dirangkai sehari-semalam. Memiliki penerbitan sendiri untuk karya teman-teman saya di Irfani Writing Club; adalah cita-cita yang selesai saya rangkai. Konsep penerbitannya mencaplok manajemen kebebasan (indie). Bahkan, di otak ini ada serangkai konsep menerbitkan buku per 500 eksemplar terlebih dahulu. Jujur saja..., karena saya pernah menulis buku di DARMizan, selalu saja ada yang menyetorkan naskah secara pribadi. Saya akan menyerahkannya ke teman editor saya, untuk dievaluasi. Kalau terlihat seksi, naskah itu akan "bernasib" baik hingga layak diterbitkan. Tapi, karena tidak terlihat "seksi" oleh penerbit dan katanya, oleh pasar pembaca; banyak yang ditolak. Ya...itu risiko buat penulis pemula. Bahkan, saya juga sering ditolak mentah-mentah hingga tidak terhitung naskah yang mendekam di ruangan komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari itulah; saya bercita-cita mendirikan penerbitan indie, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Irfani Publishing House&lt;/span&gt;, khusus menerbitkan karya saya dan kawan-kawan secara terbatas. Tidak muluk-muluk ingin menjadi penerbit besar...karena semakin besar modal dikeluarkan; harga jual buku bakal semakin mahal. Cukup saja lima ratus eksemplar dengan memanfaatkan teknologi cetak POD. Nah, untuk teknologi cetak buku ini, saya belum mengetahui sedikit pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya cita-cita itu melebihi target; saya gembira. Dari setinggi atap rumah saya, cita-cita dalam kenyataannya dapat menggapai langit yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;super duper&lt;/span&gt; tinggi. Berbeda ketika saya -- misalnya -- bercita-cita setinggi langit. Namun, pada tataran riil, target itu hanya sampai atap rumah saja. Kecewa dong pastinya. Bahkan, boleh jadi saya akan sakit-sakitan. Padahal, cita-cita itu bukan setinggi langit. Tapi setakterbatas ketinggian alam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau masih pusing dengan cita-citamu...ikuti seri tulisan ini selanjutnya...&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(BERSAMBUNG)&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-2589749058602186902?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/2589749058602186902/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/cita-cita-setinggi-langit-bisa-biki.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/2589749058602186902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/2589749058602186902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/cita-cita-setinggi-langit-bisa-biki.html' title='Cita-cita Setinggi Langit Bisa Biki Sakit'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_WoJOEq2xzxY/SkeK7en08GI/AAAAAAAAAEQ/ImmCT8cshS4/s72-c/cita2.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-1922320129318192492</id><published>2009-06-28T08:11:00.000-07:00</published><updated>2009-06-28T08:23:15.303-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Dosen Aneh</title><content type='html'>&lt;div class="comment-txt"&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Riki Ahmad&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SkeKgSmbOsI/AAAAAAAAAF8/8GKsRDzY7EY/s1600-h/4177_1010386796703_1735996224_16012_2349653_n.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SkeKgSmbOsI/AAAAAAAAAF8/8GKsRDzY7EY/s200/4177_1010386796703_1735996224_16012_2349653_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352398969506577090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kemarin-kemarin saya mungkin banyak membuat tulisan yang berbentuk cerita tentang diri sendiri. Buat sekarang, saya tidak punya cerita yang membuat  semangat menulis. Tapi,  saya berusaha  supaya tidak membuat pikiran saya tumpul.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Hari ini cukup memuaskan bisa masuk kuliah, setelah hari kemarin pulang karena terlalu cepat mengambil keputusan pulang, padahal tidak begitu bahaya yang terjadi sebenarnya. Tapi apa boleh buat namanya juga utusan dari atasan ya nurut aja biar gak kena kartu kuning. sebenarnya kecewa pas waktu pulang ternyata keadaan jauh berbeda dari yang dipikirkan (baik-baik saja), yang membuat saya terinsfirasi untuk nulis sedikitnya dapat dorongan dari salah satu orang yang sudah bergelut dengan &lt;span class="fullpost"&gt;dunia tulis-menulis tambah lagi hobi dari kecil saya suka menulis cerita di dairy, eh lupa yang mau ditulis sekarang tentang dosen UIN yang aneh (aneh banget) mungkin tujuan dari rumah asal berangkat bukan ingin gamalin ilmu malah membaut kecewa dari seharusnya tidak begitu, lebih jelasnya lagi begini..... saya masuk jam 10.20 hari tadi saya berangkat dari rumah (garut) langsung pergi mengajar beres mengajar denagn terburu-buru langsung pergi kle kampus untuk mngikuti kuliah yang pada hari tadi ada dua mata kuliah, pas nunggu lama akhirnya dosen pun kelihatan batang hidungnya lalu masuk kekelas yang sudah di sediakan denagn susah paya mencari ruangan kosong. kuliah pun dimulai dengan basa-basi dosen (galer-kidul teu puguh) akhirnya kelompok pertma yang harus maju mempersentasekan hasil kelompoknya-mungkin karena ini saya jadi kesel sama dosen- berhubung anak-anak kelompok pertama belum lengkap malah makalahnya belum beres.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seharusnya ada inisiatif dosen agar waktu untuk mencari ilmu gak percuma keinginan saya agar dosen memberikan materi yang seharusnya kelompok pertama yang menjelaskan. bisa disebut makan gaji buta gisi absen hadir dosen langsung pulang enak banget, kuliah pertama yang saya dapatkan hanya kata siapkan kelompok kedua minggu besok udah aja gitu, ditambah kesel lagi sama dosen yang kedua dilihat karena tidak menguasai materi hingga akhirnya jatah waktu gak terpakai cuma 1/3 saja coba bayangkan banyak cari enak jadi dosen dan tidak memberikan kontribusi buat mahasiswa-mahasiswi... mungkin itu yang awalnya saya tidak tahu apa yang harus saya tulis,,, terima kasih&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="comment-footer"&gt; &lt;/p&gt; &lt;a name="comment-form"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-1922320129318192492?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/1922320129318192492/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/dosen-aneh.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/1922320129318192492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/1922320129318192492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/dosen-aneh.html' title='Dosen Aneh'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SkeKgSmbOsI/AAAAAAAAAF8/8GKsRDzY7EY/s72-c/4177_1010386796703_1735996224_16012_2349653_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-9033688599655362748</id><published>2009-06-28T07:53:00.000-07:00</published><updated>2009-06-28T08:05:37.565-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesundaan'/><title type='text'>Paturai</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sajak Eyang Rais Pamungkas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SkeEXmc7zcI/AAAAAAAAAF0/HTWxstgy9rM/s1600-h/2868_1008009778331_1767549522_10843_6826272_n.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 204px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SkeEXmc7zcI/AAAAAAAAAF0/HTWxstgy9rM/s200/2868_1008009778331_1767549522_10843_6826272_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352392223146888642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tangtu kuring na hate cerik.&lt;br /&gt;Estuning kudu pajauh jeung jalma,&lt;br /&gt;anu lain saukur dianggap guru.&lt;br /&gt;Tapi leuwih jero ti eta.&lt;br /&gt;Anjeuna mangrupaning gaganti bapak.&lt;br /&gt;Anu geus taunna tilaran dunya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ari alesan kuring miang.&lt;br /&gt;Nya hayang wae mapag kala.&lt;br /&gt;Anu ceuk pikir, jigana geus diguratkeun.&lt;br /&gt;Boh dina daluang, boh di buku ti awang-awang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangtu kuring moal sulaya, guru.&lt;br /&gt;Kana ucap anu harita geus kedal.&lt;br /&gt;Di babancik imah pisan.&lt;br /&gt;Basa kuring seja pamitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngan hiji meureun pamenta.&lt;br /&gt;Doakeun kuring tetep cageur,&lt;br /&gt;tetep bageur,&lt;br /&gt;tur aya dina bebeneran salawasna.&lt;br /&gt;Da kapan uninga ku anjeun.&lt;br /&gt;Salila ieu kuring satekah polah;&lt;br /&gt;Ngalaku bageur, cageur tur Bener.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-9033688599655362748?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/9033688599655362748/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/paturai.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/9033688599655362748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/9033688599655362748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/paturai.html' title='Paturai'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SkeEXmc7zcI/AAAAAAAAAF0/HTWxstgy9rM/s72-c/2868_1008009778331_1767549522_10843_6826272_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-8239237514529326415</id><published>2009-06-28T07:48:00.000-07:00</published><updated>2009-06-28T07:52:51.798-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Kususuri Embun Pagi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Hasan el-Sumatrani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SkeDk4Sy3bI/AAAAAAAAAFs/ETrcT7ppa0c/s1600-h/4303_1055628480134_1508503452_30132146_2542635_n.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SkeDk4Sy3bI/AAAAAAAAAFs/ETrcT7ppa0c/s200/4303_1055628480134_1508503452_30132146_2542635_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352391351762869682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Setelah salat subuh berjamaah di kamar bersama seorang sahabat, berdzikir sejenak. Mengingat-ingat kesalahan kemarin. Tadarus beberapa ayat ilahi. Sungguh tenang kurasakan hati ini. kalau saja ini terus berlanjut, rasanya Aku terasa merdeka. Soalnya, ini hanya kurasakan ketika keimananku mulai menebal beberapa hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarung dan koko yang sedari tadi bertengger di badanku, kini kulepaskan, berganti dengan baju kaos hitam dan celana switer. Tak lupa kupasang kaos kaki dan sepatunya. Kini Aku bersiap keluar kos jalan-jalan menghirup udara pagi. Pagi ini memang di sepanjang jalan kususuri terlihat lengang, sepi. Tapi kesepian itu hilang. Benar-benar hilang oleh rasukan dinginnya pagi. Ingin rasanya Aku kembali ke kamar dan menimbunkan selimut ke badanku. Tapi itu tak mungkin, karena aku sudah di pertengahan tujuan. Alun-alun Ujung Berung.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabut dan tusukan-tusukan udara terus kutembus, kususuri. Meskipun kadang terlihat debu beterbangan di kanan kiriku. Debu tersapu oleh lalu lalang kendaraan yang lewat. Mana lajunya kencang lagi. Mentang-mentang masih pagi menjalankan kendaraan sangenahna wae. Memang jalan siapa itu. Celotehku, tentunya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, kini sudah mulai terang. Cepat juga ya, Kataku. Karena Aku sudah sampai Columbia dan Borma. Berarti beberapa langkah lagi akan sampai, dan istirahat. Sedikit meregangkan otot kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kanan-kiri jalan para pedagang tumpah ruah menjajakan dagangannya, sehingga  terkadang membuat macet arus kendaraan. Dan membuat sedikit riweh bapak Polantas mengatur lalu lintas. Kewajiban kali ?! Tapi ini terjadi tiap pagi. Macet tiap pagi. Sampai bosan Aku melihatnya. Apakah pemerintah tak menyiapkan lapak untuk mereka, padahal mana janji para elit pejabat yang baru saja dilantik. Katanya menyejahterakan padagang. Buktinya, padagang masih saja berjualan bukan pada arealnya. Lalu, yang dibikin subuk siapa ? satpol PP juga kan ? pemerintah juga kan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa langkahku sampai di depan sebuah gedung yang di depannya terpampang beberapa iklan film yang akan diputar hari ini. Iklan paling kiri terpampang ” laskar pelangi “, tengah ” ML “, dan paling pinggir tidak begitu terlihat karena sedikit tersingkap. Aku diam sejenak. Apa itu ” ML ” yang terpampang dalam judul film itu, arti yang sesungguhnya dalam bahasa Inggris sih Aku sedikit mengerti. Tapi, dalam judul film itu apa ya, kok ML sih. Ah, itu mungkin sebagian trik Sutradara supaya mengecoh penonton atau yang ingin nonton. Masih mendingan ” Laskar Pelangi “, Aku dah baca bukunya. Seru. Nonton filmnya pun sudah. Karena Aku lebih suka film yang inspiratif  seperti laskar Pelangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalanan masih tetap seperti semula. Macet. Tapi Aku tak hiraukan itu, kini Aku sudah sampai pada pemberhentian terakhir. Alun-alun, tepatnya di selasar masjid Agung. Duduk Aku disana sambil memegang koran yang sedang Aku baca. Konon, koran yang sedang Aku lahap ini lebih tau Jawa Barat. Beritanya akurat. Selain itu, ada rubrik yang Aku suka yaitu ” Kampus “. Karena statusku sekarang sebagai Mahasiswa. Aku suka nulis untuk rubrik ini. Tapi belum juga dimuat. Tak apalah, mungkin redakturnya menyuruh Aku untuk jangan berputus asa. Terus lah menulis, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bosan dengan berita-berita korupsi- hingga, konon, mantan pejabat Jawa Barat terseret juga ke KPK. Sudah enak kembali enek. Aku ke tempat wudhu. Kuambil butiran air suci untuk bersuci. Aku teringat sebuah sabda Nabi ” Berwudhulah, karena dengan wudhu itu berguguranlah dosa-dosamu “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kupasang kaos kaki dan sepatu. Bersiap-siap untuk kembali ke kos. Karena tumpukan tugas mulai menggunung. Tanpa dikerjakan sedikit demi sedikit, mustahil sebuah tugas yang menggunung akan selesai. Itulah prinsipku, mulai dari yang terkecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pukul 8.00 Aku sampai di kos. Suara tembang Sunda terdengar olehku sehingga Aku teringat sebuah desa dimana Aku dilahirkan. Tembang itu berasal dari sebelah kamar kosku. Ada walimahan. Melaksanakan sunnah Rasul. Karena, siapa saja yang mencintai sunnahku, menikahlah. Tidak menikah, bukan umatku. Begitulah perkataan Rasul yang kudapat dari tausiah ustadku beberapa minggu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Ayo ke warnet,” celetuk seorang sahabat dekatku. ” Kita nge-Blog, asyik lho, beberapa tulisanku banyak yang komentar,” lanjutnya lagi. ” Siap, ” kataku membalas. Sembari menunggu seorang sahabat yang lagi khusuk menabung Di Wc, kebetulan waktu Dhuha, Aku pun sejenak dalam dhuha. Meminta hidayah dari yang maha pemberi hidayah, agar Aku dan seorang sahabat tetap istiqomah berada dalam lingkarannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-8239237514529326415?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/8239237514529326415/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/kususuri-embun-pagi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/8239237514529326415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/8239237514529326415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/kususuri-embun-pagi.html' title='Kususuri Embun Pagi'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SkeDk4Sy3bI/AAAAAAAAAFs/ETrcT7ppa0c/s72-c/4303_1055628480134_1508503452_30132146_2542635_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-1942223245254358907</id><published>2009-06-27T12:28:00.000-07:00</published><updated>2009-06-27T12:35:14.578-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Politik'/><title type='text'>Perempuan dan  Politik</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Asri Meida Fitri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SkZz1kb9NMI/AAAAAAAAAFk/diX99-bpna8/s1600-h/untitled.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 180px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SkZz1kb9NMI/AAAAAAAAAFk/diX99-bpna8/s200/untitled.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352092571327608002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Perempuan dan politik menjadi wacana yang tidak boleh dipisahkan. Di Indonesia sendiri paling tidak ada dua persoalan perempuan dalam politik, yaitu perihal keterwakilan perempuan yang sangat rendah di ruang public dan perihal belum adanya platform partai yang benar-benar secara konkrit membela kepentingan perempuan. Sehingga dipatoklah kuota 30% perempuan di parlemen sebagai bentuk accepting bagi perempuan untuk berkiprah seluas-luasnya dalam bidang politik. Dengan masuknya perempuan dalam ranah politik memberikan angin segar dan harapan baru bagi terciptanya perubahan politik yang arogan, korup dan patriarki. Tidak menutup kemungkinan keterlibatan perempuan dalam pengambilan kebijakan akan membawa masyarakat Indonesia pada perubahan system yang berkeadilan dan bersih dari korupsi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Politik dianggap dunia yang kejam dan kotor, sehingga banyak perspektif bahwa politik tidak cocok bagi perempuan yang dominant menggunakan perasaannya dan berhati lembut. Padahal, sudah waktunya perspektif gender masuk ke dalam semua lini , termasuk dalam pengambilan kebijakan dan keputusan. Bila melihat realita sekarang, dimana perempuan telah diakui dan diterima dalam parlemen, muncul kembali pertanyaan, apakah masuknya perempuan di Senayan karena potensi dan kebutuhan terhadap pemikiran dari perempuan ataukah hanya dijadikan sebagai komplemen atau pelengkap saja seperti yang diungkapkan seorang tokoh feminis politik Mary O’Brien, perempuan hanya dijadikan sebagai alat oleh partai dengan alasan pembaharuan dunia( in the name of vision that transforms the world) atau memang untuk memenuhi kuota saja.Bila Dari nama-nama Caleg yang ada saat pemilihan caleg beberapa waktu lalu jumlah perempuan sudah memenuhi harapan. Apresiasi masyarakat terhadap caleg perempuan juga cukup besar dan banyak yang diperkirakan lolos ke Senayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun lagi-lagi muncul asumsi bahwa mereka hanya dijadikan magnet politik hingga akhirnya menjadi kaum mayoritas yang inferior dan terbungkam. Masyarakat menaruh harapan besar kepada perempuan, namun yang dibutuhkan adalah perempuan yang membawa kepentingan public, perempuan yang memang ingin concern terhadap perempuan, dan tentunya untuk itu diperlukan perempuan secara ideologis, yaitu perempuan yang memiliki kemampuan intelektual dan emosional serta mampu dan mau memperjuangkan hak-hak perempuan. Keinginan tersebut muncul karena melihat realita saat ini , bahwa hampir semua anggota Dewan merupakan orang-orang dengan intelektual tinggi, orang cerdas dan memahami keperluan rakyat secara teoritis. Namun sayangnya, kemampuan itu tidak dibarengi kemampuan emosional sehingga yang terjadi kurangnya kepekaan, yang akhirnya melahirkan anomaly atau penyimpangan termasuk korupsi, kolusi dan nepotisme yang sempat dicap sebagai ciri bangsa Indonesia di mata dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian halnya dengan Presiden Perempuan yang sejak pemilu 2004 lalu menjadi perdebatan sengit dalam dunia perpolitikan. Respon keras sempat muncul dari Konges Umat Islam Indonesia (KUUI) pada tahun 1998 yang mengeluarkan fatwa, “Presiden Indonesia haruslah seorang pria muslim.” Namun yang berkembang di Indonesia, bahwa Presiden perempuan itu haram. Isu ini juga sempat mengundang komentar dari beberapa kalangan, salah satunya Amien Rais yang menyebutkan bahwa perempuan boleh menjadi pemimpin selama tidak ada laki-laki yang becus menempati posisi itu. Namun isu itu kini telah sedikit redam, walaupun masih ada yang tidak setuju dengan kepemimpinan perempuan, namun dewasa ini permasalahan itu tidak lagi marak diperdebatkan. Justru yang ada sekarang adalah perbincangan siapa yang pantas dan kompeten menjadi Presiden selanjutnya setelah SBY tanpa memandang perempuan ataupun laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontroversi akan selalu mencuat, bias gender akan selalu ada selama kedua belah pihak, laki-laki dan perempuan tidak mau saling memahami satu sama lain. Satu hal yang perlu diketahui, bahwa pembedaan wilayah public dan privat pada perempuan hanya akan membuat perempuan tersisih dari dunia politik. Pembedaan ini memotong akses perempuan ke ruang public. Asumsi bahwa perempuan sulit untu masuk ke wilayah public hanya akan menimbulkan keterasingan perempuan. Harusnya, Negara melindungi aktivitas perempuan di dunia perpolitikan, sebuah langkah konkrit dari negeri tetangga, dengan melarang rapat hingga larut malam yang tidak efektif, tidak merokok di dalam ruangan, rapat, hingga ada kebijakan yang mengakomodir kebutuhan spesifik perempuan seperti ruang penitipan anak. Diharapkan, Negara dapat lebih ramah terhadap perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Islam sendiri pun tidak pernah melarang perempuan untuk berkiprah. Hanya saja yang terjadi adalah pandangan subjektif dari pihak-pihak tertentu dalam menilai perempuan. Dalil atau Nash Alquran bukanlah tameng untuk membela kepentingan pribadi. Janganlah dalil tersebut diinterpretasikan secara parsial saja, sehingga yang ada perspektif yang berpihak dan melahirkan ketidakadilan gender.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga pemerintahan selanjutnya dapat lebih toleran terhadap perempuan, dan membantu perjuangan dari para kaum perempuan dalam menjaga eksistensi dan pengakuan di depan public. Perempuan bukan hanya alat, bukan hanya magnet dalam politik, bukan hanya objek seksual dan pemuas nafsu laki-laki, tapi perempuan adalah makhluk yang memiliki derajat yang sama dengan laki-laki di hadapan Allah. Perempuan memiliki hak-hak yang harus dipenuhi, perempuan memiliki kewajiban, perempuan bukan hanya makhluk lemah yang dapat ditindas, di diskriminasi, di marginalisasi ataupun dirampas kebebasannya dalam berekspresi dan berkarya. Agama bukat alat untuk mendeskreditkan perempuan, karena agama yang paling muliapun, Islam, sangat menghargai perempuan. Begitupun dalam ranah politik, biarkan perempuan menggunakan haknya untuk memilih tanpa harus ada intervensi dari suami, ayah, keluarga, ataupun para kiyai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kapanpun perempuan dan laki-laki akan tetap berbeda tapi bukan untuk dibeda-bedakan. Perempuan boleh bebas tapi tidak bablas.&lt;br /&gt;Wallahu a’lam&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-1942223245254358907?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/1942223245254358907/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/perempuan-dan-politik.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/1942223245254358907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/1942223245254358907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/perempuan-dan-politik.html' title='Perempuan dan  Politik'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SkZz1kb9NMI/AAAAAAAAAFk/diX99-bpna8/s72-c/untitled.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-3047563730320057528</id><published>2009-06-21T09:03:00.000-07:00</published><updated>2009-06-21T09:15:47.139-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Keagamaan'/><title type='text'>Nurani Kebajikan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh SUKRON ABDILAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Sj5cj-MgAbI/AAAAAAAAAFU/fnWhXris9HE/s1600-h/4557_1115457461016_1664366565_273240_434532_n.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Sj5cj-MgAbI/AAAAAAAAAFU/fnWhXris9HE/s200/4557_1115457461016_1664366565_273240_434532_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5349815180423332274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ma­nusia men­jadi saksi atas dirinya sendiri, walau­pun ia mengemukakan&lt;br /&gt;dalih-dalihnya (QS Al-Qiyâmah [75] : 14-15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NURANI berasal dari kata nur, yang berarti cahaya. Jadi, nuraniyyun, ialah sesuatu yang bersifat cahaya. Menurut ahli tasawuf, manusia terdiri dari akal, hati, nurani, syahwat dan hawa nafsu. Akal untuk memecahkan masalah, hati untuk memahami realita, nurani adalah pandangan batin, syahwat penggerak tingkah laku atau motif, dan hawa nafsu ialah kekuatan membahayakan untuk menguji manusia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Perangkat manusia tadi dipimpin hati, sehingga kalau hatinya baik, perilakunya juga baik. Sebaliknya, kalau hatinya buruk, perilakunya juga buruk. Makna nurani lebih dekat kepada hati, sehingga terkenal dengan istilah hati nurani. Sifatnya ruhaniah banget dan mengajak manusia agar berperilaku baik, membantunya mengatakan mana yang benar dan mana yang salah. Dia (nurani) bersemayam dalam diri semua orang. Nurani seseorang pada hakikatnya tidak pernah berbeda dengan nurani orang lain. Dengan kata lain, apa yang dirasa benar oleh nurani seseorang sebenarnya dirasa benar juga oleh orang lain asalkan berlaku kondisi dan situasi yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Swt. berfirman, “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang megotorinya” (QS Syams : 7-10). Nurani sebagai petunjuk jalan menuju kebenaran adalah ilham dari Allah. Melalui nurani, Allah membiarkan kita tahu sikap dan perilaku terbaik dan paling indah. Nurani menjadikan manusia mendapatkan petunjuk guna menempuh jalan yang benar dan lurus. Seseorang yang mau mendengar hati nurani-nya akan mencari jawaban dan menjelajahi apa yang terlihat di sekelilingnya untuk kebenaran. Seseorang yang telah mengembangkan kepekaan ini akan dengan mudah merasakan dirinya tinggal di sebuah dunia yang tercipta tanpa cacat (baca: bersyukur).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Armahedi Mahzar (1983: 33), mengatakan seorang individu selalu berusaha menyesuaikan dirinya dengan etika yang berlaku di masyarakat. Kesadaran terhadap dirinya adalah hasil dari proses “akali-qalbi-nurani” dalam mengurai apa yang terdapat dalam diri. Dengan akali atau intelektualita seseorang terus digunakan untuk berpikir tentang dirinya. Qalbi atau sensibilita diarahkan untuk terus merenungkan kepribadian yang ditunjukkan kepada lingkungan masyarakat. Sedangkan nurani atau moralita dijadikan upaya untuk memadukan akali dan qalbi dengan mengetengahkan prinsip-prinsip moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpadunya intelektualita, sensibilita dan moralita dalam kehidupanmu memang sangat penting dilakukan. Nu­rani sangat menentukan kadar keimanan dan akhlak manusia, karena dapat menangkal bisikan hati yang buruk (dzulmani). Ary Ginanjar Agustian misalnya, mengartikan nurani sebagai bisikan kebaikan universal dalam diri manusia untuk mengisi hidup dengan perilaku mulia. Menghormati nurani kita berarti terus-menerus menjalankan perilaku yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Ilahi. Ketika kita sedang berjalan di trotoar jalanan yang ramai dengan kendaraan, kemudian melihat nenek-nenek yang akan menyebrang. Muncullah bisikan dari hati untuk segera membantunya. Sederhananya, itulah yang disebut dengan nurani. Ada semacam niat untuk menolong orang yang sedang membutuhkan pertolongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan keagamaan seseorang. Ketika kita mendengar dari sang ustadz bahwa Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang, ada dua bisikan hati: benar atau tidak. Apabila mengikuti hati nurani kita, akan mengikuti bisikan hati yang baik dan positif dalam meyakini sifat-sifat-Nya itu. Kita, tidak akan menolak dan menafikan sifat Rahman dan Rahim-Nya, Tuhan penguasa alam. Tetapi manusia diberikan kebebasan untuk memilih bisikan-bisikan hatinya dengan syarat bertanggung jawab atas pilihannya. Di dalam Al-Quran dijelaskan, Ma­nusia men­jadi saksi atas dirinya sendiri, walau­pun ia mengemukakan dalih-dalihnya (QS Al-Qiyâmah [75] : 14-15). Ketika kita tidak mendengarkan dan melaksanakan apa yang dibisikan nurani, itu sama saja dengan memasung hak nurani untuk memberikan arahan dalam hidup. Pemasungan nurani men­cabut totalitas kita sebagai manusia. Karena itu, agama Islam menegaskan siapa yang berbuat baik, kebaikan itu kem­bali kepada dirinya sendiri. Demikianlah agama memberikan kebebasan sekaligus meletakkan tanggung jawab kepada setiap individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui apakah bisikan hati terkategori nurani adalah dengan mengetahui apakah bisikan hati itu baik dan bermanfaat untuk orang banyak ataukah tidak. Sebab, kalau bisikan hati cenderung kepada bisikan buruk dan jahat, itu dinamakan dengan dzulmani (kegelapan diri). Kalau seorang guru memberikan kunci jawaban ketika ujian tengah berlangsung apakah itu berdasarkan nurani ataukah dzulmani? Kalau seorang pejabat Negara memafaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadi dan kelompok, apakah itu didasari nurani ataukah dzulmani? Hanya orang yang memahamilah yang mampu melihat di balik setiap tindak-tanduk ada bisikan untuk melakukan kebajikan. Bukan untuk membuat orang di sekitar merasa tidak nyaman berada di sampingnya. Wallahua’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis, Bergiat pada Institute for Religion and Future Analisys (Irfani) Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-3047563730320057528?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/3047563730320057528/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/nurani-kebajikan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/3047563730320057528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/3047563730320057528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/nurani-kebajikan.html' title='Nurani Kebajikan'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Sj5cj-MgAbI/AAAAAAAAAFU/fnWhXris9HE/s72-c/4557_1115457461016_1664366565_273240_434532_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-1641788481513025407</id><published>2009-06-21T09:01:00.000-07:00</published><updated>2009-06-21T09:03:32.428-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Resensi: Shalat Hajat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Sj5Zx0GoUHI/AAAAAAAAAFM/rv5Y9juOtuI/s1600-h/shalat+hajat.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 83px; height: 125px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Sj5Zx0GoUHI/AAAAAAAAAFM/rv5Y9juOtuI/s200/shalat+hajat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5349812119697641586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Judul &lt;/span&gt;: Shalat Hajat; Kunci Meraih Kesuksesan;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penulis &lt;/span&gt;: Ghaida Halah Ikram;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Editor &lt;/span&gt;: Doel Wahab; Penerbit: Mizania, Bandung;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cetakan &lt;/span&gt;: Pertama, Mei 2009;Tebal : 152 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah buku panduan beribadah bagi seorang muslim. Buku ini saya peroleh dari penerbit Mizania, hari Sabtu kemarin. Dengan kemasan bahasa yang sederhana saya menjadi nikmat membaca bagian-bagian dari buku ini. Seperti yang diungkapkan Prof. Dr. KH. Miftah Faridh, buku ini menyajikan bahasan seputar shalat hajat sebagai energi, ruh, spirit, power untuk bangkit, maju, menjadi tangguh dan sukses.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya menyoroti kaitan shalat dengan kesuksesan seseorang. Ternyata, seperti dikatakan Haidar Bagir, bahwa dalam shalat ada semacam pelatihan diri untuk selalu disiplin dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Shalat hajat adalah salah satu dari ibadah sunah yang tidak terikat waktu. Dalam bahasa lain, ketika kita memiliki kebutuhan, menunaikan shalat bisa menjadi perantara menggapai kebutuhan tersebut. Bagi seorang karyawan, misalnya, Shalat ini akan berefek positif terhadap kinerjanya selama menjalankan tugas dari atasan. Hebatnya lagi, seperti disitir Ghaida Halah Ikram, shalat hajat dapat membangkitkan energi positif dari dalam diri. Energi inilah yang sangat dibutuhkan oleh setiap orang agar dapat menggapai kesuksesan di dunia, maupun di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-1641788481513025407?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/1641788481513025407/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/resensi-shalat-hajat.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/1641788481513025407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/1641788481513025407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/resensi-shalat-hajat.html' title='Resensi: Shalat Hajat'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Sj5Zx0GoUHI/AAAAAAAAAFM/rv5Y9juOtuI/s72-c/shalat+hajat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-6950386926686364959</id><published>2009-06-21T07:37:00.000-07:00</published><updated>2009-06-21T07:41:58.626-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><title type='text'>Sajak: Puisi Frida Firdiani</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;jeritanku parau tanpa kendali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Sj5GqZPYcnI/AAAAAAAAAE8/NoQP7__eWKk/s1600-h/3310_1006298014173_1726610012_7177_2036850_n.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Sj5GqZPYcnI/AAAAAAAAAE8/NoQP7__eWKk/s200/3310_1006298014173_1726610012_7177_2036850_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5349791101506581106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;jeritanku parau tanpa kendali&lt;br /&gt;hati ini tak mengijinkanku untuk pergi&lt;br /&gt;haruskan aku berlari tanpa arti&lt;br /&gt;kini senyuman itu tiada abadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adakah alasan agar aku tak harus bertanya&lt;br /&gt;agar gundahku tak lagi menerpa&lt;br /&gt;kini keabadianku hilang bersama senja&lt;br /&gt;meski cintamu tiada henti sepanjang masa&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;arahku seolah terhapus&lt;br /&gt;harapanku perlahan terputus&lt;br /&gt;sebelah hati kini telah pupus&lt;br /&gt;dan kisah itu seolah padang tandus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau bertanya alasan aku semakin tak tahan&lt;br /&gt;suatu bukti bahwa kau tidak berperasaan&lt;br /&gt;waktumu habis termakan sangkaan&lt;br /&gt;dan kenangan itu adalah kebinasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perlahan luka ini ku nikmati&lt;br /&gt;karna padam tak berarti mati&lt;br /&gt;ku coba susun kepingan hati&lt;br /&gt;agar kesakitanku lekas pergi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-6950386926686364959?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/6950386926686364959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/sajak-puisi-frida-firdiani.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/6950386926686364959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/6950386926686364959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/sajak-puisi-frida-firdiani.html' title='Sajak: Puisi Frida Firdiani'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Sj5GqZPYcnI/AAAAAAAAAE8/NoQP7__eWKk/s72-c/3310_1006298014173_1726610012_7177_2036850_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-1586638856257418374</id><published>2009-06-18T03:48:00.000-07:00</published><updated>2009-06-18T03:51:51.712-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Merindukan Gadis Bercadar</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cerpen Dasam Syamsudin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjocDXOQmbI/AAAAAAAAAE0/R2FrD7BerEk/s1600-h/sarahazharicadar_285.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 156px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjocDXOQmbI/AAAAAAAAAE0/R2FrD7BerEk/s200/sarahazharicadar_285.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348618351554894258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Rerumputan halaman BALATKOP berombak melengkung-lengkung dibelai angina sore. Kehangatan matahari tidak lagi mengalahkan suhu dingin yang mulai turun bersama hamburan kabut yang mulai muncul samara-samar. Udara Lembang-Bandung menyemburkan angin pegunungan mengusap-ngusap tubuh, menarik-narik dedaunan yang bergelayutan di pepohonan, dan mengotori jendela BALATKOP—Bala Pelatihan Koperasi—dengan debu yang beterbangan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di halaman ini, sekumpulan mahasiswa berjaket Merah Tua berkumpul. Sorak-sorai keceriaan memecahkan kesepian dan kebosaan setelah beberapa jam menyimak materi-materi yang disajikan Panitia DAM (Darul Arqam Madia) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah tingkat Propinsi. Para peserta yang datang dari berbagai daerah di propinsi, serempak memakai jaket Merah Tua bagaikan warna darah, berdiri, melingkar dan bergerak-gerak mengikuti instruktur yang mencontohkan game. Instruktur dan Panitia DAM hanya menonton, kadang-kadang bertepuk tangan saat peserta terkesan menghibur, atau bersorak “Huuu….hhh”, dan tertawa cekikikan jika memang ada peserta yang melucu. Biasanya jika tiba giliran Cepi, peserta dari IMM cabang Kota Bandung, nyaris semua peserta dan panitia akan menggelagarkan tawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sam di panggil Kang Rizki” Rovi menyahut.&lt;br /&gt;“Sebentar dulu, lagi asik” aku menjawab malas.&lt;br /&gt;“Eh… cepat, katanya. Di suruh ngisi galon” sambut Rovi, memaksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak bisa menolak jika kang Rizki, ketua DPD IMM Jabar menyuruhku, di samping aku Panitia bagian Konsumsi, ya, sekedar menghormati yang lebih dewasa, atau lebih terhormat jika melihat jabatannya. Aku mau saja melakukan perintahnya. Huh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengayun langkah dengan cepat, berusaha memburu waktu agar bisa melihat simulasi lagi. Setelah naik ke atas jok motor sambil memeluk galon. Rovi menancap gas motor dengan kaku, motor melaju. Di sepanjang jalan aku menyaksikan pemandangan Lembang yang begitu indah. Gunung-gemunung yang menjulang, menancap di bumi dan warnanya hijau pucat. Di tepi jalan pepohonan berderet teratur dan bersih, cabang-cabangnya yang beranting laksana jemari yang terbuka dari kepalannya hendak meraup langit. Pesawahan bersusun bagaikan tangga, begitu pula kebun-kebun. Yang sangat menarik di Lembang, kita bisa menjumpai berbagai tanaman hias di sisi jalannya berderet memamerkan keindahannya masing-masing. Aku begitu kagum dengan pemandangan ini. Bagi Rovi pemandangan ini tidak begitu aneh, setidaknya tidak mengagetkan, sebab ia sudah menyaksikan sebelumnya. Lagi pula ia datang duluan, sedangkan aku baru datang tadi pagi. Dan, acara sudah di mulai kemarin pagi, dan penutupan akan dilaksanakan lusa, Hari Mingu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ba’da maghrib seluruh panitia dan instruktur berkumpul di ruang rapat, memusyawarahkan persiapan out bond yang akan di lakukan esok hari pukul 08.00. Di sela-sela musyawarah, seseorang mengucapkan salam di depan pintu. Suaranya seperti gadis dan terlantun lembut. Semua agak heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum?...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua mata memandang arah datangnya suara, sesaat keadaan menjadi sunyi, konsenterasi teralihkan, pembicara pun diabaikan. Sebetulnya mahasiswi ini tida aneh dan biasa-biasa saja. Namun, ia jelas berbeda dari mahasiswi lain yang ada di sini. Ia pake cadar. Untuk beberapa orang, gadis ini tidak asing, mereka mengenalnya. Bagi yang lain masih asing, termasuk aku, belum mengenalnya. Nyaris semua memperhatikan dan beruasaha mengenali wajahnya yang tertutup cadar. Gadis bercadar pun duduk diantara kami. Ia panitia juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Panitia dari Komisariat STIEM-Bandung” Seseorang berbisik tertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengernyitkan dahi, menajamkan tatapan pada wajahnya. Hanya matanya yang bisa di lihat, selain itu tertutup rapat kain hitam yang melindunginya. Oh, lihatlah! Aku mulai menyukai memperhatikannya. Tatapan mata gadis ini begitu lembut. kedua matanya indah dengan bola mata hitam bersih bercahaya, bulu matanya indah, alisnya melengkung tipis di atasnya. Dan, guratan hidungnya lurus, walau sebagiannya tertutup cadar, aku yakin hidungnya mancung. Aku begitu penasaran dengan kecantikan yang disembunyikannya. Ia memilih menutup tubuhnya, dan berusaha memancarkan aura keimanannya. Sungguh, kecantikan yang luar biasa. Aku bisa merasakan inner beauty yang memancar dari dalam jiwanya, tidak mesti mengetahui kecantikan luarnya. Daya tariknya sangat magis, setidaknya untuk aku yang dari tadi memperhatikannya. Ah, siapakah gadis ini? Duduknya begitu anggun, sopan dan berpendidikan. Kepalanya tertunduk lembut, terlihat malu-malu. Satu hal lagi, gadis ini putih bercahaya. Untuk sementara aku menyimpulkan ia cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidadari malam bersembunyi di balik awan. Kapas raksasa tempat persembunyian sang rembulan terlihat pucat, sela-selanya ditembus cahaya rembulan menyentuh genteng-genteng BALATKOP. Angin malam semakin dingin, kabut pegunungan berkumpul menebalkan diri, BALATKOP pun samara-samar diselimutinya. Keheningan mulai merayapi waktu, hanya suara binatang malam memekakan suasana. Ricuh panitia dan instruktur pudar bersama matanya yang terpejam. BALATKOP semakin dingin. Aku masih terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan ruangan panitia, di atas kursi menghadap pegunungan yang di selimuti kabut samar-samar, aku duduk memeprhatikan bulan yang mulai muncul dari balik awan. Mungkinkah aku insomnia atau terlalu banyak tidur siang? Ah, persetan dengan semua itu. Aku hanya merasa aneh. Aneh dengan pikiranku yang kembali membawa jiwa menyaksikan gadis bercadar tadi. Siapa dia, dan dari mana? Megapa ia ikut-ikutan seperti aku, datang terlambat?. Dan, ini yang penting. Sudahkah ia punya pacar? Oh… mengapa gadis ini mengganggu malamku sampai aku harus terjaga. Aura kecantikan batinnya—sudah kukatakan, sangat magis—menyihir diriku harus memikirkannya malam ini. Malam semakin dingin. Gila?! Aku merindukannya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“A.. bangun! Shalat subuh dulu” seseorang membangunkan.&lt;br /&gt;“Bentar lagi, aku baru tidur”&lt;br /&gt;“Gak bisa di tunda, A.., shalat dulu, gak baik shalat kesiangan”&lt;br /&gt;Pandanganku masih berkunang saat mata mulai terbuka. Sesosok hitam samar-samar berdiri di depanku.&lt;br /&gt;“Ah, kamu. Ganggu aja!” aku sedikit marah&lt;br /&gt;“Maaf, A…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaga. Suara ini aku mengenalnya. Yang kemarin mengucapkan salam. Ia gadis bercadar itu. Terlambat, ia sepertinya tersinggung. Langkahnya begitu cepat diayun mnggalkan kursi yang aku duduki, juga, ku tiduri. Tidak sempat aku minta maaf padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa aku gak kontrol begini?” Nada penyesalanku dengan suara tertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah shalat, aku bangkit untuk berjalan-jalan menghilangkan ngantuk yang kembali menyerang. Sambil berjalan aku mengutuki diri sendiri. Mengapa mengucapkan kata kasar pada gadis itu? Ah, betapa bodohnya. Di gerbang BALATKOP aku menyandarkan tubuhku, jalan raya ku pandang. Dingin masih terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin seakan menusuk tubuhku dari belakang, aku menggigil dan membalikan badan hendak kembali ke ruang panitia. Masya Allah! Tubuhku membeku, nafasku tersenggal-senggal hampir meledak, jantungku berdegup kencang, bahkan sarafku terasa ikut membeku. Tidak mungkin, itu halusinasi atau fatamorgana, oh tidak! Gadis bercadar hitam mendekatiku. Tidak bisa dipercaya, tidak masuk akal. Mau apa dia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengumpulkan keberanian, mengatur nafas dan mulai menyusun kata. Doa terlantun di dalam hati, mohon keberanian. Dia semakin mendekat. Dua langkah di depanku, langkahnya terhenti. Lidahku yang beku, ku paksa bergetar mengeluarkan kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“mmm….emmmm… anu… maaf” aku gagap.&lt;br /&gt;“Maaf? untuk apa?” ia menjawab sopan.&lt;br /&gt;“itu… yang tadi… anu… yang itu… pagi tadi saat kamu bangunin”&lt;br /&gt;“Oh… gak apa-apa. A… biasa aja”&lt;br /&gt;“ emmm… emmmm…” Mulutku enggan bicara.&lt;br /&gt;“Permisi, A… “&lt;br /&gt;“Permisi?...” hatiku berbisik penasaran. Permisi? Apa artinya ia mau pergi. Bukan sengaja menemuiku. Oh, bodohnya aku. Ia mau pergi. Tidak! Tidak! Sebelumnya aku harus tahu, setidaknya namanya saja. Ia mulai melewatiku. Tubuhku masih membeku. Dadaku akan berdentum keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu…” lidahku lancar&lt;br /&gt;“apa lagi?” Ia agak kaget dan membalikan tubuhnya.&lt;br /&gt;“Siapa Namamu?...”&lt;br /&gt;“Vera… Vera Khoerunissa. Mari… A, Assalamu’alaikum”&lt;br /&gt;“Wa’alaikum salam”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantungku berhenti berdetak, aneh semuanya seakan berhenti. Angin ikut membeku, pohon-pohon jadi patung, orang-orang di BALATKOP semuanya berhenti diam terpaku seolah arca, matahari sinarnya tumpul oleh dinginyna suhu Lembang, burung berjatuhan, awan menjadi lukisan tak berjalan, langit mendung, petir menyambar-nyambar, gunung seperti berdenyut akan meledak. Semua, semua kehidupan seperti berhenti. Saat angkot Ledeng-Cicaheum yang ditumpangi Vera si gadis bercadar pergi meninggalkan acara DAM IMM. Secara pribadi, ia meninggalkanku. Aku bersedih, alam ikut menjerit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pertemuan di acara itu, sekitar tiga bulan yang lalu. Aneh! Aku terus merindukan gadis itu sampai sekarang. Vera Khoerunissa, aku tidak yakin mencintaimu atau tidak. Namun aku yakin satu hal, aku merindukanmu. Sangat merindukanmu. Ingatkah kau padaku, Vera?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-1586638856257418374?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/1586638856257418374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/merindukan-gadis-bercadar.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/1586638856257418374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/1586638856257418374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/merindukan-gadis-bercadar.html' title='Merindukan Gadis Bercadar'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjocDXOQmbI/AAAAAAAAAE0/R2FrD7BerEk/s72-c/sarahazharicadar_285.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-4295648231456214457</id><published>2009-06-18T03:32:00.000-07:00</published><updated>2009-06-18T03:47:18.624-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Cerita Cinta udin</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cerpen DASAM SYAMSUDIN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjoYhMoqCMI/AAAAAAAAAEs/rvN3g6lxxY8/s1600-h/n1667816458_126536_8508.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 222px; height: 187px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjoYhMoqCMI/AAAAAAAAAEs/rvN3g6lxxY8/s200/n1667816458_126536_8508.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348614466062387394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Orang gila, pikir Jumril, saat menyimak mulut Udin terus nyerocos membicarakan Veta, gadis pujaan hatinya. Teman-teman Udin terpaksa harus mendengar ceritanya, tidak ada celah untuk lari meninggalkan Udin bercerita, mereka semua di dalam angkot. Udin dan Teman-temannya dalam perjalanan pulang, menuju Kampus UIN SGD Bandung. Mereka anggota organisasi kampus Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat UIN SGD Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil memperhatikan kota Bandung yang diselimuti kegelapan malam, dan kerlap-kerlip cahaya yang disemburkan berbagai lampu yang tergantung di rumah-rumah dan bangunan. Udin terus menceritakan kebahagiannya bertemu Veta saat menghadiri Musyawarah Cabang IMM Kota Bandung. Sembari menjulurkan tangan kirinya melalui celah jendela angkot yang tidak berkaca, seolah akan meraup angin malam, Udin berkata, “Aku tadi senang banget bertemu Veta. Dia memperhatikan kehadiranku. Veta menyuruhku memikul satu kardus akua gelas. Oh, senangnya…”&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mendengar Udin bercerita, orang-orang di dalam angkot ada yang tertawa terbahak-bahak, ada yang hanya mengembangkan senyum, ada yang terus mengomentari cerita Udin dengan cacian, biasanya Jumril, ada juga yang tidak peduli dengan cerita Udin, biasanya Riko dan Intan. Mereka berdua sibuk pacaran. Oh, iya, ada juga yang tidak tahu sama sekali cerita Udin, dia Rovi. Di pojok angkot Rovi duduk bersandar ke dinding angkot. Sambil ngorok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angkot terus melaju menembus angin malam, menyelusup menabraki kabut-kabut yang beterbangan di depan bempernya. Gedung-gedung tinggi di tepi jalan raya Soeakarno Hatta seakan bergarak meninggalkan angkot yang ditumpangi Udin dan teman-temannya kala roda angkot terus berputar melaju. Udin menunjuk-nunjuk baligo besar yang berisi slogan, “AQUA, MINUMAN KELUARGA INDONESIA”. Udin terus memperhatikan baligo itu, senyummerekah dari bibir seksinya, lalu sabda keluar dari mulutnya. Jumril tahu apa yang akan diceritakan Udin. Cerita yang menjenuhkan, pikir Jumril.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, kalian tadi lihat aku, kan?Saat aku dan Veta menyajikan air mineral dalam gelas plastik bermerk Al-Ma’soem. Romantis, ya? Bayangkan saja, aku yang megang bakinya dan Veta membagikan airnya pada peserta Musycab. Kalian tahu? Veta yang menyuruhku megang bakinya. Veta… Veta… kau ini, suka sama aku tapi masih malu mengatakannya. Dasar wanita!” mendengar ocehan Udin, semua orang di dalam angkot tidak ada yang merespon, mereka hanya menggelengkan kepala. Makusdnya, mereka bosan dengan ocehan Udin. Hanya supir angkot yang menanggapi cerita Udin, sambil lihat Udin di cermin depan, supir angkot itu berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bocah Gendeng” Fuih… asap mengepul dari mulut supir angkot itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah! Din, ocehan loe itu garing…” Jumril ngomentari Udin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul” orang-orang di dalam angkot mendukung Jumril.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udin tidak mempedulikan tanggapan teman-temannya. Dia terus memperhatikan permukaan aspal jalan raya yang seakan-akan mengalir bagaikan sungai. Sambil tersenyum Udin membalas atanggapan teman-temannya. “Dasar! Anak-anak Jomblo…”&lt;br /&gt;Mendengar ucapan Udin, supir angkot melihat wajah Udin di cermin depan. Sepertinya supir angkot itu bujangan tua.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kipas angin berputar-putar payah, seolah lelah mengipasi immawan—anggota IMM berjenis kelamin pria—yang merebahkan tubuhnya di bawah kipas angin di atas karpet hitam dan kucel yang menghampar. Nyaris semua immawan merasa letih dan ngantuk. Mungkin karena jauhnya perjalanan atau karena jauhnya mengantar teman-teman immawati—anggota IMM berjenis kelamin wanita—kekostannya masing-masing. Semua orang di dalam Sekretariat IMM melepas kelelahannya dan berusaha mengatus nafasnya kembali, menormalkan degup jantungnya. Nah, berbeda dengan Udin, dia tidak melakukan sepertia apa yang dilakukan temannya. Udin duduk bersandar ke dinding sambil memperhatikan kipas yang berputar-putar di atap. Jemarinya sangat terampil memutar-mutar sebatang rokok Djarum Super yang disulut. Setelah semua asap rokok disemburkan keruangan berkipas angin itu, Udin kembali bercerita tentang pertemuannya dengan Veta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Friends, kalian tahu, tidak? Veta itu… “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat Udin menyelesaikan pembicaraannya. Jumril melempar wajah Udin dengan sebongkah bantal. Bongkahan bantal itu disusul desingan lemparan puluhan benda-benda keras lain. Udin dilempari oleh teman-temannya dengan sepatu, sandal, bantal, guling, kasur, dan tape recorder. Semua benda itu menghujam wajah Udin. Udin pun pingsan. Bongkahan benjol bermunculan di wajahnya. Sehingga tampak bukit-bukit benjol di wajah Udin. Udin tubuhnya tumbang terkulai tak berdaya, lidahnya menjulur keluar, kipas angin terus meniupinya.&lt;br /&gt;“Sekali-kali mulut si Udin itu harus dibungkam” kata Cepi.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumput hijau menghampar di kolong langit bagaikan karpet yang membentang luas tak berujung. Awan gemawan berduyun-duyun menyatu padu membentuk dekorasi yang menarik dengan benjolan-benjolannya yang lembut laksana kapas. Semilir angin laut menyapu kabut-kabut di udara mencerahkan langit yang biru bercahaya. Dedaunan yang bergelayutan di pepohonan cemara saling beradu di tarik-tarik angin, gemuruhnya bagaikan suara sorak sorai tepuk tangan dari ribuan penonton sepak bola di stadium Jalak Harupat Bandung. Gemericik aliran sungai membentuk gelombang kecil, memantulkan sinar matahari yang bersinar bagaikan batu permata Jabarjud, deburan kecil airnya yang membentur bebatuan bagaikan bunyi degup jantung kehidupan. Beburung yang beterbangan dan yang bertengger di atas pepohonan pun menjerit-jeritkan kicauannya mengharmoniskan nyanyian alam yang indah. Di antara harmonisasi perpaduan alam yang sempurna itu, ada dua insan yang tertawa ria. Mereka berlari-lari saling mengejar, menari-nari dengan kaki telanjangnya, dan berteriak-teriak tentang kebahagiaan. Dua insan itu adalah Udin dan Veta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udin berlari-lari kecil mengejar Veta, menangkapnya, lalu memeluknya erat dan berputar-putar, sampai-sampai pandangan mereka menganggap bahwa alam sedang berputar menari-nari mengelilinginya. Udin berputar terlalu kencang sampai genggaman tangan yang memeluk erat tubuh Veta terlepas, mereka pun berguling-guling. Tawa bahagia kehidupan telah mengingat mereka. Udin kembali mengejar Veta, kali ini Veta terbang, tanganya direntangkan seakan hendak meraup angin. Udin di bawah tidak bisa melakukan apa-apa. Ia tidak bisa terbang. Veta terbang semakin jauh. Pandangan Udin mulai berkunang, samar-samar ia melihat lambaian tangan Veta seperti seseorang yang akan pergi jauh. Udin hanya bisa menatap Veta yang terbang semakin jauh, sampai akhirnya tidak ada lagi sosok gadis pujaan hatinya itu. Udin kebingungan, kakinya dikayuh, ia lari-lari kecil tak tentu arah, pandangannya terus mengitari langit dari Selatan sampai Utara. Namun Veta tidak kembali lagi, Udin mulai khawatir. Ia pun menjerit-jerit berteriak menyebut nama Veta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Veeee…..ttttaaaaaaa…….!!!!!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“BYUR!!!!....” Seember air menghantam wajah Udin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udin kaget, jantungnya hampir copot. Di depannya berdiri sesosok laki-laki yang agak gemuk sedang tertawa terbahak-bahak sambil memegang ember merah yang masih meneteskan air. Dia Jumril. Di belakang Jumril beberapa temannya sedang tertawa terpingkal-pingkal.&lt;br /&gt;“Kaum mimpi buruk, Din? Sudah pukul enam pagi. Kau belum shalat subuh”&lt;br /&gt;Udin menghela nafas panjang. Lalu menatap keempat sahabatnya dengan tatapan benci dan penuh dendam. Tapi iajuga tidak begitu meperdulikan mereka.&lt;br /&gt;Setelah shalat subuh, Udin meminjam handphone pada Ibeng. Ideng orang yang lumayan baik, ia pun memberinya. Dengan ekspresi wajah yang masih penuh kekagetan dan penuh kekesalan pada sahabat-sahabatnya, Udin mencet-mencet tombol HP dengan cermat. Beberapa detik kemudian suara seorang gadis berbisik di telinga Udin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa ini?....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udin”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, Din?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gak ada… Cuma mau naya kabar kamu aja?...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kabar?...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku baik-baik aja, al-hamdulillah. Emangnya ada apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gak ada apa-apa. Udah dulu ya, assalamu’alaikum…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“wa’alaikumsalam”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memberikan HP pada Ibeng. Udin merebahkan dirinya di atas kasur tipis dan lusuh lalau menyelimuti dirinya. Sembari merekahkan senyumnya ia berkata pelan, “Oh, Veta….&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-4295648231456214457?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/4295648231456214457/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/cerita-cinta-udin.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/4295648231456214457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/4295648231456214457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/cerita-cinta-udin.html' title='Cerita Cinta udin'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjoYhMoqCMI/AAAAAAAAAEs/rvN3g6lxxY8/s72-c/n1667816458_126536_8508.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-8198286427393437402</id><published>2009-06-17T09:55:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T10:12:32.227-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya: Feature Reza Nugraha'/><title type='text'>Mengungkap Rahasia Peninggalan Embah Dalem Arif Muhammad</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh : Reza Sukma Nugraha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjkhE-UEMwI/AAAAAAAAAEE/NwQbi56RD28/s1600-h/candi-cangkuang.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 395px; height: 330px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjkhE-UEMwI/AAAAAAAAAEE/NwQbi56RD28/s200/candi-cangkuang.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348342401809527554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah sebuah pohon bernama cangkuang yang telah mengilhami nama sebuah desa di utara Kabupaten Garut, Jawa Barat. Desa dengan kondisi geografis khas dataran tinggi ini adalah salah satu dari sekian banyak objek wisata di Tatar Parahyangan. Setidaknya, terdapat tiga objek yang memesona para wisatawan untuk berkunjung ke desa ini. Candi Cangkuang, makam Embah Dalem Arif Muhammad, dan rumah adat Kampung Pulo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap wisatawan memiliki motif dan tujuan yang berbeda-beda saat berwisata di Cangkuang. Para peziarah melakukan wisata religi, dengan berziarah ke makam-makam keramat yang terdapat di Kampung Pulo. Umat Hindu tentu ingin mengunjungi candi Cangkuang dan patung Dewa Syiwa yang terletak di dalamnya. Ada pula wisatawan yang lebih senang mengunjungi rumah adat di Kampung Pulo. Mereka mengamati keenam rumah dengan arsitektur khas ini dengan pendekatan yang berbeda. Bahkan ada pula yang hanya ingin menikmati pemandangan sekitar Situ Cangkuang dan berkeliling pulau dengan sebuah rakit yang disebut getek.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para filolog, Cangkuang menarik karena menyimpan manuskrip yang ditulis oleh Embah Dalem Arif Muhammad yang dipercaya penduduk sekitar sebagai penyebar agama Islam di Tanah Garut. Seluruh manuskrip yang tersimpan di museum Cangkuang ini sering dijadikan objek penelitian para peneliti maupun para akademisi. Manuskrip tersebut berupa naskah khutbah Jumat terbuat dari kulit kambing, naskah khutbah Idul Fitri terpanjang di Indonesia, Al-Quran dan kitab lainnya yang terbuat dari kayu saih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Embah Dalem Arif Muhammad, Sang Panglima Mataram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, penduduk Cangkuang masih memeluk kepercayaan animisme dan dinamisme. Sebagian lainnya beragama Hindu. Hingga datanglah Arif Muhammad yang secara perlahan mengajarkan Islam di desa tersebut. Menurut Zaki Munawwar, pengelola sekaligus juru bicara museum Cangkuang, Arif Muhammad adalah panglima perang dari kerajaan Mataram. Ia diutus Sultan Agung untuk mengusir VOC di Batavia pada 1645. Kemudian Arif Muhammad berangkat menuju Batavia untuk menyerang VOC. Sayangnya, Arif Muhammad beserta pasukannya berhasil ditekuk mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan Arif Muhammad membuatnya malu untuk kembali ke Mataram. Selain itu, ia takut Sultan Agung akan membunuhnya apabila ia tahu Arif Muhammad kembali dengan membawa kegagalan. Oleh karena itu, Arif Muhammad memutuskan untuk mengasingkan diri. Garut, dipilihnya sebagai tujuan. Selain itu, ia berniat menyebarkan agama Islam di daerah Parahyangan Timur. Awalnya, ia berdakwah di daerah Tambak Baya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu kemudian, Arif Muhammad berpindah ke tempat lain. Adiknya kemudian meneruskan dakwahnya di Tambak Baya. Sedangkan Arif Muhammad berdiam di sebuah kampung di desa Cangkuang. Kini di desa tersebut terdapat danau kecil atau situ. Kampung tempat tinggal Arif Muhammad terpisah dan membentuk pulau. Lantas, kampung tersebut dinamai Kampung Pulo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arif Muhammad menikah dan memiliki tujuh orang anak, enam perempuan dan satu laki-laki. Namun hingga saat ini, belum diketahui istri dan silsilah keturunan Arif Muhammad. Cerita yang berkembang saat ini hanya disampaikan dari mulut ke mulut. Penduduk sekitar menjuluki Arif Muhammad dengan nama Embah Dalem Arif Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung Pulo dan Kearifan Lokal yang Terjaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu jejak peninggalan Embah Dalem Arif Muhammad adalah tujuh bangunan di Kampung Pulo. Konon, bangunan tersebut digunakan untuk tempat tinggal ketujuh anaknya. Rumah dengan ukuran yang sama terletak berderet dan berhadapan. Tiga rumah berderet sebelah selatan menghadap tiga rumah lainnya di sebelah utara. Di ujung barat terdapat sebuah mushala yang berhadapan dengan halaman luas yang membelah deretan rumah tersebut. Setiap rumah memiliki ruangan yang sama: serambi, satu ruang tamu, satu kamar tidur, satu kamar tamu, dapur, dan gudang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, ketujuh bangunan tersebut merupakan simbol. Enam rumah menandakan anak perempuan Embah Dalem Arif Muhammad. Sedangkan satu mushala menandai anak laki-lakinya. Meskipun, sampai saat ini, belum diketahui silsilah keturunan Arif Muhammad dan kehidupan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunikan lainnya, yaitu pada jumlah keluarga yang menghuni rumah tersebut. Setiap rumah hanya diperbolehkan dihuni oleh satu kepala keluarga. Artinya, apabila ada anggota keluarga yang menikah dan berkeluarga, maka ia harus segera meninggalkan Kampung Pulo, maksimal dalam waktu dua minggu. Apabila kepala keluarga meninggal, maka hak waris jatuh pada perempuan. Hal ini dikarenakan, sistem kekeluargaan penduduk Kampung Pulo bersifat matrilineal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini (April 2009), Kang Zaki—sapaan akrab Zaki Munawwar—mengatakan, jumlah penduduk Kampung Pulo mencapai 22 orang. Sebelas laki-laki dan perempuan. Mereka bermatapencaharian petani dan pencari ikan. Setelah Kampung Pulo menjadi objek wisata, 95% perempuan penduduk Kampung Pulo menjadi pedagang. Tidak terdapat lapisan-lapisan masyarakat dalam struktur sosial di Kampung Pulo. Hanya saja, ada satu orang yang dipercaya penduduknya untuk menjadi kuncen atau juru kunci. Tugas juru kunci adalah menyambung lidah para peziarah dan roh-roh keramat. Pak Atang adalah kuncen Kampung Pulo saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Kampung Pulo tidak diikat oleh hukum tertulis. Mereka hanya mengenal pamali sebagai istilah melanggar pantangan. Pantangan di Kampung Pulo harus dipatuhi penduduk itu sendiri maupun para wisatawan yang datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama. Tidak boleh berziarah pada hari Rabu. Hal ini disebabkan pada hari Rabu, Embah Dalem Arif Muhammad tidak mau menerima tamu, kecuali untuk belajar ilmu agama dan mengaji. Oleh karena itu, saat ini wisatawan tidak diperkenankan berziarah pada hari Rabu. Batas waktu hari Rabu, menurut kepercayaan penduduk Kampung Pulo, adalah ba’da Ashar di hari Selasa hingga ba’da Ashar di hari Rabu. Hal tersebut didasari perhitungan waktu dalam Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua. Tidak boleh membuat rumah beratap jure. Atap rumah harus tetap dibiarkan memanjang. Lalu dilarang menggunakan gong besar yang terbuat dari perunggu di setiap acara. Kedua larangan tersebut disebabkan cerita pada masa lalu. Konon, saat acara khitan anak laki-laki Embah Dalem Arif Muhammad, anak tersebut diarak menggunakan tandu berbentuk rumah-rumahan beratap jure. Pada acara tersebut juga terdapat gong besar yang terbuat dari perunggu yang digunakan untuk hiburan. Tiba-tiba sebuah angin topan memorakporandakan acara tersebut. Anak laki-laki Embah Dalem Arif Muhammad pun jatuh dan meninggal seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga. Di Kampung Pulo dilarang memelihara binatang ternak berkaki empat, seperti: kambing, kerbau, dan sapi. Menurut Kang Zaki, terdapat dua dugaan. Pertama, karena binatang ternak dikhawatirkan mengotori lingkungan setempat dan makam-makam keramat. Kedua, pada awalnya masyarakat masih memeluk agama Hindu. Sedangkan pemeluk Hindu memuja sapi. Dikhawatirkan pula, masyarakat sulit melepas kepercayaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ketiga pantangan di atas, masih banyak hukum adat yang masih dijunjung tinggi penduduk setempat. Meskipun arus modernisasi lambat laun memengaruhi perilaku masyarakat Kampung Pulo, mereka tetap memegang teguh seluruh pantangan yang berlaku tersebut. Arus modernisasi itu sendiri, salah satunya akibat dari dijadikannya Kampung Pulo sebagai objek wisata yang banyak dikunjungi orang luar daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manuskrip Karya Embah Dalem Arif Muhammad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Embah Dalem Arif Muhammad, sebagai tokoh penyebar Islam di wilayah Parahyangan Timur memperkaya khazanah kebudayaan dengan seluruh tulisannya. Tulisannya tersebar di berbagai daerah di Garut, seperti Leles dan Kadungora. Umumnya, pemilik naskah mengklaim masih keturunan Embah Dalem Arif Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat peresmian Candi Cangkuang pada tahun 1976, dengan ditandai selesainya pemugaran candi (1974-1976), pemerintah melalui instansi terkait berinisiatif mengumpulkan seluruh aset budaya berupa karya-karya Embah Dalem Arif Muhammad dan menghimpunnya dalam museum yang dibangun berhadapan dengan candi dan makam Embah Dalem Arif Muhammad. Kebanyakan masyarakat saat itu bersedia memberikan naskah tersebut agar lebih terawat dan terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Kampung Pulo mengaku memberikan naskah tersebut secara cuma-cuma, tidak seperti orang diluar Kampung Pulo yang mereka duga harus diberi kompensasi berupa materi terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ada pula pemilik naskah yang enggan memberikan naskah tersebut pada meseum. Hal tersebut biasanya dikarenakan kandungan mistik yang dipercaya memberikan efek magis tertentu bagi pemilik naskah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manuskrip yang tersimpan di museum Cangkuang di antaranya: khutbah Jumat yang terbuat dari kulit kambing, kitab fiqih, khutbah Idul Fitri terpanjang di Indonesia, Al-Quran yang ketiganya terbuat dari kayu saih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang Zaki menambahkan, ada dua kemungkinan untuk tempat penulisan naskah-naskah tersebut. Pertama, seluruh naskah ditulis Embah Dalem Arif Muhammad saat berdakwah di Cangkuang. Kedua, bisa jadi naskah tersebut ditulis sejak Embah Dalem Arif Muhammad masih di Mataram. Hal tersebut dikarenakan naskah tersebut diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa, bukan Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Quran Abad XVII M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu manuskrip yang terdapat di museum Cangkuang adalah Al-Quran dan terjemahannya dalam Bahasa Jawa dengan tulisan Arab Pegon. Ukurannya 24 x 33 cm. sedangkan teksnya berukuran 16 x 25 cm. Al-Quran tersebut tidak memiliki penomoran halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Quran yang terbuat dari kayu saih ini ditulis dengan dua warna tinta, yaitu hitam dan merah. Teks Al-Quran ditulis dengan tinta hitam, sedangkan tinta merah digunakan untuk menandai nama surat. Uniknya, menurut Jiji Muharji, salah satu pengelola museum, tinta merah itu berasal dari serat buah manggis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Al-Quran ini hanya memuat 22 surat yang terdiri dari 9 juz. Dimulai dengan surat An-Nahl dan diakhiri Surat Shad. Naskah terdiri dari 12 kuras dan memiliki 143 halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah berusia lebih dari 400 tahun ini udah rapuh dan lusuh. Lembarannya penuh lubang kecil terkena jamur. Bahkan jilidnya rusak dan judulnya tidak terbaca. Hal tersebut dikarenakan manuskrip di musem Cangkuang, termasuk Al-Quran ini, masih belum dirawat secara intensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini, perawatan seluruh manuskrip masih menggunakan cara-cara sederhana. Seperti menggunakan silica gel yang diberikan peneliti yang datang, lalu dibersihkan dengan kuas, dan menggunakan rempah-rempah alami untuk menghilangkan jamur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian dan Harapan Pengelola&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum Cangkuang banyak dikunjungi para peneliti naskah. Mulai mahasiswa yang melakukan penelitian sederhana hingga filolog yang concern terhadap manuskrip peninggalan Embah Dalem Arif Muhammad. Namun hingga saat ini, pengelola museum mengaku belum dilakukan penelitian secara mendalam sehingga pengelola pun kesulitan menjelaskan kandungan isi naskah pada pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, harapan tersebut akan segera terwujud dengan penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Dedi Supriyadi, filolog sekaligus dosen Sastra Arab berjanji, tim akan menerjemahkan naskah tersebut untuk mempermudah proses sosialisasi naskah dan kandungannya. Hal tersebut juga penting dilakukan untuk mengungkap rahasia lain dari manuskrip peninggalan Embah Dalem Arif Muhammad tersebut. Misalnya, tim peneliti telah mengungkapkan bahwa naskah yang sebelumnya disebut naskah khutbah Jumat ternyata belakangan diketahui adalah khutbah Idul Fitri. Hebatnya, naskah tersebut merupakan naskah khutbah Idul Fitri terpanjang di Indonesia!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-8198286427393437402?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/8198286427393437402/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/mengungkap-rahasia-peninggalan-embah.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/8198286427393437402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/8198286427393437402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/mengungkap-rahasia-peninggalan-embah.html' title='Mengungkap Rahasia Peninggalan Embah Dalem Arif Muhammad'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjkhE-UEMwI/AAAAAAAAAEE/NwQbi56RD28/s72-c/candi-cangkuang.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-9042147911532558283</id><published>2009-06-17T09:35:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T09:40:24.883-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Budaya'/><title type='text'>Binatang dan "Kaulinan Barudak"</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Reza Nugraha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjkcZc-zfWI/AAAAAAAAAD8/wtOUFr0QaKM/s1600-h/pic.php.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 217px; height: 188px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjkcZc-zfWI/AAAAAAAAAD8/wtOUFr0QaKM/s200/pic.php.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348337256081096034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Masyarakat Sunda tentu lebih tahu bagaimana menerapkan pendidikan anak dengan media permainan. Hal tersebut dikarenakan dalam tradisi Sunda, dikenal aneka ragam permainan anak. Permainan atau kaulinan dimainkan anak-anak di waktu senggang mereka di sekolah, sore hari sebelum maghrib, atau hari minggu. Mereka bermain bersama, baik hanya laki-laki atau perempuan, atau berbaur bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, banyak permainan yang namanya diambil dari nama binatang. Mulai dari ucing-ucingan (kucing), hahayaman (ayam), oray-orayan (ular), hingga permainan yang disebut paciwit-ciwit lutung dengan mencatut jenis seekor kera. Penamaan itu bisa jadi realistis karena pada prakteknya, banyak meniru tingkah laku dari nama binatang yang dicatutnya itu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada permainan ucing-ucingan, harus ada yang bertindak sebagai ucing (kucing). Walaupun ucing-ucingan juga terbagi menjadi beberapa macam, ada ucing sumput, ucing nagog, ucing patung, dan lain-lain. Yang terpenting adalah ada yang menjadi ucing. Pada permainan tersebut, peran sentral dimainkan sang ucing. Ucing harus mencari atau mengejar lawan-lawannya agar menjadi ucing seperti dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ucing, anak-anak pun dapat berperan menjadi hayam (ayam). Pada permainan hahayaman, selain hayam, peran penting dipegang oleh careuh (musang) yang harus berhasil mendapat hayam yang dikejarnya. Sayangnya, sang careuh tidak dapat leluasa mengejar hayam karena hayam dijaga oleh banyak pager (pagar) yang dimainkan anak lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula oray (ular) pada permainan anak-anak tersebut. Karena anak-anak harus berjajar sambil memegang pundak anak yang di depannya, maka terlihat seperti ular. Sambil mendendangkan kawih “oray-orayan luar leor mapay sawah, tong ka sawah parena keur sedeng beukah”, kepala oray harus mendapatkan buntut (ekor)-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya unsur binatang dalam kehidupan masyarakat Sunda bukanlah hal yang baru. Bermula dari tradisi cerita rakyat (folklore) Lutung Kasarung hingga fabel seperti Sakadang Monyet jeung Sakadang Kuya. Pun dalam permainan anak yang juga melibatkan unsur binatang.&lt;br /&gt;Namun demikian, ada salah satu pelajaran penting dari permainan anak-anak tersebut. Unsur binatang bisa jadi bukan hanya sekadar penamaan. Ada satu falsafah yang ditanamkan sejak dini, seperti pada suten atau suiten atau suitan. Suten adalah semacam mencari giliran dalam permainan yang masing-masing anak menunjukkan jempol, telunjuk, atau kelingkingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jempol menandakan gajah, telunjuk menandakan manusia, sedangkan kelingking menandakan semut. Siapa yang menunjukkan kelingking (cingir), maka ia kalah oleh telunjuk (curuk). Lalu yang menunjukkan telunjuk pun akan kalah oleh jempol. Hal tersebut mengandung pelajaran bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih dari makna filosofisnya, permainan anak-anak Sunda mengajarkan kehidupan sosial sejak dini. Bahwa tak ada permainan yang dilakukan sendiri menandakan manusia tidak dapat hidup sendiri. Anak-anak pun mengenal sesamanya, mengenal peraturan, dan mengenal bahwa dalam hidup itu ada menang, kalah, dan saling membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, permainan anak-anak ini semakin tergerus oleh lingkungan dan makin asing termakan zaman!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-9042147911532558283?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/9042147911532558283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/binatang-dan-kaulinan-barudak.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/9042147911532558283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/9042147911532558283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/binatang-dan-kaulinan-barudak.html' title='Binatang dan &quot;Kaulinan Barudak&quot;'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjkcZc-zfWI/AAAAAAAAAD8/wtOUFr0QaKM/s72-c/pic.php.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-7424935706022823162</id><published>2009-06-17T09:28:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T09:32:48.602-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Politik'/><title type='text'>KORUPSI IBARAT IKAN MEMBUSUK</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh ASRI MEIDA FITRI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjkanVYCfJI/AAAAAAAAAD0/pCWNtRJ6Fq8/s1600-h/4665_1002814929025_1784401443_1237_6898218_n.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjkanVYCfJI/AAAAAAAAAD0/pCWNtRJ6Fq8/s200/4665_1002814929025_1784401443_1237_6898218_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348335295534365842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;“Potonglah dari ujung kepala hingga ekor”, ungkap Cicero dalam novel Imperium. Ungkapan itu adalah respon dari kekecewaan Cicero karena KKN di Roma ketika itu telah menjalar. Dia menggambarkan Korupsi di negaranya ibarat ikan membusuk dari ujung kepala hingga ekor, sehingga salah satu cara menumpasnya adalah dengan memotong kepala, dari para birokrat sampai ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korupsi bukan lagi hal langka di negeri tercinta ini. Bahkan, korupsi tidak hanya dilakukan oleh para elite, namun telah mendarah daging dalam diri masyarakat menengah ke bawah. Kalau dulu korupsi dilakukan di bawah meja, maka tengoklah realita sekarang, korupsi dilakukan di atas meja. &lt;span class="fullpost"&gt;Sekilas kekecewaan dan gambaran budaya korupsi yang diungkap Cicero tidak jauh berbeda dengan Indonesia hari ini, walaupun dalam konteks yang mungkin berbeda. Namun essensi nya sama, Korupsi telah mengakar dalam diri masyarakat. Sebenarnya apa yang menyebabkan hal itu?Apakah Krisi moral ataukah itu hanya salah satu dari sekian banyak kesalahan kolektif yang akhirnya menjadi suatu kebenaran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila memakai pendekatan Historis Materialis dari Marx, maka keadaan bangsa Indonesia sekarang ini dapat ditelusuri dari histori bangsa Indonesia sejak masa Orba yang dipimpin Soeharto. Dimana masa Soeharto merupakan tonggak awal merajalelanya Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Dalam pandangan Marx tentang dua kelas social yang antagonistis. Kelas atas terdiri dari pemodal dan birokrat, di lain pihak adalah kelas bawah terdiri dari kaum proletar (masyarakat bawah) atau buruh yang termarginalisasi. Keadaan tersebut dapat dijelaskan dengan konsep Mode of Production yang meliputi Forces of Production, yaitu kekuatan-kekuatan produksi yang terdiri dari tanah, teknologi,modal yang dikuasai oleh para kapitalis. Dan dampak dari keadaan demikian akan mempengaruhi adanya social relations of production yang akhirnya mengalienasikan para kaum proletar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari teori Marx maka dapat dikatakan penyebab Korupsi di Indonesia salah satunya adalah pembagian struktur masyarakat yaitu superstruktur dan infrastruktur. Infrastruktur (dasar ekonomi) merupakan penentu dari suprastruktur (nilai, norma, ideology dan politik). Infrastruktur yang merupakan hal terpenting dipegang oleh hegemoni birokrat dan aparat pemerintah ketika itu, sehingga terjadi anomaly atau penyimpangan dan suprastruktur dibuat untuk memihak mereka. Kekuatan hegemoni birokrat-aparat mendominasi (Marx) atau dominasi amoral (Durkheim) dan dominasi administrasi (Weber) sehingga menjadi mayoritas tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan teori di atas dapat diajukan hipotesis bahwa sebenarnya korupsi yang telah merajalela di negeri kita adalah warisan dari zaman Orba. Hegemoni kekuasaan yang terjadi di zaman Orba memudahkan untuk melahirkan anomaly atau penyimpangan berupa Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Sebagaimana kita tahu, tindakan dipengaruhi masa lalu dan masa depan. Ada proses atau pembawaan orang lain dalam menghadapi realitas social sekarang. Bisa jadi, Budaya korup di zaman Orba terbawa oleh para elite zaman sekarang. Seperti dikatakan Blumer, Asumsi interaksionisme simbolik,bahwa manusia terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna, dan makna tersebut berasal dari interaksi social dengan orang lain (pejabat yang korup), karena itu memunculkan perilaku sama pada yang lain. Ketika kesalahan ini menjadi kesalahan kolektif yang akhirnya hanya menambah peluang bagi yang lain untuk ikut hanyut dalam indahnya KKN. Ada tiga factor yang memudahkan orang terjangkit virus untuk korupsi ini, diantaranya; opportunity, yakni peluang untuk melakukannya, sebagaimana Bang Napi bilang, Kejahatan bukan hanya karena ada niat tapi bisa karena kesempatan untuk melakukannya.yang kedua adalah Stimulus(rangsangan)untuk melakukan suatu penyimpangan, dan rasionalisasi yakni sikap permisif masyarakat yang akhirnya mewajarkan tindakan korupsi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip dari Cicero, Korupsi adalah kejahatan politis yang merongrong republic dari asas-asasnya yang fundamental, maka pejabat yang korup dipandang sebagai jmusuh Negara dan rakyat.Dari para elite birokrat di atas yang memiliki peluang merampas harta rakyat sampai bawah. Sehingga dari atas pula lah mereka pun dapat membeli kejujuran termasuk penegak hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Cicero memberanytas Korupsi di Roma dengan keberaniannya, keberanian moral dan ketajaman berpikir serta perjuangan panjang, walau tak menafikan ambisinya. Namun keinginan untuk memberantas ketidakadilan memenangkannya dan menjadikan Cicero melesat ke atas. Walaupun tidak mungkin ada Cicero di Indonesia namun semangat dan perjuangan Cicero patut di teladani, terlepas dari segala intriknya. Dibutuhkan keberanian dari kita untuk mengatakan Tidak pada Korupsi. Potonglah kepalanya…..dan berantas mulai dari yang tertinggi,,, Walaupun KPK telah memperlihatkan taringnya, namun tidak menutup kemungkinan pemberantasan itu hanya bagi golongan elite tertentu,apalagi sayang sekali kasus yang menimpa mantan Ketua KPK, Antasari yang belum jelas nasibnya karena kini beritanya telah tergantikan dengan berita-berita lain yang tidak kalah hebohnya ,,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib kita ada di tangan kita.. Masih adakah keberanian mengatakan Tidak pada ketidakadilan? Jangan jauh-jauh,,,Mulailah dari hal terkecil,,,,,,&lt;br /&gt;Wallahu a’lam&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-7424935706022823162?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/7424935706022823162/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/korupsi-ibarat-ikan-membusuk.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/7424935706022823162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/7424935706022823162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/korupsi-ibarat-ikan-membusuk.html' title='KORUPSI IBARAT IKAN MEMBUSUK'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjkanVYCfJI/AAAAAAAAAD0/pCWNtRJ6Fq8/s72-c/4665_1002814929025_1784401443_1237_6898218_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-4026214583985829910</id><published>2009-06-16T06:08:00.000-07:00</published><updated>2009-06-16T06:10:44.296-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Kepiluan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Riki Ahmad&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjeZsOufGWI/AAAAAAAAADs/lofkM3_MPOA/s1600-h/n1735996224_5367.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjeZsOufGWI/AAAAAAAAADs/lofkM3_MPOA/s200/n1735996224_5367.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347912067672119650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;siapa yang tahu akan hari esok, ada pepatah mengatakan sesuatu yang paling jauh dari kita adalah masa lalu, kesedihan pasti berbarengan dengan kesenangan orang yang benci pada kita, apalah guna kita memarahi diri, kesalahan bukan suatu impian yang diinginkan oleh setiap orang tapi mengharapkan perbaikan yang menjadi diri berusahan melihat kedepan bukan kebelakang,, sekarang kesenagan hadir dari bentuk yang lain mungkin bukan yang direncanakan buat kita tapi jangan menghindari dari kesalahan, N Q minta maaf waktu hari rabu pagi Q buat N bukan tenang tapi makin sedih semakin sedih setelah ditinggalkan HP yang awalnya N gak mau-bekas kaka- tapi Q gk bisa memberikan HP baru, yang pasti Q juga sedih karena musibah kena ke diri N, tabah ya.... Q ingin hari N bukan kesedihan yang meciptakan tetesan air mata, karena&lt;span class="fullpost"&gt; sangat berarti setiap butiran air yang tercipa dari keajaiban,,, senyuman yang pasti membaut N bangun dari yang tidak seharusnya memikirkan kesedihan biarkan saja kesediahn hanya lewat di diri N, Q dari sekarang ada sisi yang bukan lagi Q yang dulu tapi pasti setaip perubahan membuat kebaikan dan keburukan,,, kebaikan Q selalu berpikir positif buruknya terlalu berlebihan untuk merealisasikan cinta. N maaf Q ya...... N yang Q sayang, hari ini bukan hari sial tapi ujian yangmesti dijalani dengan kesabaran bukan kebinggunagn penantian dari yang pasti tidak akan terjawab, kembalikan diri N pada yang seharusnya gak harus,, lebih dekatkan lagi kejauhan diri kepada sang maha perkasa.... kepengen mah mainggu ketemu tapi kalau gak tersisa waktu baut Q ya gak membuat Q sedih banget tapi Q kangen pengen tau fisik N setelah banyak nasehat yang seharusnya dijalankan tapi sedikit yang dikerjakan jadi akibatnya banyak penyakit baut N sakit,,, berat badan N menurun bukan bertambah.... uadah dulu ya.. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-4026214583985829910?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/4026214583985829910/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/kepiluan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/4026214583985829910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/4026214583985829910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/kepiluan.html' title='Kepiluan'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjeZsOufGWI/AAAAAAAAADs/lofkM3_MPOA/s72-c/n1735996224_5367.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-4881464973157317323</id><published>2009-06-16T06:05:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T09:34:23.080-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Sekedar Renungan Diri</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Dian Ciptadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terkejut, terenyak, dan heran. Ketika membaca cover salah satu media terkemuka di New York, The Times. Koran itu mengangkat sebuah berita yang ironis, pun tragis. Seorang mahasiswa Harvard University yang bernama John, merobek ijazah Sarjananya ketika acara wisuda tengah berlangsung. Hal tersebut terasa sangat ganjil, okelah hal tesebut di lakukan oleh seorang yang merasa tidak puas dengan nilai yang di dapat, anak begajulan, berandal or..something like that’s lah..ironisnya hal tersebut dilakukan oleh seorang John! Yang merupakan lulusan terbaik Harvard ketika itu dengan nilai tertinggi. Cumlaud bung…&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Unik n sekaligus menggelitik. Apalagi jika tau kenapa si John melakukan itu. Di depan peserta yang hadir dalam acara itu, sambil berdiri di atas podium kehormatan, dia berkata , “Mungkin anda heran melihat aksi saya ini, tai ini merupakan reaksi normal bagi saya. Setiap kali dosen memberikan soal-soal tes, semuanya dapat saya kerjakan. Tapi hal tersebut tidak menjamin semuanya, karena ada tiga pertanyaan yang sangat essensial dalam kehidupan ini yang tidak bias saya jawab, yaitu : Darimana saya berasal? Untuk apa saya ada di dunia? Dan mau kemana saya nanti?...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Itulah sepenggal kisa memilukan dari seseorang yang dianggap pintar nan jenius untuk ukuran ilmu fisik, materi, duniawi, atau…apalah disebutnya. Tapi dengan kemampuannya itu, dia tidak bisa menemukan hakekat dirinya yang sebenarnya. Hal yang demikian dapat terjadi dan menjadi sebuah fenomena yang klasik, karena pelajaran yang diberikan di lembaga pendidikan pada umumnya melulu merujuk materialisme. Hampa akan nilai religiusitas yang bias menjadi penawar dahaga dikala kemarau melanda jiwa.&lt;br /&gt;Eksistensi diri menjadi sangat penting, terutama jika kita mengingat sebuah pepatah bijak yang berbunyi, “Man arafa nafsahu, arafa Rabbah.” Barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Rabbnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polemik terhadap pengkajian manusia seolah tiada habisnya. Contoh yang selalu hangat (meskipun sebenarnya sudah basi) ialah polemic seputar teori Darwin. Meskipun Charles Darwin dan ilmuwan-ilmuwan Darwinisme bersikukuh, istikomah terhadap pendiriannya, bahwa manusia itu berasal dari monyet, tetapi pada kenyataannya, tidak ada atupun manusia (kaya ataupun miskin, pahlawan ataupun penjahat) yang mau mengakui bahwa nenek moyangnya adalah monyet…atau sebangsanya. (mungkin termasuk Darwin sendiri)&lt;br /&gt;Meskipun, jika kita memperhatikan wajah kita sendiri di depan cermin tatkala tertawa, nyerengeh, terkekeh-kekeh, ternyata ada kemiripan juga, apalagi jika sedang ngelamun terbang terbawa angan-angan nan jauh ke langit nan tinggi, dengan raut wajah yang sering tak control. Namun, apapun itu, yang jelasa keadaan manusia di masa sekarang ini sudah ga jauh beda dengan perilaku monyet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monyet senang tinggal di ketinggian pohon. Begitu juga manusia, sangat menyukai tempat tinggi, apalagi yang tinggi itu adalah jabatan. Segala usaha, pun upaya dilakukan demi tercapainya tujuan tersebut. Saya teringat cerita ketika kanak-kanak, ketika sang monyet yang menaiki pohon pisang, menipu, memanfaatkan kura-kura bodoh di bawahnya yang tak berdaya untuk dapat menaiki pohon tersebut. Jika sang kura-kura minta haknya yang telah dijanjikan, maka sang monyet dengan teganya, sambil ngeledek melemparkan kulit pisang ke tubuh kura-kura tersebut, jika protes, cukup perlihatkan gigi-giginya yang runcing sehingga menciutkan nyali sang kura-kura, hingga menyembunyikan kepalanya kedalam tempurung.&lt;br /&gt;Begitulah sekilas analogi gambaran sebagian besar manusia yang tak ubahnya berkelakuan seperti monyet. Memang ada bedanya…ketika hari ini monyet-monyet hanya memiliki satu busana, yaitu rambut-rambut yang tersusun rapid dan lebat sejak lahir. Justru manusia memiliki lebih banyak varian jenis busana yang bisa digunakan sesuai kondisi. Ketika musim hujan, jaket-jaket dan mantel tebal siap melindungi tubuh dari ganasnya cuaca dingin, namun ketika musim kemarau yang dating, maka semua itu digantikan dengan kaos-kaos oblong tanpa lengan, bahkan baju-baju ketat yang memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh yang menjadi kebanggan mereka, bak peeragawan dan peragawati yang berbusana necis dengan gayanya yang narsis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahayanya, ketika datang musim kepepet, baju “takwa” yang merupakan lambang baju keshalehan di mata, umum siap dijadikan penutup keaslian congkakya diri, luar memperlihatkan keshalehan wibawa, dan lain sejenisnya, tapi jauh berbeda dengan apa yang ada di dalamnya, kotor, busuk, dan hal-hal memalukan lainnya. Itulah sebabnya Ali bin Abi Thalib beratsar, “Lihatlah apa yang diucapkan, jangan lihat siapa yang mengucapkan.” Atau dalam lain kata, “Don’t look picture from the cover.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kalimat diatas adalah agar kita selalu waspada dalam menghadapi realitas kehidupan yang mayoritas dihuni oleh orang-orang yang pinter keblinger. Ibarat serigala berbulu domba. Bagaimanapun baiknya sikap yang diperlihatkan diantara kawanan domba, serigala tetaplah serigala, terlepas domba dari kawanan, terkaman kejam siap menerjang tanpa ampun.&lt;br /&gt;Juga ketika kita melihat melalui kacamata moral religi, bumi tempat kita berpijak, yang sudah beralih kezaman komputerisasi canggih ini, ternyata dihuni oleh monyet-monyet yang berkeliaran disana-sini. Dilihat dari kacamata moral religi, banyak monyet yang sedangbelanja di pasar, mall-mall, bahkan ada monyet-monyet yang bergelantungan di instasi-instasi birokrasi yang senang mengotak-ngatik nasib rakyat. Semoga saja hal demikian tidak terjadi di lembaga-lembaga pendidikan yang menjadi harapan umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui atau tidak, banyak monyet di sekitar kita, benarkah adanya evolusi itu ? kalau memang benar, tapi kenapa masih juga ad monyet yang bergelantungan di hutan-hutan? Ataukah evolusi itu berjalan sebagian dan sebagian lagi tidak? Sebenarnya teori evolusi itu mengungkap monyet yang jadi manusia, atau manusia yang jadi monyet? Apapun itu, sudah seharusnyalah bagi kita untuk mengetahui siapa kita sebenarnya. Masalah evolusi, satu hal yang pasti, bahwa kita dituntut untuk berubah menjadi manusia seutuhnya! Menjadi Insan Kamil. Hilangkan sifat “monyet” kita. Buktikan bahwa kita benar-benar terlepas nasab dari makhluk yang berjenis monyet, karena kita adalah manusia. Makhluk Allah yang paling sempurna dalam proses penciptaan, dan di muliakan dalam kedudukan.&lt;br /&gt;Kenali diri kita!!!&lt;br /&gt;Untuk selanjutnya menjadi manusia seutuhnya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-4881464973157317323?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/4881464973157317323/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/sekedar-renungan-diri.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/4881464973157317323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/4881464973157317323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/sekedar-renungan-diri.html' title='Sekedar Renungan Diri'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-5991360301104709174</id><published>2009-06-16T06:00:00.000-07:00</published><updated>2009-06-16T06:05:07.358-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Kenangan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Riki Ahmad&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjeYIZ1-qkI/AAAAAAAAADk/xuViP9lBwnw/s1600-h/n1735996224_5367.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjeYIZ1-qkI/AAAAAAAAADk/xuViP9lBwnw/s200/n1735996224_5367.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347910352669420098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bulan ini bnayak orang kesana-kesini kebingungan bagaimana dengan memberikan sesuatu dihari yang satu tahun sekali sebagai bagian bukti untuk membuktikan sayang dibulan dimana setiap pasangan menunggu kejutan dari pasangannya sangat senanglah punya pasngan yang mengerti berbeda dengan saya riki ahmad yang sekarang ini sedang duduk dibangku kuliah semester VII dengan jurusan Muamalah, apa yang dirasakan bukan hanya keistimewaan Valentin, tapi udah ampir 1tahun dalam megarungi bahterai hubungan yang begitu indah tidak tanpa disadari melewati cuma dengan mengandalkan kepercayaan dari mulai hubungan dengan jarak jauh antara bandung-tasik (jauh banget...............) tapi dirasakan cuma jauh dari jarak saja&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-5991360301104709174?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/5991360301104709174/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/kenangan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/5991360301104709174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/5991360301104709174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/kenangan.html' title='Kenangan'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjeYIZ1-qkI/AAAAAAAAADk/xuViP9lBwnw/s72-c/n1735996224_5367.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-3337203257666298399</id><published>2009-06-16T05:26:00.000-07:00</published><updated>2009-06-16T05:31:31.933-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Essay'/><title type='text'>Flu</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Cecep el-Khayali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjeQfjGcWBI/AAAAAAAAADc/Rq4LcX5rotU/s1600-h/n1508503452_30092375_1892557.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 207px; height: 211px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjeQfjGcWBI/AAAAAAAAADc/Rq4LcX5rotU/s200/n1508503452_30092375_1892557.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347901954198362130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sakit flu membut saya sulit untuk beraktivitas. Apalagi, sekarang saya sedang melaksanakan UAS. Padahal, dua hari yang lalu saya telah menghabiskan dua tablet obat flu. Itu pun atas saran sahabat saya. Sebenarnya, saya mau menghindari semua obat warung maupun obat apotek. Namun, daya saya tak sampai untuk menghindarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekadang, saya ketika dilanda semacam flu, hal pertama yang saya lakukan adalah mengambil sapu tangan atau yang sejenisnya. Karena kalau tidak seperti itu, ketika saya batuk,bersin,maka segala kotoran akan keluar secara sembarangan. Bagi saya, flu membuat tidak nyaman dan bekerja pun menjadi kurang konsentrasi. Sedikit-sedikit, ketika air yang ada di hidung saya hendak keluar, maka saya sudah siap membuat tarikan kencang.”Srekk…srek..&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan seperti itu, saya agak sedikit nyaman. Karena berhasil melampiaskan sekaligus membuang jauh-jauh segumpal penyakit. Memang terlihat kurang sopan bagi sebagian orang, namun bagi saya, hal seperti itu adalah seperti kembali ke masa kecil. Tak apalah, hitung-hitung bernostalgia dengan masa lalu. Tapi, ingat, bukan berarti saya kekanak-kanakan. Tidak sama sekali.. Sumpah!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu semua saya lakukan atas dasar kesadaran pribadi, dan tidak membawa organisasi manapun atau pun dari partai tertentu. Sekali lagi tidak!! Karena jika saya tidak melakukan itu pun, saya tetap akan menuliskannya. Tentunya sebatas pengetahuan saya. Misalnya, Anda tidak bisa mengukur sejauh mana pengetahuan saya, maka Anda cukup berimajinasi tentang saya. Anda harus merasa yakin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Flu memang sebuah problem. Problem ini akan berlanjut jika kita kurang perhatian terhadapnya. Apapun butuh perhatian di dunia ini. Tanpa perhatian, seorang Gadis yang lagi kasmaran, akan merasa hampa, dan akhirnya terputus tanpa status. Begitu pun dengan yang namanya flu, sangat butuh untaian perasaan dan sumbangsih, tentunya dari pihak yang terkena gejala flu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf sekali lagi, sudah saya katakan sebelumnya, bahwa dua hari yang lewat, saya sudah menelan dua pil Sanaflu. Tapi, flu yang ada, belum juga beranjak pergi. Saya hanya berbaik sangka saja,”oh..ternyata masih betah dengan saya, Dia belum mau pindah ke lain hati,”. Itu saja yang saya ucapkan. Tidak banyak. Bagi saya, lebih baik berkata sedikit dari pada berkata banyak tidak juga sembuh. Nah, selama dua hari itu, ibaratnya saya sedang terkena sindrom. Saya pun kurang mengerti apa itu makna sindrom. Ketika kata itu melintas di kepala saya, saya langsung menuliskannya. Karena kalau berlama-lama berpikir kata apa yang terbagus yang ingin saya tulis, maka sulit bagi saya meneruskan sebuah tulisan. Kalau tidak percaya, silakan coba!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke masalah  yang sedang saya alami saat ini. Flu. Jangan sekali-kali menganggap enteng tentang flu. Sering orang selintas berkata,”Wah..hanya flu!”. Mudah sekali mengatakan seperti itu, mungkin saja, kebetulan orang itu, kurang menghayati apa yang sedang terjadi pada orang lain. Istilahnya, kurang begitu empati. Menghadapi tipe orang yang semacam ini, perlu kesabaran exstra. Saya pun kurang begitu yakin kalau anda, misalnya, kebetulan terkena flu kemudian ada salah satu teman anda ada yang mengatakan seperti di atas, lantas anda tidak tersinggung dengan ucapannya.. Yang pasti, perasaan sakit hati itu ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tingggal bagaimana kita menyikapinya. Apakah kita menganggapnya sebagai angin lalu saja, kemudian tanpa berpikir negatif untuk membalasnya. Atau malah kita memasang strategi jitu untuk membalasnya. Hingga anda merasa, dalam perasaan anda,”saya pun bisa menghina seperti itu!”. Akhirnya, kontrol emosi anda pun tidak terkendali lagi. Kata-kata yang ada di kebun binatang Ragunan pun diumbar bebas. Adu fisik terjadi. Anda salah, mereka pun kurang mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sulit untuk bertindak bijak. Apalagi dalam keadaan yang sangat tertekan sekali pun. Perlu kontrol emosi, perlu berpikir dalam, tentang apa yang akan terjadi setelah kita bertindak. Ini hanya persoalan flu, belum yang lain. Padahal, kalau kita sadar, persoalan yang lebih berat sedang menunggu di luar sana. Mungkin ada baiknya jika saya mengutip sebuah mahfudzat yang mengajarkan kebijakan. Begini kira-kira dalam bahasa Indonesianya,”Berpikirlah sebelum anda bertindak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat itu memang diketahui sebagai pisau kebijakan. Kalimat itu pun tidak bermakna bijak, jika kita dalam segala tindakan kurang memperhatikan aspek berpikir jernih. Saya pun sungguh menyadari, persoalan apapun, seringan, dan seberat apapun, semuanya butuh proses. Proses yang baik, saya meyakini hasinya pun akan baik. Kita jadikan flu sebagai guru kebajikan dan kebijakan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-3337203257666298399?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/3337203257666298399/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/flu.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/3337203257666298399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/3337203257666298399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/flu.html' title='Flu'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjeQfjGcWBI/AAAAAAAAADc/Rq4LcX5rotU/s72-c/n1508503452_30092375_1892557.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-598689024756061039</id><published>2009-06-16T05:00:00.000-07:00</published><updated>2009-06-16T05:10:03.915-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Ari Gak Bisa Nulis</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Ari Aryanti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjeJ6NkhjzI/AAAAAAAAADU/EZqZbbTl0vA/s1600-h/4682_1057604809365_1503224720_30131477_1832190_n.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 163px; height: 157px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjeJ6NkhjzI/AAAAAAAAADU/EZqZbbTl0vA/s320/4682_1057604809365_1503224720_30131477_1832190_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347894715694026546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Duh, pusing juga waktu Dasam minta tulisan sama Ari. Ari, kan gak bias nulis. Tapi karena Dasam yang minta, ya harus bagaimana lagi, Ari harus  memenuhi permintannya. Kalau bukan Dasam yang minta mah Ari juga ogah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa Dasam minta tulisan Ari  harus memenuhinya?” pasti itu pertanyaan teman-teman IMM—barangkali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya Ari mau nulis, bukan keran Ari cinta sama Dasam—ih sama sekali bukan—tapi,&lt;span class="fullpost"&gt; karea Dasam gak henti-hentinya kasih Ari motivasi buat nulis, bahkan Dasam sampe bikinin Ari tulisan. Kalau lihat orang seperhatian itu, kan Ari juga malu. Makannya Ari nulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan aja ya, tulisan Ari gak ada yang ngejelek-jelekin. Kan, Ari malu.&lt;br /&gt;Eh, ternyata menulis itu asyk juga, lho. Bayangin aja, kita bisa berbagi ide dan pemikiran sama teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emang sich, Ari gak bisa nulis seperti Kang Sukron, tapi kalau terus berusaha pasti bisa. Betulkan?... hehehe&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-598689024756061039?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/598689024756061039/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/ari-gak-bisa-nulis.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/598689024756061039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/598689024756061039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/ari-gak-bisa-nulis.html' title='Ari Gak Bisa Nulis'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjeJ6NkhjzI/AAAAAAAAADU/EZqZbbTl0vA/s72-c/4682_1057604809365_1503224720_30131477_1832190_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-1522161618344856722</id><published>2009-06-15T20:19:00.000-07:00</published><updated>2009-06-15T20:24:41.971-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><title type='text'>sajak ini untukmu</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;sajak sem eyot&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku menulis ini sebab aku mau menulisnya&lt;br /&gt;sajak ini aku tulis, sebab ini sajak untukmu&lt;br /&gt;aku menulis sajak, sebab aku ingat kamu&lt;br /&gt;sebab itu, kau yang membuat aku menulis sajak&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;sajak ini untukmu&lt;br /&gt;memang kau yang aku maksud dalam sajak ini&lt;br /&gt;maksudku memang padamu, &lt;br /&gt;padamu yang sekarang menghilang&lt;br /&gt;dan aku tahu, kau pun tidak tahu&lt;br /&gt;bahwa sajak ini untukmu&lt;br /&gt;sebab kau tidak tahu aku menulisnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku harus bagaimana?&lt;br /&gt;ya, aku hanya mau berharap kau menemukan sajak ini&lt;br /&gt;ini sajak yang aku tulis untukmu&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-1522161618344856722?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/1522161618344856722/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/sajak-untukmu.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/1522161618344856722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/1522161618344856722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/sajak-untukmu.html' title='sajak ini untukmu'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-2779828847898997589</id><published>2009-06-14T09:47:00.000-07:00</published><updated>2009-06-14T09:51:48.676-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Singkat (Cersing)'/><title type='text'>Protes Manusia Pada Tuhan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh CECEP KOMET&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjUqhGBYPkI/AAAAAAAAAC8/xj1JH20hOfE/s1600-h/3100_1040596184336_1508503452_30098583_7967728_n.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 99px; height: 114px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjUqhGBYPkI/AAAAAAAAAC8/xj1JH20hOfE/s320/3100_1040596184336_1508503452_30098583_7967728_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347226880612777538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Suara musik begitu mengguncang tempatku sedang nge-Net. Sedang di luar sana rintik hujan terus mengguyur disertai lalu lalang kendaraan bermotor. langit tak henti-hentinya mengeluarkan kerlipan cahaya, tanda sang pemilik sedang mengintai. Aku disini mangeja kata-kata, menumpahkan seluruh kekuatan imajinasi yang begitu liar, seliar macan Tutul.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Entah ada apa denganku. Hati begitu menggebu, menuruti nafsu yang terus menyerbu. Hentakan jari terus berlangsung  meski pikiran sedikit kacau dengan perasaan. Perasaan yang sedari tadi belum terlaksana karena gelora jiwa sempat terhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rintik hujan belum juga berhenti. Apa maunya ini ? mau menyiksa umat bumi ? memang sudah selayaknya begitu. umat sudah mulai ingkar dengan janji-Mu!. Eh, belum juga hujan usai, kenapa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang nian nasibmu hai penghuni Bumi. Sebentar lagi sekumpulan rintik itu akan melumatmu tanpa ada yang tesisa. Mau kemana ? Aku akan terus menghadang Tuhan !. Tuhan yang mana ?? Tuhan yang mana-mana..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan hanya akan menyelamatkan yang putih menurut kata hati Tuhan. Tak ada kompromi lagi-lagi negoisasi. Kata Tuhan “suci”, maka suci. Kata Tuhan ” abu-abu “, maka abu-abu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup adalah sebuah rentetan skenariao, yang harus dijalani sesuai rasio. Panggungnya adalah alam. Babak terakhir ada dua: pintu suci dan pintu abu-abu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-2779828847898997589?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/2779828847898997589/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/protes-manusia-pada-tuhan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/2779828847898997589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/2779828847898997589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/protes-manusia-pada-tuhan.html' title='Protes Manusia Pada Tuhan'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjUqhGBYPkI/AAAAAAAAAC8/xj1JH20hOfE/s72-c/3100_1040596184336_1508503452_30098583_7967728_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-6383819414986116747</id><published>2009-06-14T09:24:00.000-07:00</published><updated>2009-06-14T09:28:21.357-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Keagamaan'/><title type='text'>Memahami Musibah</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh JAJANG BADRUZAMAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjUk-hkmCKI/AAAAAAAAAC0/lE56RZWJfF8/s1600-h/s1105206885_3666.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 100px; height: 133px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjUk-hkmCKI/AAAAAAAAAC0/lE56RZWJfF8/s320/s1105206885_3666.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347220789154678946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (as-Syura : 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kesedihan di negeri ini seolah tiada henti”, demikian sepotong perkataan teman saya ketika melihat kejadian kegiatan evakuasi korban situ Gintung di televisi. Memang benar, beberapa tahun terakhir negeri kita kerap kali ditimpa ragam musibah. Mulai badai tsunami, gempa bumi, gunung meletus, luapan lumpur, longsor dan banjir. Hampir setiap tahun ada saja musibah yang menimpa negeri ini.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan tersebut manusiawi diungkapkan oleh tiap orang. Terutama apabila didasarkan pada fakta yang ditemui. Kesedihan, kegalauan, kekesalan, dan kemarahan kerap jadi ekspresi orang yang menyaksikan dan mengalami musibah (bencana). Namun, banyak juga korban bencana yang menyadari bahwa musibah yang menimpa mereka merupakan suatu hal yang berada di luar kendali manusia. Sehingga mereka pasrah dan menerima musibah tersebut sebagai sebuah suratan takdir (baca: ketentuan Allah SWT).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar sikap penerimaan yang mewujud dalam kesabaran dan ketabahan, kita juga mesti memperhatikan musibah tersebut secara lebih teliti. Diantaranya adalah menyingkap apa yang melatarbelakangi musibah. Hal itu penting untuk dipelajari sebagai pengalaman dan pelajaran (‘ibrah) untuk masa yang akan datang. Karena musibah tidak semata-mata menimpa perorangan atau kelompok tanpa sebab dan akibat yang jelas. Penelitian dan pengamatan terhadap sebab dan akibat musibah adalah sebuah kegiatan ibadah tafakur terhadap kekuasaan Allah SWT yang sangat baik dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman tentang musibah sebagai suatu hal yang mutlak harus diterima seringkali membuat kita terlampau pasrah tanpa ada usaha untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Padahal ada wilayah dimana manusia dapat melakukan suatu usaha untuk mencegah dan mengantisipasinya. Kita tidak sepatutnya menyerah tanpa ada usaha. Bisa jadi keteledoran dan kesalahan manusia itu sendiri yang mengundang munculnya musibah.&lt;br /&gt;Allah SWT. mengingatkan kita untuk untuk senantiasa mengoreksi diri dan bercermin dari kejadian masa lampau. “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Q.S. as-Syura : 30).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koreksi terhadap apa yang telah dilakukan menjadi sangat penting. Sejauh mana kita menghindarkan diri dari tindakan yang dapat mengundang musibah dan sejauh mana pula kita melakukan tindakan untuk mencegah terjadinya musibah. Melalui koreksi, kita dapat mengetahui apa sebab yang melatarbelakangi sebuah musibah. Sehingga dapat menumbuhkan kesadaran dalam diri tiap orang tanpa harus mencari-cari siapa yang harus disalahkan (dianggap bertanggungjawab) atau saling menyalahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apabila musibah yang menimpa kita benar-benar di luar kendali usaha manusia untuk menghindarinya. Maka sikap penerimaan adalah solusi terbaik dalam menghadapinya. Kita tidak memiliki kekuatan apa pun untuk menandingi kekuasaannya. Karena kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Namun hendak diingat bahwa setiap musibah yang ditimpakan kepada siapa pun telah disesuaikan dengan kadar kemampuannya.“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…” (Q.S. al-Baqarah:286).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musibah adalah bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya sebagai sarana peningkatan kualitas diri. Terutama peningkatan keimanan dan ketakwaan. Mudah-mudahan musibah yang dihadapi oleh bangsa kita saat ini dapat mendorong peningkatan kualitas diri seluruh komponen bangsa menuju kemuliaan di sisi-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-6383819414986116747?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/6383819414986116747/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/memahami-musibah.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/6383819414986116747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/6383819414986116747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/memahami-musibah.html' title='Memahami Musibah'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjUk-hkmCKI/AAAAAAAAAC0/lE56RZWJfF8/s72-c/s1105206885_3666.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-8639297614370280893</id><published>2009-06-12T20:11:00.000-07:00</published><updated>2009-06-12T20:15:52.329-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Pegawai Negeri Pelayan publik</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh ASRI MEIDA FITRI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjMZyxtcloI/AAAAAAAAACs/KwY5nnQkEZA/s1600-h/n1784401443_9851.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 124px; height: 105px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjMZyxtcloI/AAAAAAAAACs/KwY5nnQkEZA/s320/n1784401443_9851.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5346645542747018882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam Undang-Undang disebutkan bahwa kewajiban daripada Pegawai Negeri hanya satu,,&lt;br /&gt;TAat dan Patuh pada Pancasila,. Semua orang mungkin hapal isi daripada Pancasila, anak SD juga mengetahui itu tapi yang jadi pertanyaan adalah apakah semua orang tahu hakikat dan essensi daripada Pancasila???Apa yang terjadi di Sistem Pemerintahan kita sekarang???&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Let We See,,, ada banyak faktor yang membuat permasalahan dan ketidaksinkronan kondisi n sistem di negara kita ini,,,ada yang namanya UNDER THE CONTROL of THE MAJOR..kalo tidak salah istilahnya seperti itu,,di bawah control atau penguasaan atasan seperti yang diterapkan dalam sistem militer. Adanya kepatuhan yang terkadang berlebihan,,ambil contoh, ketika apa yang menjadi kebijakan atasan adalah kebaikan dalam pemberian pelayanan publik,tapi bagaimana jika kepatuhan itu juga pada hal-hal yang merupakan anomali atau penyimpangan dari tujuan??Sudah menjadi rahasia umum, banyak kecurangan yang terjadi di instansi2 pemerintah sekarang.Buat jadi PNS aja sekarang udah mahal banget ya??&lt;br /&gt;tidak usah jauh jauh lah,,,dalam instansi kecil aja apalagi Instansi Pendidikan,,,,wah,,,emang gratis sih, tapi buat ngurusinnya gak gratis lho,,,&lt;br /&gt;Kemudian karena kepatuhan itu sehingga melahirkan ketiadaan improvisasi dalam melaksanakan kewajiban PNS,,,Mungkin sekarang udah banya improvisasi,,yang harusnya pengambilan ijasah without money,,,karena improvisasi jd perlu money dech,,,,,,,,,,,,,,,,,Whats wrong with Our Goverment??&lt;br /&gt;Ditambah lagi perekrutan bukan karena prestasi dan kapasitas seseorang dalam jalan menjadi Pegawai Negeri yang akhirnya melehirkan KKN...&lt;br /&gt;Semua hal atau sub sistem yang terbangun melahirkan yang namanya KKN. So what should we Do?????&lt;br /&gt;Teringat ungkapan CICERO,,Ikan membusuk dari kepala sampai ekor,,,,Potonglah dari kepala hingga ekornya,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,&lt;br /&gt;maaf ya,,,,ini hanya sekedar goresan tinta dari orang awam,,hehehe...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-8639297614370280893?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/8639297614370280893/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/oleh-asri-meida-fitri-dalam-undang.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/8639297614370280893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/8639297614370280893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/oleh-asri-meida-fitri-dalam-undang.html' title='Pegawai Negeri Pelayan publik'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjMZyxtcloI/AAAAAAAAACs/KwY5nnQkEZA/s72-c/n1784401443_9851.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-7062796037585780891</id><published>2009-06-12T19:59:00.000-07:00</published><updated>2009-06-12T20:06:48.958-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Budaya'/><title type='text'>Sisi Cinta Di Hari Valentine</title><content type='html'>Oleh ROVI HALIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjMXVymrxuI/AAAAAAAAACk/x2kKvdDTM4k/s1600-h/f.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 233px; height: 174px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjMXVymrxuI/AAAAAAAAACk/x2kKvdDTM4k/s320/f.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5346642845747627746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Negara yang memiliki kekuasaan Islam terbesar tidak akan menyukainya, tetapi apa yang terjadi sekarang di luar kendali mereka.&lt;br /&gt;Ini bukan tentang yoga, meroko atu golput. Ini tentang cinta, dan hari Valentin ada dalam agenda romantis banyak orang di seluruh dunia, termansuk di Indonesia&lt;br /&gt;Bulan lalu MUI mengumumkan larangan golput, merokok bagi anak-anak wanita hamil dan di tempat umum, dan aspek tertentu yoga yang terdapat unsur-unsur agama hindu seperti nyanyian dan meditasi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelum pengeluaran pengumuman kontropersi, beberapa ulama telah berulang kali menyataka bahwa merayakan Valentine hukumnya haram (dilarang dalam hukum Islam).&lt;br /&gt;Hari ini bagaimanapun juga suasana hari valentine sangat dirasakan di banyak tempat di kota. Di mulai dari hotel, restoran mewah, dan kafe padat perbelanjaan memiliki tawaran sepesial dalam merayakan hari yang dianggap paling romantic di tahun ini.&lt;br /&gt;Hari valentine disebut dari nama saint valentine, tetapi  sejarah dibelakang hari valentine menyisakan sebuah misteri. Terdapat beberapa versi berbeda tentang kisah Sain Valentine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut salah satu versi valentine atau valentinus tinggal di Roma ketika kekaisaran cladius II memerintah Negara.  Untuk memelihara posisi dan kekuasaanya Claudius berniaat untuk memperkuat bala tentaranya. Dia memerintahkan rakyatnya untuk menjadi tentara, tetapi banyak oranya yang tidak mau untuk menjadi bagian dari tentara. Claudius menemukan bahwa mereka tidak tertarik untuk bergabung karena ikatan yang kuat dengan istri dan anak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Claudius menjadi marah dan tiba-tiba melarang pertunangan dan pernikahan di roma.&lt;br /&gt;peraturanya sangat mengguncang para pecinta muda, membawa kesedihan, dukacita dan sakit hati. Valentine adalah seorang pendeta dengan sebuah perasaan yang lembut, tidak tahan melihat melihat masyarakat bersedih dan menikah dengan sembunyi-sembunyi.&lt;br /&gt;Claudius sangat marah mengetahui hal ini dan memasukan pendeta kedalam penjara dan mengeksekusinya pada  tanggal 14 feb kira-kira tahun 270 masehi. Setelah kematinya Valentine diberi gelar Saint.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori lain tentang kisah Valentine yang telah tinggal di dalam penjara dengan sahabat Sipir. Itu tidak benara kenapa valentine dipenjara, tetapi  menurut versi Valentine pada akhirnya jatuh cinta dengan seorang gadis, yang telah mengunjunginya sejak  ia di penjara. Sebelum ia dieksekusi, dia dia mengirim kannya sebuah kartu ucapan dan bertanda “ Dari Valentin mu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cerita lain,  dikatakan bahwa Valentin sangat jatuh cinta kepada seorang gadis. Tetapi dia ditolaknya. Dia menjadi sedih dan sakit hati kemudian menusuk jantungnya dengan pisau, dia mempertunjukan cinta abadi keinginan dan penderitaan, dia mengutus hatinya untuk seorang wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran dibalik cerita ini tidak diketahui, tetapi satu hal yang pasti, Cinta sangat kuat mengalahkan penderitaan, meskipun kesedihan dan kematian.&lt;br /&gt;Tahun lalu MUI menyatakan bagi umat muslim untuk tidak merayakan hari Valentin, MUI mengatakan perayaannya tidak bermanpaat karena orang-orang sering melakukan perbuatan amoral pada saat hari Valentin seperti pergi mabuk.&lt;br /&gt;Ketika Valentin datang untuk cinta, bagaimanapun tidak seorangpun, bahkan ulama dapat masuk kedalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Cinta itu datang, orangn-orang mrencanakan untuk membuat harinya yang paling baik untuk mengungkapkan cinta mereka pada pujaan hatinya.&lt;br /&gt;Akankah orang-orang mabuk saat perayaan hari Valentin? Beberapa orang mungkin melakukannya, bersenang-senang sepanjang malam dengan minum alcohol. Tetapi bagi sebagian lainnya malamnya akan menjadi sangat berharga untuk dilewatkan dalam suatu ketidak sadaran karena mereka ingin menikmati setiap waktu dalam keadaan sadar, dengan pikiran sehat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aku mencintaimu”. Kata ini akan diungkapkan dengan lembut atau keras.&lt;br /&gt;Katakana dengan bunga. O!, mawar merah adalah hadiah yang sempurna yang dapat berbicara ribuan kata-kata kasih saying. Mengirim kartu ucapan dengan gambar hati juga menjadi cara lain untuk mengungkapkan perasaanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya coklat tetap menjadi hadiah yang paling popular tetapi beberapa orang tidak akan ragu untuk memungut berlian, perhiasan, jam tangan atau hadiah mahal lainya untuk mngungkapkan cintanya pada seseorang yang spesial pada sebuah kesempatan yang spesial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu, sebuah lilin makan malam dengan romantic memilih pasangan suami istri yang menginginkan sebuah kenangan dimalam hari, dituruti dengan masakan yang lezat dan segelas anggur akan menjadi serasi pada malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia hari Valentine disebut hari kasih saying. Yang berarti hari penuh cinta. Karena kenyataanya, tidak hanya bagi pasangan pencinta muda, tetapi untuk setiap orang, tanpa memandang agama yang akan menunjukkan cintanya pada keluarga, sahabat dan yang lainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya coklat tetap menjadi hadiah yang paling popular tetapi beberapa orang tidak akan ragu untuk memungut berlian, perhiasan, jam tangan atau hadiah mahal lainya untuk mngungkapkan cintanya pada seseorang yang spesial pada sebuah kesempatan yang spesial.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-7062796037585780891?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/7062796037585780891/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/sisi-cinta-di-hari-valentine.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/7062796037585780891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/7062796037585780891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/06/sisi-cinta-di-hari-valentine.html' title='Sisi Cinta Di Hari Valentine'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SjMXVymrxuI/AAAAAAAAACk/x2kKvdDTM4k/s72-c/f.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-5191398986577804140</id><published>2009-05-31T06:55:00.000-07:00</published><updated>2009-05-31T07:08:48.988-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesundaan'/><title type='text'>Adan Syarat</title><content type='html'>Carpon Ku KI DASAM SYAMSUDIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SiKPOsd7IaI/AAAAAAAAACU/He6t1iCtgug/s1600-h/n1667816458_5658.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 160px; height: 189px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SiKPOsd7IaI/AAAAAAAAACU/He6t1iCtgug/s320/n1667816458_5658.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341989590632440226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bentang di langit nu poek mongkleng geus tarembong, cahyana katinggal laleutik tingkarelip pabalatak. Bulan mirip surabi masih nyumput di jero mega barenjol nu ngaliwat. Angin gunung ngahiliwir metot-metot dadaunan tatangkalan. Sabari nyesep roko Drajum Cokelat, Amun diuk bari kukurudung pake sarung ningali gunung Haruman nu menjelut jiga benjol. Diuk ngalamun kamana mendi. Perem beunta Amun nyesep roko, fuuh… hasepna dikalurkan biwirna. Roko tinggal sapotong deui, tapi Amun can manggih cara. Cara keur ngedalkeun rasa kacinta ka neng Nova. Angin masih ngahiliwir ngoyag-ngoyag dadaunan. Amun masih liuereun, kumaha carana nyarita ka Nova, “Nova, abi bogoh”.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nalika Amun keur ngalamun di harep asrama santriawan, diuk bari kukurudung. Cecep jeung Fadli datang, leungeun Cecep ngajinjing keresek hideung. Gek, eta Cecep jeung Fadli diuk ngabaturan Amun.&lt;br /&gt;“Mun, bala-bala!” ceuk Cecep nawaran.&lt;br /&gt;“Ku naon, Mun? jiga nurarungsing?...” Fadli nambahan omongan.&lt;br /&gt;Amun masih jempe, lambeyna pinuh ku bala-bala nu keur digayeum. Bala-bala di comot deui ku Amun, dibelewekeun ka sungutna, tuluy nyarios jiga nu rek ceurik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cep, Fad, abi teh pan bogoh ka Nova. Tapi teu apal cara keur ngedalkeuna, kumahanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cecep ngahurungkeun roko Djarum Cokelat. “Eh, Amun. Cinta dipikiran” ucap Cecep bari ngaluarkeun hasep. Fuuh…&lt;br /&gt;“Gampang masalah cinta mah, ngomong atuh ka mang Fadli” sambung Fadli bari menerkeun sarungna nu morosot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit beuki poek, Cecep, Amun jeung Fadli sare kukurudung sarung ngagaloler di luar asrama ditilaman ku samak di luhur karamik. Amun sare bari seri, kempot pipina legok jiga liang belut. Fadli geus nurunkeun elmu cintana ka Amun. Amun geus apal isukan kudu kumaha jeung nyarios naon ka Nova? Eta nu jadi matak Amun sare bari seuri.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bita fa’alta wa atat wayap’ali, wanuni aqbilana fi’lun yanjali… Siwahuma harfun kahal wa fii wa lam, fi’lun mudhri’un yali lam kayasyam…” barudak santri kelas opat maca syair Alfiyah Ibnu Malik bari dinyanyikeun.&lt;br /&gt;Amun nunungguan kelas opat balubar bari ngadedengekeun barudak santri ngahaleangkeun syair-syair Ibnu Malik. Amun nyumput di jero kelas lima nu kosong da santrina geus balubar ngaji. Nalika kelas opat balubar, ti tukang jandela Amun noong Nova nu keur leumpang bareng Irma, Bentang jeung Iis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Neng, Nova!!!....” Amun ngagero Nova ti jero kelas, sirahna ngelol kaluar panto.&lt;br /&gt;Nova ngalieuk ka tukang, ningali sirah Amun sapotong nu ngelol di panto kelas lima. “Eh, kang Amun?! Aya naon, kang?”&lt;br /&gt;“Kedieu heula sakedap!” gumero Amun bari mere seuri ka Nova.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saharitamah Nova jempe bari nangtung jiga patung. Teuing curiga teuing siuneun ku Amun. Tapi, Nova teu loba basa, kadua sampeana diayun nyampeurkeun Amun. "Ti payun weh. Ke abdi nyusul.” Ucap Nova ka rerencanganana.&lt;br /&gt;Di harep pasantren aya jalan nu anyar diaspal. Sora motor tukang ojeg tinghareang ngaliwat. Di pentas jalan aya kebon jagong Kiai. Tangkal jagong oyag-oyagan ditiup angin. Dadaunan tangkal nangka aya nu ngepluk, murag ka taneh. Panon poe cahyana geus teu panas deui, tereh ka waktu Ashar. Di jero kelas lima Amun ngahuleng, di luar kelas Nova ge ngahuleng. Amun jeung Nova pajempe-jempe. Nova jiga jalma nu curiga baris meunang ucap nu pirewaseun. Da salama iyeu ge, Nova apal yen nu ngarana Amun Solihin teh mikaresep ka dirina. Manuk Tutuit ngajerit ngaleungitakn kasepi. Sabari ngageter Amun cumarios.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Neng…”&lt;br /&gt;“Kah..”&lt;br /&gt;“Abi bade nyarios…”&lt;br /&gt;Nove mesem. “Mangga! Bade nyarios naon?...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amun jempe. Leungeuna ngodok saku calana, ngaluarkeun barang. Tuluy di asongkeun ka neng Nova. “Neng, iyeu, tampinya…”&lt;br /&gt;Nova rada rewas. Teunyangka Amun rada romatis. Nova seuri bari nampi bungkus leutik pamasihan Amun. “Nuhun”.&lt;br /&gt;Amun ngangguk bari mere mesem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Neng…”&lt;br /&gt;“Kah…”&lt;br /&gt;“Keur wengi abi teu tiasa sare emut wae ka Eneng”&lt;br /&gt;“Naha?...”&lt;br /&gt;“Duka” ucap Amun bari ngangkat taktakna.&lt;br /&gt;“Neng..”&lt;br /&gt;“Kah…”&lt;br /&gt;“Abi palai nyarengan Eneng. Palai nyorang kahirpun ngabaturan Eneng.  Palai ngajajap jeung janten jalmi nu mimiti ngadeg ngabela jeung ngajagi kahormatan Eneng dugi ka jaga. Abi cinta ka Enang” Ucap Amun bari ngadegdeg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin ngahiliwir ngaguarkeun mega nu ngagunduk di langit. Langit jadi biru pisan. Jukut hejo di hareupeun pasantren melengkung katebak-tebak angin. Kembang malati mekar bareureum, ngaur-ngaur kaseungitanan ka dunya. Sanajan teu aya hujan. rarasaan Amun jeung Nova, di langit anu biru cahyaan asa aya pelangi nu melengkurng jiga nyoret dunya ku mangpirang-pirang warnana. Manuk nu nyengcle di pangpang tatangkalan asa tingkaroceak mere tembang cinta ka dua insan nu keur digulung rasa deudeuh jeung nyaah. Nova tungkul, ngatur nafasna. Panginteun teu percaya Amun ngungkapkeun rasa kanyaah, kacinta jeung kadeudeuhna jeung sakaligus janji bakal ngajagina ti mara bahaya nu baris nyorang dina kahirupanana.&lt;br /&gt;“Neng, kumaha?...” Ucap Amun panasaran.&lt;br /&gt;Nova masih jempe. Nova ngalieuk katukang ningali motor tukang ojeg ngaliawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kang, henteu tiasa muguhkeun ayeuna?”&lt;br /&gt;Amun rewas, ditingali raray Nova nu hideung manis. Tiungna kekelebatan katiup angin. Amun perem bari ngatur ambeukanana, tuluy tumaros.&lt;br /&gt;“Naha…?”&lt;br /&gt;“Henteu tiasa weh”&lt;br /&gt;“Neng, atuh kedah ayeuna…”&lt;br /&gt;Nova jempe deui bari nyoo kado pamasihan Amun.&lt;br /&gt;“Kumaha pami ba’da asyar?...”&lt;br /&gt;“ba’da asyar?... siap!” jawab Amun rada bingah.&lt;br /&gt;“Ngan kang Amun nu adzana…”&lt;br /&gt;“Adzan? Naha kedah adzan?&lt;br /&gt;“Kedah weh, bilih palai ditampimah” ceuk Nova bari ngaleos ninggalkeun Amun. “Abdi bade ningalikeun kang Amun adzan” sambungna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amun ngahuleng di jero kelas. Jantungna dug-dugan. Teu percaya, Nova bakal narima cintana, pami Amun ngumandangkeun adzan. Adzan syarat, pikir Amun.&lt;br /&gt;Cai nu ngucur kaluar tina liang leutik paralon ditandean ku leungeun Amun. Amun nyucikeun dirina tina hadas leutik. Wudhuna mani diapik-apik. Duka naon sababna?&lt;br /&gt;Ti luar masjid bari ngalocotkeun sendal capitna, Amun ningali Udin keur nyoo mik (michrofon), mencet-mencet tombol on-of dina gagang mik. Rek adzan. Ningali Udin nyoo mik. Amun lumpat satarikna ti luar masjid, ngarebut mik nu keur di cekel ku Udin. Karek ge Udin calangap rek ngagorowok ngumandangkeun adzan. Mik ku Amun direbut. Udin disurungkeun. “Adzan syarat”ucap Amun ka. Udin ngangguk jiga nu ngarti.&lt;br /&gt;Tukangeun Amun barudak santri dariuk ngabaris, aya oge anu masih nangtung menerkeun sarungna. Amun ngatur nafas. Awakna masih ngadeg-deg. Amun panona dipeureumkeun nyoba konsentrasi. Hulu mik didekeutkeun ka biwirna. Leungeun kencana nutupan ceuli belah kenca. Bari ngabayangkeun neng Nova. Amun mulai ngumandangkeun adzan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allahuakbar… Allahuakbar…” Amun ngalieuk ka tukang. Ditukangeunana barudak santri loba nu nutupan ceuli. Lain karna nurutan Amun nutupan ceuli. Tapi sabab sora Amun sumbang kacida. Amun teu pati paduli ka barudak santri. Panona mencrong santriawati nu keur nangtung di jalan hareupuen masjid. Nova mesem ningali amun adzan. Amun ge mesem. Hatena bagja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Asyhad allaa ilaaha illallah…” Amun ngalieuk deui katukang. Nova masih nangtung di jalan. Tiungna kekelebetan laun kebedol-bedol angina nu ngaliwat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Asyhadu anna Muhammada rasulullah…” Amun ngalieuk deui. Nova masih ninggalikeun Amun. Amun mesem, tuluy ngalanjutkeun adzana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Haya ‘ala shalaat….” Nova masih ningalikeun Amun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Haya ‘alalfalaah…” Amun ngalieuk ka tukang ningali jalan. Tapi Nova geus teu aya di jalan. Geus teu ningalikeun Amun adzan. Amun rewas tuluy ngagorowok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ALLAHUAKBAR!!!!!!....” nyebutna jiga jalma nu rewas. Teu jiga lagam adzan.&lt;br /&gt;Barudak santri milu rewas ngadenge Amun ngaggorok ‘Allahuakbar’, jiga jalma ningali karewas nu kacida. Loba santri nu gideug. Aneh ku lagam adzan Amun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laailahaillallah…” sora Amun leuleus. Mik nu di cepengna losot ti leungeuna. Murag ngagejret ninggang sukuna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saba’da shalat asyar. Amun diuk di hareup masjid. Sirahna ditunjang ku kadua leungeuna. Amun tanggah ninggali langit nu bersih, biru jeung endah. Sabab perasaan  amun asa ancur. Rarasaan Amun, langit nu biru cahyaan asa jadi poek ngabelegbeg. Angin ngagelebug tarik asa keur ngalung-ngalungkeun bangunan pasantren ka luhur.  Mega nu bodas di langit, asa ngagunduk ngahideungan ngaluarkeun gurilap. Guludug bebeledugan nyamberan tatangkalan nu nyareblok di taneh. Taneh ge asa lini. Oyag-oyagan, tuluy rengat ngabelah-belah dunya. Hate Amun asa cecelekitan diciwitan ku keyeup. Jantungna dag-dig-dug endut-endutan jiga nu rek bucat. Amun teu percaya dibohongan ku Nova. Hanas weh anjeuna maksakeun adzan bari sorana sumbang ge. Mun apal rek diantepkeun mah, teu kudu kuring ngabelaan adzan. Pikir Amun bari nenggelan karamik masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiji santriawan lumpat nyampeurkeun Amun bari ngengelek kitab Jurumiyah.  Nalika geus ngadeg harepeun Amun, eta budak teu loba basa. Langsung muka kita Jurumiyah nu dibawana, tuluy nyokot kertas nu diselapkeun di jero kitab Jurumiyah.&lt;br /&gt;“Kang, iyeu titipan ti teh Nova. Saurna, punten bie teu tiasa ngantosan adzan dugi kaanggeus.” Teu kungsi Amun ngucap nuhun. Eta budak lumpat deui ninggalkeun Amun, jiga nu siuen katinggaleun asup ngaji.&lt;br /&gt;Bari laleuleus amun muka kertas nu ditilep-tilep. Serat ti Nova. pikir Amun, bari gewat megarkeun kertasna. Panasaran ku isina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kahatur&lt;br /&gt;Kang Amun Solihin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu’alaikum…&lt;br /&gt;Kang, punten biyeu teu tiasa ngantosan sareng ningalikeun kang Amun adzan dugi kaanggeus. Abdi kedah nyerat serat iyeu.&lt;br /&gt;Kang, janji nu ku akang dicarisokeun. Yen kang Amun badi nyarengan Nova dugi kajaga. Nyorang kahirupan nu baris kuurang dilakonan sasarengan.&lt;br /&gt;Kang, Nova ge gaduh rasa nu sami jiga akang. Nova mikacinta ka akang. Nova ge palay hirup sareng akang.&lt;br /&gt;Abdi nampi akang. Pami tiasamah kedah enggal sumpingan pun biang sareng pun rama abdi. Abdi ngantosan saenggalna.&lt;br /&gt;Wassalamu’alaikum…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nova Nurhayati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amun Solihin. Seuri bari ceurik sabelah, cipanona nu tingkareclak diusapan.&lt;br /&gt;“Neng, saenggalna abdi bade nyumpingan anjeun” Ucapna bari nyium serat ti Nova.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-5191398986577804140?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/5191398986577804140/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/05/adan-syarat.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/5191398986577804140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/5191398986577804140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/05/adan-syarat.html' title='Adan Syarat'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/SiKPOsd7IaI/AAAAAAAAACU/He6t1iCtgug/s72-c/n1667816458_5658.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-5877184542008079445</id><published>2009-05-25T07:20:00.001-07:00</published><updated>2009-06-14T09:45:30.790-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Journal'/><title type='text'>Literary Journalism</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/ShqpbouzNGI/AAAAAAAAACE/NfCiM1rVSaM/s1600-h/n1129533393_30164136_6030852.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 470px; height: 290px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/ShqpbouzNGI/AAAAAAAAACE/NfCiM1rVSaM/s320/n1129533393_30164136_6030852.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339766600456418402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh AMIN R ISKANDAR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;DALAM bahasa Indonesia, terma literary journalism bisa diartikan jurnalistik sastra. Praktiknya, jurnalistik sastra bukan berarti karya tulis yang membahas mengenai sastra. Tapi sebuah style pelaporan peristiwa (berita) yang mirip karya sastra. Bedanya adalah produk literary journalism bersifat faktual bukan fiktif; seperti cerpen dan novel. Oleh karena itu, kalangan jurnalis menyebutnya dengan istilah new journalism, jurnalistik (gaya) baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang menjadi daya tarik dari literary journalism adalah terletak dalam elaborasi dua entitas (keterampilan) yang berbeda, yakni (keterampilan) jurnalistik dan sastra. Jurnalistik di satu sisi, merupakan keterapilan mencari, mengungkap, mengklasifikasi, menulis, mengedit dan mempublikasikan fakta di media massa. Di sisi lain, sastra menawarkan sebuah style tulisan dengan kekuatan imajinative description, detil, membangkitkan human interest, dan bahasa yang lentur, santun, halus, renyah dibaca bahkan sesekali bergaya puitik.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil pertautan antara jurnalistik dan sastra akan menghasilkan sebuah karya jurnalistik yang exelence. Karya yang selain memiliki unsur keakuratan data dan fakta, enak dibaca, juga tajam dalam menyentuh sense pembaca. Sayang, untuk di Indonesia karya ini cukup langka, sulit ditemukan. Sepertinya hanya tempo dari sekian banyak majalah yang biasa menyajikan karya literary journalism dengan baik. Untuk harian umum, Kompas juga mulai sedikit bergaya magajin. Padahal banyak jurnalis sekaligus sastrawan yang kiranya dapat dijadikan “guru”. Sebut saja Rosihan Anwar, Goenawan Mohamad, Mochtar Lubis, Seno Guira Ajidarma, Isma Sawitri, dan Budiman S. Hartoyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk konteks kekinian, bila para jurnalis mau sedikit jeli, tekun, dan sabar dalam proses refortase, sesungguhnya banyak hal yang menarik untuk disajikan dengan gaya sastra. Seperti perubahan perilaku caleg yang kalah dalam pemilihan, eksotisme alam yang kian hari kian memudar, pelaku industri kreatif dengan pasilitas manual, dan yang paling menarik adalah peristiwa gangguan jiwa massal di kecamatan Kersamanah, kabupaten Garut, Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita mengenai fenomena gangguan jiwa masyarakat kecamatan Kersamanah, alangkah lebih “bersuara” jika berita dikemas dengan gaya sastra. Artinya reforter (wartawan) menarasikan seluruh peristiwa yang terjadi. Dari mulai aktivitas kehidupan masyarakat sehari-hari, mula-mula munculnya gejala kejiwaan, sebab-sebabnya, perubahan perilaku individu, sampai puncaknya masyarakat benar-benar mengalami kegilaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita nyata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk literary journalism lebih tepat bila dikategorikan sebagai cerita (baca: kisah) nyata. Cerita yang kecil kemungkinan mengandung kebohongan. Tapi status literary journalism tidak setingkat dengan karya sastra realis. Hanya terdapat persamaan dan perbedaan antara keduanya. Kesamaannya terletak dalam rujukan peristiwa, data, dan fakta. Bedanya, literary journalism “mengharamkan” bumbu nilai-nilai fiktif. Sedangkan sastra realis begitu kental dengan muatan-muatan fiktif sebagai bumbu cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ranah Jawa Barat yang lebih terkenal dengan budaya tutur daripada budaya baca. Literary journalism akan efektif sebagai jembatan agar masyarakat lebih melek aksara. Karena literary journalism (kurang lebih) bergaya tutur. Selain menyajikan cerita, literary journalism dilengkapi dengan bahasa yang variatif, santai, ringan, dan dibantu dengan imajinasi yang menempatkan pembaca seolah-olah berada di lokasi kejadian. Dalam arti lain, pembaca diajak berkelana ke suatu tempat dan di sana bertemu dengan banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahannya adalah apakah hal ini dapat diwujudkan di Jawa Barat? Jawabannya tentu saja bisa. Sebab, Jawa Barat memiliki segudang sastrawan yang dapat digali ilmunya oleh para wartawan. Seperti Acep Zamzam Noor, Hawe Setiawan, Usep Romli HM, Ajip Rosidi, Soni Farid Maulana dan yang lainnya. Setidaknya belajar bagaimana menulis dengan gaya cerita pendek dan novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi satra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seno Gumira Ajidarma mengungkapkan “ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.” Artinya sastra boleh diandalkan sebagai senjata alternatif industri pers ketika posisinya ditekan. Kondisi ini sering dialami oleh pers yang menganut outoriterian pers system, yang pernah dialami oleh pers Indonesia pada orde baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kondisi jurnalisme yang bebas bukan berarti sastra tidak berhak untuk bicara. Justru dalam kebebasan pers kali ini sastra tetap harus bicara. Bahkan patut lebih kreatif lagi. Gunanya agar pers tidak kehilangan pijakan lantas beralih ke jalan kebablasan. Kebablasan pers secara fundamental dapat ditilai melalui bahasa yang digunakan si wartawan. Karena kekuatan pers sangat ditentukan oleh kekuatan bahasa. Dalam hal ini, sastra memiliki cara yang jitu dalam menyaring bahasa yang tepat dan tetap santun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda halnya dengan Goenawan Mohammad yang dalam buku “Sastra dan Kekuasaa” menyatakan “pada awalnya, sastra adalah komunikasi.” Jika benar demikian, maka sastra dan jurnalistik kedudukannya sama-sama di bawah rumpun komunikasi. Jadi keduanya tidak bisa dipisahkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya patut untuk mulai bertanya, niatkah kita megindahkan gaya literary journalism dalam lembaran media massa? Jawabannya tentu saja diserahkan pada institusi media massa yang ada.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-5877184542008079445?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/5877184542008079445/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/05/literary-journalism.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/5877184542008079445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/5877184542008079445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/05/literary-journalism.html' title='Literary Journalism'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/ShqpbouzNGI/AAAAAAAAACE/NfCiM1rVSaM/s72-c/n1129533393_30164136_6030852.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-4904387735060323828</id><published>2009-05-25T06:51:00.000-07:00</published><updated>2009-05-25T06:55:09.350-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Essay'/><title type='text'>Kebangkitan Itu Masih Ada</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/ShqjInfyIRI/AAAAAAAAAB8/MgupY92OsBc/s1600-h/3100_1040595184311_1508503452_30098576_296673_n.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 181px; height: 193px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/ShqjInfyIRI/AAAAAAAAAB8/MgupY92OsBc/s320/3100_1040595184311_1508503452_30098576_296673_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339759676637716754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Cecep Hasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Awalnya saya berfikir bahwa buat apa buat blog, tak ada guna. Namun pikiran itu terkalahkan oleh banyaknya motivasi teman-teman akhir-akhir ini. Mereka menyarankan pada saya, dengan kita ngeblog, kita dibikin kreatif, inovatif dan cerdas. Saya pun tidak mengerti dengan ucapan itu, bahkan sempat membuat pusing kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipikir, ternyata tak terpikirkan sama sekali. Akhirnya dengan sekuat tenaga, saya pun menulis kembali tanpa memikirkan, mau jelek atau bagus. ini yang saya sebut sebagai kembangkitan kembali setelah beberapa bulan vakum dalam kemalasan dan kekurangan fasilitas.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun saya lakukan demi mencapai keinginan saya; membaca-menulis setiap hari. Saya pun dapat tip segar itu dari mas Hernowo setelah membaca salah satu bukunya “Mengikat Makna sehari-hari”. Dengan bahasa yang mudah dimengerti dan tanpa menggurui, sehingga buku yang cukup tebal itu habis dilahap dalam dua hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, motivasi itu perlu. Perlu karena dengan motivasi bisa membangkitkan semangat jiwa untuk berbuat. Terutama sekali bagi saya yang selama ini semangat itu tumbuh hanya sehari, dua hari atau tiga hari. Setelah itu, luntur kembali dan mengakibatkan malas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun tak mau sekedar motivasi dan bertumpuk teori. Bagi saya sekarang adalah-praktek tanpa takut salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-4904387735060323828?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/4904387735060323828/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/05/kebangkitan-itu-masih-ada.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/4904387735060323828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/4904387735060323828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/05/kebangkitan-itu-masih-ada.html' title='Kebangkitan Itu Masih Ada'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/ShqjInfyIRI/AAAAAAAAAB8/MgupY92OsBc/s72-c/3100_1040595184311_1508503452_30098576_296673_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-8230070027358687989</id><published>2009-05-25T06:46:00.000-07:00</published><updated>2009-05-25T06:51:30.656-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Essay'/><title type='text'>Sendiri, Lamunan dan Buku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/ShqhpUACj-I/AAAAAAAAAB0/ZFcd95AvloQ/s1600-h/pic.php.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 172px; height: 113px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/ShqhpUACj-I/AAAAAAAAAB0/ZFcd95AvloQ/s320/pic.php.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339758039316729826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh Reza Nugraha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa hubungan ketiga kata di atas? Sekilas nampak tak ada kaitannya. Saat sendiri, yang ada hanya lamunan. Dari pada melamun, mending baca buku. Begitu? Tak terlalu benar. Namun setidaknya tiga kata tersebut cukup menggambarkan apa yang selama ini saya perbuat, saya alami, dan saya rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, saya pernah mendengar celotehan seorang kawan. Katanya, penulis itu tak punya banyak kawan. Karena sehari-hari, hidup sendiri dan menyendiri. Masa sih? Awalnya saya amat tidak sependapat. Bukannya penulis itu harus banyak relasi da jaringan yang luas. Ya, pastinya itu cuma celotehan. Tak perlu saya anggap serius.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama-lama, ada satu perasaan yang cukup mengganggu saya. Berhari-hari saya merasa sakit kepala, perut mual-mual, dan flu berat. Apa itu ada hubungannya dengan pernyataan kawan itu? Mungkin. Selain memang saya merasa itu gejala flu berat dan radang tenggorokan. Namun, ada sesuatu yang berkecamuk dan benak saya. Hingga saya sulit utarakan hal tersebut pada siapapun, termasuk pada sahabat saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin seperti dia. Ya, dia. Dia jadi penulis. Dan, saya harus jadi penulis. Banyak hal yang saya korbankan untuk dapat berkonsentrasi menjadi penulis. Saya malas berinteraksi dengan siapapun. Ada satu gejala sosial yang buruk yang saya alami. Pekerjaan, hanya mencari wangsit dalam perenungan yang panjang dan tatapan yang hampa. Saya malas bicara pada siapapun. Tak ada yang dapat mengganggu konsentrasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lupa. Beberapa hari mendekap dalam gelap dan dinginnya kamar. Mengurung diri dan menghindar dari kilauan dunia luar. Sehari-hari makan bubur tanpa kerupuk. Untung buburnya bubur Cianjur, bukan bubur Bandung. Hitam dan manis, memuakkan. Batuk-batuk layaknya tua renta. Lemas seperti habis membuang pelus sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kembali ke Bandung, saya masih menyisakan virus dan tensi darah yang rendah. Namun, saya belum puas. Saya masih iri pada dia. Dia seorang penulis. Saya harus lebih banyak melamun. Saya rajin mengeluarkan uang hanya untuk membeli buku. Dari emperan agar murah, hingga berburu ke Gramedia dan menghabiskan waktu berjam-jam disana untuk membeli satu buku murah, dan mencuri informasi dari buku-buku yang tak dapat saya beli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baca buku. Politik, pemikiran, sastra, hingga ekonomi Islam. Ada apa ini? Mendadak saya senang melahap eksemplar buku. Tapi tak satu pun dapat saya selesaikan. Tak satu pun membuat saya betah untuk dapat membuka satu persatu lembaran buku. Persetan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langsung saja tulis. Demikian pelajaran yang saya terima dari banyak orang. Orang biasa hingga penulis sekaliber nasional. Tulis-tulis-tulis. Gila! Saya harus habiskan tinta pulpen untuk menulis. Belum lagi lembaran-lembaran loose leave yang lama-lama membuat binder semakin tipis. Tangan dan telapaknya mengeras dan menyemut. Hanya untuk menyusun kata demi kata, frase demi frase hingga menjadi klausa dan kalimat sempurna. Mudah-mudahan bisa menjadis sebuah paragraf dan wacana yang bermakna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya gulung saja kertasnya. Ketika saya muak dengan apa yang saya kerjakan. Saya butuh laptop. Minimal komputer. Tapi menghitung hari rasanya membuat jemu dan rasanya hidup begitu hampa dijalani. Saya pergi menyendiri di pojok warnet atau rental. Tiba-tiba bubar semua apa yang sedang saya rasakan ketika hasrat itu begitu menggebu. Padahal saya begitu horny ingin menulis. Seperti dia, dia seorang penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, sekarang saya hanya melamun. Melamun dulu. Lihat saja, suatu saat saya bisa. Sekarang saya ingin menyendiri. Selayaknya orang yang punya penyakit sosial. Tak mau diganggu dan ingin sendiri. Tak apa mereka bilang apa. Saya jadi lupa. Saya punya kawan. Saya punya pacar. Pacar saya mungkin sedih melihat saya. Sudah beberapa waktu, saya dinginkan dia. Padahal saya cinta dia. Saya lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, saya ingin sendiri. Saya mau melamun dan melahap buku. Biar bisa kalahkan dia. Dia, seorang penulis.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-8230070027358687989?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/8230070027358687989/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/05/sendiri-lamunan-dan-buku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/8230070027358687989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/8230070027358687989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/05/sendiri-lamunan-dan-buku.html' title='Sendiri, Lamunan dan Buku'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/ShqhpUACj-I/AAAAAAAAAB0/ZFcd95AvloQ/s72-c/pic.php.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-7059549384545371094</id><published>2009-05-23T23:33:00.000-07:00</published><updated>2009-05-24T00:02:48.362-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Essay'/><title type='text'>Tulis!!!....dan Tulis!!!....</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shjw0HfbqaI/AAAAAAAAABs/1lJm_uPUdIs/s1600-h/n1331784212_30463525_7268278.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 198px; height: 149px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shjw0HfbqaI/AAAAAAAAABs/1lJm_uPUdIs/s320/n1331784212_30463525_7268278.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339282136402471330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Ferry Anugerah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Allah menciptakan manusia pada hakekatnya untuk beribadah kepadaNya. Dan ibadah sendiri sebagaimana yang kita tahu, ada ibadah yang mahdoh (vertikal) dan ada pula yang goir mahdoh (horizontal). Salah satu ibadah yang paling spesifik yang Allah perintahkan kepada kita adalah berdakwah. Yaitu menyampaikan dan menyeru manusia ke jalan yang benar, mengajak supaya manusia beribadah dan menyembah kepada Allah semata, yang tiada Tuhan selaiNya. Nah, dakwah itu ada yang disampaikan dengan lisan, tulisan, prilaku atau akhlak yang kita lakukan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik untuk ditelusuri adalah dakwah melalui pena atau tulisan. Berdakwah menggunakan media tulisan adalah salah satu terobosan yang sangat cerdas. Bagaimana seseorang yang kompeten dan mengetahui berbagai disiplin ilmu terutama ilmu Agama, bisa memanfaatkan media tulisan sebagai alat untuk bedakwah. Keutamaan tulis menulis itu sangat bermanfaat bagi umat. Bagaimana jadinya kalau para shohabat Rosul pada zaman dulu tidak menuliskan hadist-hadis yang Rosul keluarkan? pasti kita tidak akan mengenal Nabi kita sendiri. Bagaimana jadinya kalau Imam Al Gozali tidak menuliskan ilmu-ilmunya? pasti kita tidak akan kenal dengan yang namanya Ihya Ulumudin. Bagaimana jadinya kalau para ulama, filosof, ilmuan pada zaman dahulu tidak sempat menuliskan apa-apa yang diketahuinya? pasti kita tidak akan mengenal yang namanya peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang menarik sekali dunia tulis menulis ini. Karena aktivitas menulis banyak manfaatnya. Mulai dari manfaat yang sederhana sampai manfaat yang cukup lumayan. Seperti yang diungkapkan oleh seoarang penulis senior dari Timur Tengah Fatimah Marnisi, bahwa menulis itu bisa menyehatkan dan bisa menghaluskan kulit wajah serta bisa awet muda. Subhanallah, Dahsyat bukan? Mulai sekarang bagi kita gak ada alasan untul tidak menulis dan gak mau menulis. Sebagaimana yang dikatakan oleh seoarang Agus Ahmad Safei, bahwa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Menulis itu adalah ibadah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Menulis itu adalah rohmat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· menulis itu adalah aktualisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Menulis itu adalah panggilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Menulis itu adalah seni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Menulis itu adalah amanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Menulis adalah pelayanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Menulis adalah kehormatan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-7059549384545371094?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/7059549384545371094/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/05/tulisdan-tulis.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/7059549384545371094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/7059549384545371094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/05/tulisdan-tulis.html' title='Tulis!!!....dan Tulis!!!....'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shjw0HfbqaI/AAAAAAAAABs/1lJm_uPUdIs/s72-c/n1331784212_30463525_7268278.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-614378096461581182</id><published>2009-05-23T22:55:00.000-07:00</published><updated>2009-06-15T20:18:14.266-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak-sajak Fahmi Gentar'/><title type='text'>Sajak-Sajak Karya Fahmi Nur al-Mustaqim</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shjk3jWX1MI/AAAAAAAAABU/s11ky4b7MCA/s1600-h/Fahmi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 259px; height: 216px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shjk3jWX1MI/AAAAAAAAABU/s11ky4b7MCA/s320/Fahmi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339269001280738498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Takaran Asmara Sang Pejuang Cinta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah keyakinan tak dapat dibantahkan, bahwa dia adalah permaisuri britania yang aku idamkan!&lt;br /&gt;satu per empat rasa ini galau untuk dipertimbangkan, kenapa aku harus jatuh cinta padanya!&lt;br /&gt;ini memang anugrah, walau anugrah yang menyesakan jiwa!&lt;br /&gt;menyesakan dala artian aku tidak bisa berbuat apa2 untuk mengejarnya!&lt;br /&gt;aku terlampau jauh berada di pedalaman belantara kejatuhan, dan dia tinggal di awan diatas kota roma!&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;indah....indah.. walaupun kadang terluka, terluka jika aku membayangkan dan aku jatuh dalam bayangannya, dan kemudian tertimpa timah air mata karna dia tk dapat meliriku disaat mata ini memandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setengah hati jika ku biarkan diri ku ini terbuai, dan larut terus dalam buaian cinta yang entah berada dimana.&lt;br /&gt;tiga perempat jiwa kadang ku pasrahkan dalam lubang hitam monitor kotor dlam ruang rinduku!&lt;br /&gt;ruang rindu yang terus menyimpan rahasia alam mimpi ini!&lt;br /&gt;ruang rindu yang tak pernah memberikan kabar baik untuku.&lt;br /&gt;ruang rindu yang ada dalam hatinya hanya seberkas kertas kosong, yang terlipat segitiga!&lt;br /&gt;dan ruang rindu dihatiku yang terbawa arus kemudian tenggelam didasar nyeri. maka pergilah semua rinduku, dan yang ada hanya hampa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kamuflase Cinta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama memang terasa indah saat kita pertama memandang, dan saat suka tumbuh menjadi cinta!&lt;br /&gt;pertama memang terasa yakin bahwa ini anugerah di saat kita tak bisa tidur karena teringan kepadanya.&lt;br /&gt;pertama memang terasa manis saat kita tahu bahwa dia tidak memiliki atau tidak dimiliki.&lt;br /&gt;pertama memang terasa renyah hati ini tatkala dia yang kita cintai tersenyum pada kita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akhirnya benih siksa pun datang tatkala cinta kita bertepuk sebelah tangan&lt;br /&gt;akhirnya pandangan indah dan manis pun sirna tatkala hubungan sudah terjalin dan putus ditengah jalan!&lt;br /&gt;akhirnya ilalang putih berganti menjadi rumput kering, dmana kita tahun bhwa yang kita cintai tidak cinta pada kita, dan mencintai orang lain.&lt;br /&gt;akhirnya kita pun sadar bahwa kita tak pantas untuk mencintai dia.&lt;br /&gt;akhirnya kita mengerti bahwa takdir kita bukanlah dengannya.&lt;br /&gt;dan akhirnya kita sendri mengakui bahwa cinta tak harus memiliki namun tetaplah sakit untuk dirasakan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menangis dan Tertawa di Bulan Mei&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngantuk jika aku menjalani hari di bulan mei!, ngantuk karena melawan arus yang tak pernah mengalur pelan diantara jemari manisku!&lt;br /&gt;lelah, yang aku rasakan di saat rambu-rambu kehidupan tak memapahku dalam hal kebhagiaan dan kasih syng!&lt;br /&gt;tersenyum ya aku memang tersenyum dalam kesendirian dan kesalahanku dalam mengutarakan cinta!&lt;br /&gt;cinta yang tak pernah terpendam dan selalu aku utarakan, kepada dia, kepada keluarga, kepada pedagang, kepada supir, dan kepada orang yang masih hidp atau sudah mati.!&lt;br /&gt;jika diingat aku selalu tertawa, betapa tololnya diriku yang tak punya harga diri didepan seorng wanita!!!!!!!! HAHAHAHA, kemudian lingkaran tajam menjeratku hingga aku pingsan dan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tangisan Anak dalam Sangkar Bulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan terlihat durja dalam keheningan Verishotike,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untaian gairah mega dalam lingkaran pelangi hanya jadi stigma dan apriori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun ada tawa saat bintang dari bima sakti berjumpa dengan surya andromeda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ternyata  tawa dari seorang anak malam yang tak bisa memejamkan mata karna penuh air mata!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sang anak tertawa karna menderita, menderita tak punya orang tua, tak punya apa-apa!&lt;br /&gt;langit Rushem berbisik pada bulan!, dan menyuruh sang bulan menghibur si anak malang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bulan pun menuruti, dia mendekat pada sang anak dan membawanya pulang diantara liur mozaik jagad raya!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;labirin hati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku inigin semua makhluk alam semesta ini tahu bahwa kau adalah mozaik berlian dalam labirin hatiku!&lt;br /&gt;semakin dalam bila engkau masuk dalam labirin hatiku, maka semakin engkau tersesat dalam terangnya cinta.&lt;br /&gt;alangkah malang jika kau terus berputar mencari jalan keluar, karna engkau bisa saja pingsan dalam keharuman dan keindahan mawar di sekelilingmu yang aku simpan untuk kupersembahkan untukmu.&lt;br /&gt;seandainya kau bisa keluar dari labirin cintaku ini maka kau akan bernafas lega, karna kau bisa masuk lagi kedalamnya, dan membaca kembali seribu puisi dan sajak yang aku cipta untukmu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-614378096461581182?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/614378096461581182/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/05/sajak-sajak-karya-nur-al-mustaqin.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/614378096461581182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/614378096461581182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/05/sajak-sajak-karya-nur-al-mustaqin.html' title='Sajak-Sajak Karya Fahmi Nur al-Mustaqim'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shjk3jWX1MI/AAAAAAAAABU/s11ky4b7MCA/s72-c/Fahmi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-8533518893097073690</id><published>2009-05-23T18:55:00.000-07:00</published><updated>2009-05-23T23:43:51.869-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Resensi Buku "Latahzan For teens Love"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/ShipuO8EJSI/AAAAAAAAABM/4OvAnfKj874/s1600-h/Buku-Saya.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 215px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/ShipuO8EJSI/AAAAAAAAABM/4OvAnfKj874/s320/Buku-Saya.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339203969996825890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Latahzan Forr Teens Love&lt;br /&gt;Penulis : Sabiel el-Ma'rufie alias Sukron Abdillah&lt;br /&gt;Penerbit : Dar!Mizan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, alhamdulillah. Akhirnya, buku Kang Sukron Abdillah terbit juga. Kata Kang Ukon, buku ini ditulis, "karena kita adalah manusia yang punya rasa cinta. Dan, ternyata cinta kalau tidak kita artikan secara benar dan tepat, akan membahayakanmu. Cinta, dalam buku ini adalah cinta universal, yang melintasi batas kemanusiaan, kemakhlukan, dan ketuhanan. Ternyata, persangkaan kita terhadap cinta selama ini, tidak selamanya baik. Tapi, tak juga selamanya jelek. Pokoknya, baca aza deh, kisah-kisah para pecinta dalam buku ini untuk menemukan kebahagiaan cinta sejati."&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;…dan mungkin saja kamu membenci sesuatu yang sesungguhnya menjadi sumber kebaikan bagimu, atau mungkin saja kamu mencintai sesuatu yang sesungguhnya merupakan sumber kehancuran bagimu. (QS. Al-Baqarah [2] : 216).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menderita karena patah hati? Sengsara karena kasih tak sampai? Rapuh karena memendam rindu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan salahkan cinta. Sebab cinta pada hakikatnya adalah damai dan bahagia. Jika kita kemudian terpuruk, mungkin salah kita yang kurang mengenal cinta. Lihatlah, pujangga cinta Kahlil Gibran yang justru melahirkan syair-syair indahnya begitu mengalami kisah kasih tak sampai. Agar tak dibutakan dan dimabuk cinta, kita perlu pemahaman dasar dari makna cinta itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, buku La Tahzan for Teen’s Love ini akan mengubah kesedihan cintamu menjadi energi cinta yang bisa membangun dirimu. Bahkan, kamu juga bisa menciptakan kepribadian yang memukau mata. Kelak bakal tertanam di hati kamu bahwa cinta itu tak seperti yang dipahami kebanyakan orang. Ingat, jangan pernah bersedih karena urusan cinta yang belum kamu kenali!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-8533518893097073690?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/8533518893097073690/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/05/resensi-buku-latahzan-for-teens-love.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/8533518893097073690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/8533518893097073690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/05/resensi-buku-latahzan-for-teens-love.html' title='Resensi Buku &quot;Latahzan For teens Love&quot;'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/ShipuO8EJSI/AAAAAAAAABM/4OvAnfKj874/s72-c/Buku-Saya.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-3073172243170961332</id><published>2009-05-23T18:49:00.000-07:00</published><updated>2009-05-23T23:54:55.744-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Hancurnya Cinta Saat Diungkapkan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shju7HWOp1I/AAAAAAAAABc/2SqyJaQOy_M/s1600-h/n1667816458_126543_7292.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 264px; height: 201px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shju7HWOp1I/AAAAAAAAABc/2SqyJaQOy_M/s320/n1667816458_126543_7292.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339280057599698770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Cerpen DASAM SYAMSUDIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gendang bertalu-talu disusul rentetan alat musik gamelan lain mendendangkan nyanyian khas Sunda di Acara Ulang Tahun Teater Awal SMA 2 Tarogong-Garut. Para alumni dan anggota Teater Awal berjejal meramaikan acara, bernyanyi, bersandiwara, berteriak-teriak, dan bernostalgia. Acara semakin ramai, menghanyutkan para alumni dan anggota Teater, kebahagiaan menyelimuti mereka. Semua bahagia di Teater Awal. Kecuali Jumril, Remaja usia 20 tahun Mahasiswa Psikologi UIN SGD Bandung, alumni Teater Awal.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di atas bangku panjang di depan kelas Jumril terlihat gelisah, tangan kanannya mencet-mencet tombol HP tak karuan, berusaha menghilangkan kegelisahannya. Terkadang mendengarkan musik mp3, nonton video, SMS-an, teleponan, main game. Sekali-kali ia melirik jalan di depan sekolahnya. “Belum datang juga” nada tertahan keluar dari mulutnya, Jumril melirik tangan kirinya yang masih memegang erat setangkai bunga mawar putih. Di samping kananya tergeletak sebatang cokelat Silver Queen, dua lembar Sajak Ungkapan Cinta, dan gitar akustik merk Alergo warna cokelat muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, kegelisahan Jumril bukan kali ini saja. Tapi sejak seminggu kemarin sebelum acara Ulang Tahun Teater Awal ia sudah gelisah. Atau dua tahun sebelumnya.&lt;br /&gt;Semenjak dua tahun yang lalu, ketika ia masih duduk di bangku sekolah SMA 2 Tarogong, ia mencintai seorang gadis, adik kelasnya yang bernama Rika. Anak teater Awal juga. Dan, selama dua tahun itu ia menahannya, membiarkan gadis itu menjadi curahan kerinduannya. Juga, menjadi alasan ia menolak rayuan gadis lain. Memang, selama dua tahun dalam kesendiriannya, banyak gadis yang menyukainya—terlepas cantik dan tidaknya—gadis-gadis itu di tolaknya, dan ia menganggap mereka sebagai adik, atau teman, atau, ada juga yang ia anggap kakak. Mungkin gadis itu terlalu tua baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu sebelum acara Ulang Tahun Teater Awal, Jumril juga di liputi rasa gelisah. Gelisah, bagaimana mengungkapkan perasaan cinta pada Rika. Gadis belia usia 18 tahun, mahasiswa Pendidikan, kuliah di UPI. Hari-hari ketika mencari ide atau metode cara mengungkapkan cinta pada Rika, Jumril sering bolos kuliah. Malah, ia kerap bercokol di warnet, curhat dengan teman, berguru pada Playboy, membaca majalah Gaul, semua ia lakukan untuk mencari metode mengungkapkan cinta.&lt;br /&gt;Selain itu, ia juga sering mencari inspirasi dari west Love song, seperti: My Chemical Romance, Avenged Sevenfold, Bullet for My Valentine, Mega Death, System of Down, Slipknot, Yellow Card, Mr. Big, With Lion, Air Supply, Silver Heart, Steal Heart, Aerosmith, Rolling Stones, Scorpion, Metalicca, Chaos UK, Red Hot Chili Pappers, Blink 182, Angel and The Air Wave, The Cranberies, Incubus, Queen, Hoobastank, Audioslave, Linkin Park, Britney Spears, Avril Lavigne, Sublime, Sum 41, U2, Iron Miden, Muse, Simple Plan, Limbizkit, Creed, Maroon 5, Toni Braxton, Green Day, Fall Out Boy, Westlife, dan masih banyak lagi. Semua lagu cinta dari penyanyi solo dan band itu di hayati untuk di ambil kesimpulannya. Oh, dari band lokal juga ia mencari inspirasi, yakni Kangen Band dan Radja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain lagu-lagu, ia juga mencari inspirasi dari film-film tentang cinta, seperti: Apa Artinya Cinta, I’m Falling in Love, Eiffel, I’m in Love, Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi, Kuch-Kuch HoTa Hai, Kahona Piare Hai, Mohabatain, Romeo and Juliette, Twilight, Titanic, Love Pobia. Juga, ia mencari inspirasi dari sinetron, seperti: Cinta Fitri Season 3, Hareem, Melati Untuk Marvel, Muslimah, dan sinteron lainnya. Terkadang Jumril juga menyimak Gosip Infotaitment, mungkin ada inspirasi di sana.&lt;br /&gt;Semua itu dikerjakannya dalam waktu satu minggu. Yups, apa yang diusahakan untuk mencari metode mengungkapkan cinta telah ia dapatkan. Hasilnya, ya itu, sajak cinta 2 lembar, setangkai bunga mawar putih, satu cokelat Silver Queen, dan Gitar kesayangannya merk Alergo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HP Jumril berdering.&lt;br /&gt;“cbntr lg q smpe… “ SMS dari Rika.&lt;br /&gt;Jumril mulai sumringah walau agak tegang. Bajunya mulai di rapikan, bongkahan jambulnya di usap-usap, mulutnya komat-kamit mengucapkan doa. Tegang menunggu Rika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Daun bergoyang-goyang dibelai angin, malam semakin kelam dan dingin, genderang masih bertalu-talu. Jumril masih setia menunggu. Angin laut menghamburkan aroma harum mawar ke indra penciuman Jumril. Di depannya sesosok gadis cantik, putih, seksi dan rambut hitamnya berayun-ayun berjalan anggun mendekati Jumril. Jumril gerogi. Jantungnya berdegup kencang, pipi cokelat sawo matangnya memerah, semerah saga, hatinya berbunga-bunga. Satu langkah di depannya, Rika berdiri menghadapnya, ia tersenyum manis pada Jumril menunjukan lesung pipinya yang aduhai. Jumril dadanya akan meledak, gerogi banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tatapanya lembut wajah Rika. Jumril berusaha mengendalikan sarafnya agar menggerakan tangan kananya yang mengepal setangkai bunga dan cokelat. Cintanya membuat ia luluh, Jumril tak berdaya melihat senyum Rika. Jumril tiba-tiba bertekuk lutut, posisi romantis memberi bunga pada pujaan hati, diulurkan tangan kananya. Rika menyambut dengan baik, ia pun mengulurkan tangan kananya yang putih bercahaya menyambut Jumril. Namun, raut wajah Rika tidak menunjukan sisi romantisme, ia terkesan buru-buru dan sedikit heran dengan ulah Jumril.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya. Tanpa basa-basi Jumril memberikan setangkai bunga dan cokelat. Lalu mengungkapkan perasaan cintanya, kerinduan akan dirinya selama dua tahun, juga harapannya menjadi kekasih Rika. Tapi, sayang sungguh sayang, malang alang kepalang dengan mentah Rika menolak Jumril. Bahkan, Jumril dibentak dan dikecuti. Kedatangan Rika bukan sengaja menemuinya, tapi terpaksa menemuianya, sebab Jumril punya utang padanya, dan Rika mau menagaihnya. Tahu dirinya di tolak. Jumril menjerit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rika pergi begitu saja meninggalkan Jumril setelah menolaknya dengan kasar, semua pemberiannya ditolak. Jumril masih tak percaya, jantungnya berhenti berdetak, darahnya membeku, saraf-sarafnya mati, matanya melotot, mulutnya menganga, hatinya lenyap. Jumril hancur perasaannya. Karena tidak bisa menahan sakit hatinya, Jumril berteriak sekerasnya. Amat-teramat keras, sampai-sampai langit seolah menjerit. semua yang ada di sekeliling Jumril seakan hancur; sekolahnya ambruk berantakan, pohon-pohon bertumbangan, tanah berguncang keras dan retak-retak, gunung-gemunung meletus, lautan tumpah, bintang-bintang saling beradu dan meledak dahsyat, bangunan-bangunan di kota Garut meledak berdentuman bagaikan rentetan petasan, mega berkumpul, menghitam dan menciptakan tornado raksasa menghamburkan binatang-binatang ke udara, melemparkan segala-sesuatu menghancurkannya menjadi puing-puing. Ya, itulah perasaan Jumril, ia merasakan segala sesuatu seakan hancur berkeping-keping sebagaimana hati dan perasaanya. Seolah malaikat maut mencabut kehidupan dari dunia ini, manusia, hewan, tumbuhan, semuanya binasa. Jumril terkulai lemas. Hatinya mati, alam ikut menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia masih tidak percaya penantian dua tahuannya akan menjadi neraka baginya. Lukanya terasa begitu besar, sulit untuk menanggungnya, Jumril tak kuasa menahannya. Jumril lari kencang menembus jalan raya, berlari melawan arah laju kendaraan. Matanya melirik-lirik mobil seakan memilih satu mobil untuk ia relakan menabrak dan melindas dirinya. Namun, ia sepertinya mengurungkannya kembali: mobil teronton, bus, truk dan kontainer terlalu besar, jika menabraknya ia gepeng. Ia kembali berlari ke kawanan mobil angkot, ia pun mengurungkannya lagi, bempernya terlalu tajam, ia bisa terpotong-potong jika ditabraknya. Jumril berusaha meyakinkan dirinya memilih mati. Semua itu gagal, ia mau mati tapi tidak sanggup menahan deritanya. Akhirnya Jumril kembali ke SMA 2 Tarogong, berlari sekencangnya, matanya terpejam, mulutnya menjerit-jerit mengutuki dirinya dan Rika yang menyakitinya. Ia terus lari, lari terus dengan kencang. Dan, ‘BUKKK’. Jumril pingsan. Nabrak pohon beringin.&lt;br /&gt;Jumril terkulai tak berdaya, jasadnya terkapar, matanya melotot, mulutnya menganga, lidahnya menjulur keluar, bongkahan benjol tampak di jidatnya. Setidaknya, lebih baik ia pingsan dari pada mengingat kejadian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Tangan Berjemari halus meraba-raba wajah Jumril, mengusap-usap bongkahan benjolnya, menampar-nampar lembut pipinya berusaha menyadarkan. Pandangan Jumril berkunang, samara-samar ia melihat wajah di hadapanya. Tiba-tiba, mata Jumril tambah melotot seperti akan loncat. Jemarinya menggisik-gisik matanya. Dan, Yups, bidadari cantik jelita berdiri di hadapannya, menyombongkan keindahan raut wajah dan hidung bangirnya. Jumril masih heran mengapa ada gadis cantik berwajah bulat dengan rambutnya yang terurai lembut berdiri di hadapannya. Tapi sepertinya ia juga tidak begitu mempedulikan mengapa gadis itu tiba-tiba ada. Senyum mulai mengembang dari bibir Jumril. Kehadiran gadis itu agaknya melupakan kesedihan Jumril.&lt;br /&gt;Setelah benar-benar sadar, Jumril dihinggapi ketenangan, ia mengenal gadis ini.&lt;br /&gt;Karunia mengalir di hatinya. Gadis cantik pun bersabda,&lt;br /&gt;“Jum… bisakah kau menemaniku malam ini. Menghadiri acara Teater Awal kita”&lt;br /&gt;Ah, aroma nafas gadis ini wangi bagaikan bunga Kasturi. Ajakannya begitu lembut dan mempesona. Jumril tidak percaya, dadanya akan berdentum keras. Ia bahagia.&lt;br /&gt;“Dengan senang hati, Cecilia” Jumril menyambutnya.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17 April 2009&lt;br /&gt;Di tulis di Sukron Center (SC),&lt;br /&gt;Ide ini lahir saat menyaksikan kesakithatian sahabat di tolak seorang gadis.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-3073172243170961332?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/3073172243170961332/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/05/hancurnya-cinta-saat-diungkapkan.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/3073172243170961332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/3073172243170961332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/05/hancurnya-cinta-saat-diungkapkan.html' title='Hancurnya Cinta Saat Diungkapkan'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shju7HWOp1I/AAAAAAAAABc/2SqyJaQOy_M/s72-c/n1667816458_126543_7292.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6286101825999887322.post-8019078577303757271</id><published>2009-05-23T17:52:00.000-07:00</published><updated>2009-05-23T23:32:57.898-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Keagamaan'/><title type='text'>Pluralisme Islam dan Tantangannya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="post-author vcard"&gt; &lt;span style="font-weight: bold;" class="fn"&gt;Iu Rusliana,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="date-header"&gt;Sabtu, 2009 Februari 07&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="post-author vcard"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="post-author vcard"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Semula, para pemeluk agama hidup dalam komunalitas beragama yang sama. Seiring dengan perkembangan peradaban manusia, kehidupan bersama dengan pemeluk agama lain adalah keniscayaan. Pemeluk suatu agama berada dalam masyarakat yang menganut agama berbeda satu sama lain. Kenyataan ini dapat kita lihat di kota-kota besar.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pluralitas agama menjadi keniscayaan dan merupakan sunnatullah. Karenanya diperlukan sikap teologis yang sesuai dengan kepluralan situasi keberagamaan yang ada. Dalam hal ini, pluralisme agama dapat dijadikan sebagai teologi alternatif. Pluralisme adalah keterlibatan aktif terhadap kenyataan kemajemukan yang melahirkan sikap toleran. Pluralisme berbeda halnya dengan relativisme. Relativisme melahirkan keyakinan bahwa semua agama benar. Sementara itu, pluralisme agama menegaskan keimanan sendiri, sembari menghargai keimanan yang lain ditengah beragamnya keyakinan teologis. Pluralisme mendorong tumbuhnya toleransi antar umat beragama. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam diskursus teologi, konsep pluralisme agama paling tidak ada model yaitu pluralisme realistik dan pluralisme regulatif. Pluralisme realistik adalah pandangan bahwa semua agama merupakan jalan yang berbeda-beda, atau merupakan berbagai versi, dari suatu kebenaran yang sama. Pluralisme regulatif merupakan pandangan teologis yang menyatakan bahwa sementara berbagai agama memiliki nilai-nilai dan kepercayaan masing-masing, mereka mengalami suatu evolusi historis dan perkembangan ke arah suatu kebenaran bersama, hanya saja kebenaran bersama tersebut belum lagi terdefinisikan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebagai umat beragama yang mayoritas, sudah seharusnya umat Islam menegaskan konsep teologis yang ramah dan menghargai agama lain. Umat Islam harus merumuskan dan melandaskan konsep hubungan antar umat beragama dengan pluralisme Islam. Term pluralisme Islam dimaknai sebagai konsep teologis yang menegaskan keyakinan akan kebenaran Islam, sembari menghargai keyakinan teologis yang lain ditengah beragamnya keyakinan teologis yang ada dan tumbuh di dunia. Pluralisme Islam disandarkan kepada ajaran al-Qur’an dan pengalaman historis di jaman Nabi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;Prinsip-Prinsip Pluralisme Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Adnan Aslan dalam karyanya yang berjudul “Religious Pluralism in Christian dan Islamic Philosophy; The Thought of John Hick and Seyyed Hossein Nasr” menjelaskan beberapa prinsip bagi konsep pluralisme Islam. Pertama, universalitas dan keragaman wahyu Tuhan kepada manusia ditegaskan Islam secara eksplisit mendukung universalitas wahyu Tuhan, yang memainkan peran penting dalam pemahaman Islam akan agama lain. Tuhan dalam al-Qur’an bukan hanya Tuhan kaum muslimin, tetapi Tuhan sekalian alam. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tuhan semua manusia tidak akan membiarkan bangsa manapun dalam kegelapan, sebaliknya Dia menerangi mereka dengan mengutus para rasul (QS 10:47, QS 16:36, QS 35:24). Meskipun demikian, Tuhan tidak menyebutkan secara keseluruhan para nabi dan rasul itu dalam al-Qur’an (QS 40:78). Semua rasul itu berbicara tentang realitas yang sama dan menunjukkan kebenaran yang sama, pesan yang mereka sampaikan tidaklah identik dalam bentuk teologisnya. Hal ini terjadi karena ajaran tersebut disampaikan dengan menggunakan “bahasa” kaum tersebut. Maksudnya, ajaran tersebut telah “dilokalkan” sedemikian rupa sehingga selaras dan bisa diterima oleh budaya yang menjadi tujuannya. Seorang rasul tentu harus dapat berbicara dalam konteks kultural umat yang diberi pesan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kedua, keragaman ras, warna kulit, komunitas dan agama dipandang sebagai tanda rahmat dan keagungan Tuhan yang ditunjukkan melalui makhluk-Nya. Dengan demikian, kemajemukan adalah sesuatu yang bersifal alamiah. Kemajemukan juga menegaskan kondisi manusia yang terbatas. Pengakuan akan kemajemukan merupakan bentuk pengakuan pada keterbatasan manusia, sebaliknya menapikan kemajemukan merupakan sikap yang mengingkari sunnatullah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketiga, setiap agama yang diwahyukan dapat disebut Islam, jika dipandang sebagai “sikap pasrah kepada Tuhan” (makna harfiah Islam). Al-Quran sendiri mengemukakan gagasan ini dengan menyatakan bahwa Islam bukanlah sekedar sebuah nama yang diberikan kepada suatu sistem keyakinan atau agama, tetapi juga nama tindakan pasrah kepada kehendak Tuhan (QS 3:67, QS 2:128).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Keempat, Islam mengajarkan bahwa menganut Islam harus didasarkan pada ketulusan, bukan paksaan (QS 2:256, QS 18:20, QS 10: 99). Apabila Islam disampaikan dengan kekerasan, jelas sangat bertentangan dengan pengertian Islam itu sendiri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kelima, pengertian Islam yang berarti sikap pasrah kepada kebenaran, menyebabkan tafsir atas ayat yang menyatakan bahwa agama yang diridlai oleh Allah adalah Islam harus dipahami bukan dalam pengertian Islam sebagai kelompok agama, tetapi sebagai ajaran yang ada semenjak Adam hingga Muhammad yang menjadi penyempurna risalah Tuhan kepada manusia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Keenam, apabila kebenaran dan kebaikan hanyalah milik kaum muslimin dalam pengertian ekslusiv, maka bagaimana menghukumi kebaikan yang dilakukan oleh non-muslim. Pada problem “kebaikan sosial” inilah, teologi ekslusiv mengalami keterbatasan ketika harus menjelaskan mengenai kebaikan yang dilakukan oleh non-muslim yang mungkin dirasakan juga oleh kita sebagai muslim. Padahal dengan jelas Allah dalam al-Qur’an menyatakan bahwa setiap kebaikan sebesar atompun akan memperoleh balasan (QS 99:7-8). Apakah kebaikan yang dilakukan oleh non-muslim bukan merupakan kebaikan? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kebenaran yang sesungguhnya adalah Tuhan itu sendiri, sehingga tidak ada keraguan bagi kebenaran Tuhan. Klaim kebenaran mutlak merupakan bentuk pengingkaran atas mutlaknya kebenaran Tuhan. Manusia dengan segala keterbatasannya hanya memiliki secuil kebenaran dan diwajibkan untuk berusaha mendekati sumber kebenaran itu sendiri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bagi kaum muslimin yang kesehariannya hidup bersama non-muslim dan merasakan kebaikan dari mereka, bukankah akan melahirkan problem teologis. Hal ini sangat dirasakan oleh Farid Esack yang kemudian menulis “Qur’an, Liberation and Pluralism. An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity Against Oppression”. Bagi Esack, identifikasi kafir bagi non-muslim menjadi kabur, ketika ia bersama non-muslim di Afrika berjuang melawan politik apharteid. Apakah mereka layak disebut kafir hanya karena berbeda agama, sementara banyak kaum muslimin yang saat itu menjadi penjilat dan berpihak kepada pemerintah apharteid. Sementara itu, pengertian teologis tentang iman, kafir dan yang lainnya kita peroleh dari pemikiran kalam klasik yang juga tumbuh dalam pergolakan politik umat Islam saat itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sifat dari suatu kebaikan dan kebenaran adalah universal. Kebaikan dan kebenaran hanya dapat dirasakan oleh nurani. Kebenaran dan kebaikan tidak mengenal primordialitas agama atau ras.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketujuh, berkaitan dengan problem keselamatan. Dalam hemat penulis, konsep keselamatan merupakan konsep teologis yang seharusnya diyakini secara dualistis. Sebagai seorang muslim, kita wajib meyakini sedalam-dalamnya, bahwa Islam adalah agama yang menyelamatkan. Disisi lain, persoalan keselamatan di dalam agama lain adalah urusan Tuhan. Manusia tidak memiliki pengetahuan apakah mereka yang berbeda agama akan memperoleh keselamatan. Bahwa kita meyakini hanya agama kitalah yang akan memberikan keselamatan, memang demikianlah seharusnya keimanan kita. Sementara itu, persoalan keselamatan pemeluk agama lain sebaiknya “ditunda” dan diserahkan kepada Tuhan. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan bagi seluruh agama, rasa dan golongan umat manusia yang ada dimuka bumi ini semenjak Adam hingga kiamat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Salah satu sifat khas al-Qur’an adalah menghindari membuat penilaian umum atas kelompok masyarakat tertentu. Menjadi seorang muslim bukanlah jaminan untuk memperoleh keselamatan. Di samping beriman, seorang muslim harus berbuat baik dan juga berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan kehidupan moral yang sempurna. Muhammad yang jelas-jelas telah dima’shum, secara terus menerus selalu meningkatkan nilai ibadahnya. Al-Qur’an dalam beberapa ayatnya memuji kesalehan kaum Ahli Kitab, disisi lain, mengkritik kaum Ahli Kitab. Demikian juga hal ini diarahkan kepada kaum muslimin. Dari sini dapat dijelaskan bahwa konsep keselamatan tidak harus menjadi konsep teologis ekslusiv, karena keselamatan hanya mungkin diperoleh dengan semaksimal mungkin mempertahankan keimanan dan meningkatkan ibadah baik yang berdimensi sosial (horizontal) maupun vertikal. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;Beberapa Tantangan bagi Pluralisme Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tantangan yang bersifat internal datang dari kalangan Islam radikal. Radikalisme Islam dalam pengertian keyakinan tauhid adalah kemutlakan bagi setiap muslim. Namun, ketika jalan kekerasan yang dipergunakan sebagai ekspresi iman, hal tersebut jelas bertentangan dengan makna dari Islam itu sendiri. Islam adalah ajaran yang dalam pengamalannya menimbulkan keselamatan dan kedamaian baik bagi penganutnya maupun yang ada disekelilingnya. Islam radikal adalah salah satu gerakan dalam Islam yang sering menggunakan cara-cara kekerasan dalam mengekspresikan keimanannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tantangan lain datang dari Islam politik. Hal ini terjadi karena, isu Islam sering dijadikan sebagai komoditas politik untuk menguntungkan kelompok tertentu. Friksi antar sesama umat Islam sering terjadi karena perbedaan pilihan politik. Pengalaman pada pemilihan umum beberapa waktu yang lalu sebagai contohnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kecenderungan sebagian umat Islam yang belum mampu mengapresiasi perbedaan diantara sesama umat Islam adalah salah satu problem yang masih tumbuh dikalangan umat Islam. Masih kurangnya upaya saling menghargai ditingkat grass root umat terhadap perbedaan pandangan keagamaan merupakan problem mendasar dalam hubungan antar umat seagama. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selain itu, tantangan yang dihadapi oleh pluralisme agama adalah sejarah panjang saling tidak percaya antara Islam dan Kristen. Isu keagamaan yang sangat mengganggu antara umat Islam dengan umat Kristiani adalah isu kristenisasi. Sebalik umat Kristiani tetap hidup dalam baying-bayang isu Islamisasi. Sebagai agama yang sama-sama memiliki klaim universalitas ajaran, memang sangat tidak bisa dihindari ketidakpercayaan satu sama lainnya. Kecurigaan akan Islamisasi dan Kristenisasi seakan tidak akan terselesaikan sampai kapanpun. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berbagai bentuk ketidakadilan yang dilakukan oleh negara adi kuasa atas umat Islam dan perlakuan Israel atas Palestina diyakini sebagai akar tumbuhnya radikalisme agama. Salah satu faktor tumbuhnya radikalisme agama adalah ketidakadilan. Selama ketidakadilan masih ada, maka radikalisme agamapun akan tumbuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pluralisme Islam, demikian penulis menyebutnya, harus dipandang sebagai pandangan teologis yang berusaha untuk menegaskan keimanan yang dimiliki dan menghargai keyakinan teologis yang lain ditengah keragaman keyakinan teologis yang ada. Berbagai tantangan yang ada seyogyanya tidak menjadi penghalang bagi pengembangan konsep pluralisme dikalangan umat Islam. Berbagai tantangan tersebut harus diminimalisir dengan terus meningkatkan ukhuwah Islamiyah dan wathaniyah dikalangan umat Islam. Umat Islam sesuai dengan sifatnya, harus mampu menjadi rahmat bagi seluruh alam. Wallahu’alam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6286101825999887322-8019078577303757271?l=penaimmuin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penaimmuin.blogspot.com/feeds/8019078577303757271/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/05/pluralisme-islam-dan-tantangannya.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/8019078577303757271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6286101825999887322/posts/default/8019078577303757271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penaimmuin.blogspot.com/2009/05/pluralisme-islam-dan-tantangannya.html' title='Pluralisme Islam dan Tantangannya'/><author><name>Pena IMM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04089567711080011825</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='14' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_8QI551OjeVM/Shic4TCVR7I/AAAAAAAAAAM/wVl792SLVOw/S220/LogoIMM.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
